Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Siapapun Ketua PW NU NTT ke Depan, Dia Harus Tetap Jaga 3 Warisan Ulama NU

0 154

KORANTIMOR.COM – KUPANG – Siapa pun yang terpilih jadi Ketua Pengurus Wilayah (PW) Nahdatul Ulama (NU) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ke depan, harus mampu menjaga dan mempertahankan 3 hal yang menjadi warisan utama para ulama NU, demi eksistensi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila.

Ketua PW NU NTT, Dr., KH Jamal Ahmad memberikan sambutan saat pembukaan Konferensi Wilayah X Nahdatul Ulama NTT pada Jumat (04/09/2921)

Demikian disampaikan Ketua PW NU Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Jamaludin Ahmad dalam sambutannya saat pembukaan Konferensi Wilayah Nahdatul Ulama X NTT pada Jumat (03/09/2021) di Aulah Asrama Haji, Oebufu Kupang.

“Hal pertama yang harus tetap dipegang teguh siapa pun pemimpin (Ketua PW NU NTT, red) kedepan ialah mempertahankan semangat Islam yang moderat, Islam yang Al Sunnah Wal Jamaah, Islam yang rahmat lil alamin,” jelasnya.

Menurut Jamaludin Ahmad, di banyak media sosial hari ini, ditemukan adanya kaum muda yang menebarkan narasi-narasi bahwa apa yang NU jalani saat ini (NU dengan semangat Islam yang moderat, Islam yang Al Sunnah Wal Jamaah, red) adalah sesuatu yang salah dan harus dirubah.

Ia menegaskan, narasi atau pemikiran tersebut harus dilawan, karena NU memiliki platform dimana para ulama pendahulu sudah mewariskan Islam yang rahmatin alamin atau Islam yang membawa rahmat kedamaian bagi sesama, Islam yang moderat, Islam yang santun, dalam berbagai implementasinya.

Jamaludin Ahmad pun mengingatkan, agar jangan sampai generasi bangsa, khususnya Jamaah NU yang ada di NTT terjebak dalam narasi kelompok-kelompok radikal untuk membangun negara Khilafah.

“Ini tidak bisa. Sebagai kader NU, kita pertaruhkan segala-galanya untuk menjaga NKRI,” tegasnya.

Hal kedua menurut Kepala Dinas Sosial NTT itu, siapapun yang memimpin PW NU NTT kedepan, harus mempertahankan NKRI berdasarkan Pancasila.

“Bagi NU, bentuk negara saat ini (NKRI) adalah final, karena ulama sudah memperhatikan situasi kondisi serta realitas empirik dalam muktamar 1936 di Banjarmasin. Mereka sama-sama merumuskan sebuah bentuk negara yang disebut Darusalam atau negara bagi semua orang, bukan negara Khilafah. Oleh karena itu bagi NU, NKRI, Panca Sila, dan UUD1945 adalah harga mati,” bebernya.

Hal ketiga, lanjut Jamaludin Ahmad, pemimpin NU NTT kedepan harus ikut bertanggung jawab untuk mensejahterakan bangsa ini.

“Konferensi Wilayah X Nahdatul Ulama NTT harus bisa merumuskan sesuatu yang produktif bagi kesejahteraan kehidupan berbangsa. Jangan sampai menghasilkan program yang tinggi-tinggi tapi tidak mampu dilaksanakan,” bebernya.

Dari sebab itu, kata Jamaludin Ahmad, diharapkan Calon Ketua NU NTT kedepan menghasilkan program-program yang kongkrit dengan memperhatikan realitas dan fenomena yang ada di masyarakat.

Sekretaris Jenderal PB NU, Helmy Faishal Zaini yang mewakili Pengurus PB NU Pusat, dalam sambutannya secara virtual menegaskan, ada dua amanah yang melekat dalam diri Jamiah  Nahdatul Ulama yakni; pertama, amanah dunia atau amanah keagamaan. Peran agama dan peran menghidupkan spirit moderasi dalam beragama dan sekaligus menghidupkan akidah Al Sunah Wal Jamaah; baik melalui pondok pesantren, majelis taklim, masjid-masjid dan mushola, dan kehidupan bermasyarakat lain.

Kedua, amanah Makoniah atau amanah kebangsaan,  bahwa NU hadir ditengah masyarakat senantiasa memberikan solusi, jalan keluar sehingga kehadiran NU merupakan peran-peran penting yang ditunggu dan diharapkan warga bangsa.

Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faishal Zaini

“Jauh sebelum Indonesia merdeka, kira-kira tahun 1914 Pendiria Ja’miah Nahdatul Ulama telah meletakkan prinsip dalam berbangsa bernegara dengan apa yang disebut cinta tanah air sebagai bagian dari perintah agama, “jelasnya.

Menurutnya, cinta tanah air adalah prinsip yang luar biasa, bahwa pada akhirnya jamaah NU tidak lagi membentur-benturkan agama dengan negara. Bahkan agama diadopsi dalam spirit hidup kebangsaan dan kenegaraan, atau apa yang disebut sebagai spirit Wakoniah atau spirit kebangsaan.

“Maka dari itu, bagi keluarga besar NU, tidak diperlukan lagi Istilah NKRI Bersyariah, karena sebenarnya ketika kita menjalankan kewajiban berwarganegara, maka pada hakekatnya kita telah menjalankan perintah agama. Apa yang disebut dengan menjalankan ke-Islaman dan ke-Indonesiaan ada dalam satu tarikan nafas,” tegasnya.

Oleh karena itu, lanjut Helmy Faishal Zaini, setiap timbul mashab atau kebaikan-kebaikan, sesungguhnya disitu timbul syariah dan ukuah-ukuah. Dari sebab itu, Pancasila dan NKRI adalah bentuk final dalam kehidupan kebangsaan.

Yang kedua, lanjutnya, tugas kehadiran NU di tengah-tengah masyarakat sesungguhnya membangun kebersamaan yang baik sehingga kita dapat hidup berdampingan satu dengan yang lain.

“Bahwa pada akhirnya walau Islam di Indonesia dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, dari 274 juta penduduk di Indonesia, 88 persen adalah merupakan mayoritas umat Islam, kita dapat menampilkan wajah Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Islam di Indonesia terutama dengan hadirnya Nahdatul Ulama, dapat membentuk spirit dakwah bahwa Islam adalah agama yang mengajak bukan mengejek, bahwa pada akhirnya mari kita semua menjadi bagian penting untuk membentuk spirit dakwah bahwa Islam adalah agama yang merangkul bukan memukul,” Pintahnya.

Sebagaimana dalam Al-quran, lanjut Helmy Faishal Zaini, ajaklah seluruh umat manusia ke jalan Tuhan untuk berhikmah, dengan cara-cara kebijaksanaan dan jauh dari cara-cara kekerasan.

“Maka kalau ada yang atas nama Islam, mengajarkan tentang Islam dengan cara-cara kebencian, dengan cara teror, dengan marah-marah, dengan cara yang jauh dari kebijaksanaan, maka hampir dapat kita pastikan bahwa ini bukan Islam,” imbuhnya.

Sementara itu Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dalam sambutannya menekankan, bahwa NU bukan saja organisasi agama, tetapi organisasi kebangsaan, dan semua jamaah harus punya spirit NU. “Aneh kalau orangnya NU, tapi berpikirnya bukan kebangsaan,” tandasnya.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat memberikan sambutan di pembukaan Konferensi Wilayah X NU NTT

Menurutnya, para pendiri NU dulu dalam keterbatasan ilmu pengetahuan dan teknologi berpikir tentang kebangsaan. Sementara hari ini, peradaban sudah sangat maju dengan IPTEK, tetapi belum tentu manusianya berpikir tentang kebangsaan.

Terkait dengan Konferensi Wilayah NU NTT, Gubernur VBL berpendapat, bahwa konferensi NU bukan hanya untuk mengganti pemimpin, tapi juga berpikir bagaimana membangun bangsa dan daerah ini (NTT).

Ia mengatakan, bahwa semua calon Ketua PW NU NTT itu baik, tetapi baginya ada beberapa kriteria yang harus dimiliki seorang pemain NU NTT kedepan;

Pertama, haruslah pribadi yang amanah dan terutama bisa dipercaya. Kedua, harus pintar dan cepat menganalisa segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya dan menjalankan tugas mencari jalan keluar dengan kebijaksanaan. Ketiga, harus jujur. “Ia tahu punya kelebihan tapi juga tahu dan mengakui kekurangan. Dia akui kekurangannya apa. Itulah manusia sempurna sesungguhnya,”imbuhnya.

Jika, lanjutnya, tiga hal ini dimiliki oleh seorang pemimpin, maka ia memimpin dengan sempurna. “kalau tidak, tabliknya sempurna, tapi isinya nol,” tegasnya.

Di akhir sambutannya Gubernur VBL berharap, siapapun yang terpilih menjadi Ketua NU NTT kedepan, haruslah menjadi pemimpin yang hasil kerjanya dapat dilihat seluruh jamaah atau masyarakat.

Turut hadir Ketua DPRD NTT, Emi Nomleni, Wakil Ketua DPRD NTT, Aloysius Malo Ladi, Ketua PWNU NTT, Jamal Ahmad, Para Pengurus Wilayah NU NTT, bersama puluhan tamu undangan yang hadir secara langsung, maupun hadir secara virtual. (kt/tim) 

Comments
Loading...