Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Menambah Kepercayaan Publik, UPG 45 NTT Meningkatkan Kualitasnya

0 248

KORANTIMOR.COMKUPANGUPG 45 NTT mempersilahkan mahasiswa/i yang pernah belajar di Universitas PGRI untuk kembali berkuliah di UPG 45 NTT. Terkait ini, mereka yang merasa tertinggal materi kuliah dan sebagainya, kampus UPG 45 ini memiliki cara tersendiri untuk membantu mereka mengejar ketertinggalan. Jadi tidak serta merta mereka datang, langsung diwisuda.

Rektor UPG 45 NTT, David R.E. Selan, SE, MM

 

Hal ini ditegaskan Ketua Panitia Wisuda UPG 45 NTT tahun 2019 dan Rektor UPG 45 NTT, David R.E. Selan, S.E, MM saat ditemui awak media di Kampus UPG 45 NTT [Kamis, 5/12/2019].

Sementara itu dalam rangka meningkatkan kepercayaan publik/mengembalikan kepercayaan publik terhadap UPG 45 NTT [sebelumnya Universitas PGRI] pasca melewati badai persoalannya, managemen UPG 45 NTT menempuh beberapa langkah penting seperti;

1] UPG 45 mempersilahkan mahasiswa/i yang pernah belajar di Universitas PGRI untuk kembali belajar di UPG 45 NTT. Dasar hukumnya ialah Perintah SK MENDIKTI No. 289 tentang Perubahan dari PGRI menjadi UPG 45 memandatkan dalam salah satu diktum butir ke-7 bahwa mahasiswa yang datang dari PGRI harus diterima kembali menjadi mahasiswa di UPG 45.

“Jadi sekarang kembali kepada diri mahasiswa/i itu sendiri, mau kembali atau tidak. Jadi tidak ada larangan dan hambatan bagi mereka untuk kembali belajar di UPG 45.” Tandas Uly.

2]bahwa mereka yang mungkin karena masalah PGRI, merasa tertinggal materi kuliah dan sebagainya, kampus UPG 45 ini memiliki cara tersendiri hingga di prodi-prodinya untuk bagaimana membantu mereka mengejar ketertinggalan.

Mereka yang dulu menghilang entah kemana, lanjut Uly, dan yang kembali kesini untuk lanjut belajar juga diwisuda sesuai dengan aturan. Jadi tidak serta merta mereka datang dan langsung diwisuda. Ada mekanisme atau aturan yang harus diikuti sesuai dengan komitmen lembaga UPG 45 untuk meningkatkan kwalitasnya.

“Mekanisme aturan itu seperti data mereka harus ada di pangkalan data. Lalu aktifitas mereka minimal ada berapa semester disana. Soal biaya kuliah, kita beri kemudahan-kemudahan. Kita tidak membebani mereka harus bayar sekian-sekian. Kita memiliki kebijakan yang memberi kemudahan-kemudahan. Tergantung problemnya apa.” Tegas Uly.

Ketua Panlak Kegiatan Wisuda UPG 45, Uly J. Riwu Kaho, Sp, M.Si

Terkait strategi mengeskalasi kepercayaan publik terhadap institusi UPG 45, Uly menguraikan beberapa strategi penting UPG 45;

Pertama, UPG 45 terlebih dahulu menunjukan kwalitasnya. Salah satunya ialah dengan mewisuda para lulusannya.

Kedua, kita sudah masuk revolusi industri 4.0 yang berbasis eletronik, salah satunya adalah publikasi media eletronik dan publikasinya termasuk melalui media.

“Dalam laporan akreditasi insititusi kami, saya mengisahkan bagaimana upaya kita melakukan publikasi dan sosialisasi tentang keberhasilan kita dan bagaimana kita menyelesaikan persoalan kita. Salah satunya melalui media televisi, media online dan media life streaming. Kami juga sudah sepakati dalam Rapat Senat bahwa untuk tahun 2020 kita akan mulai dari Desember 2019 ini.” Tandas Uly.

Uly juga mengharapkan kerjasama dukungan media. Baik itu media online maupun dengan manfaatkan medsos, seperti; flog, facebook dan youtube tentang aktiffitas UPG 45.

Paparan Uly selaras dengan apa yang diungkapkan Rektor UPG 45 NTT, David R.E. Selan SE, SM bahwa para lulusan yang akan diwisuda pada 21 Desember 2019 mendatang adalah mereka yang telah memenuhi syarat akreditasi akademik dan keuangan. Bahkan sudah memenuhi standar dan boleh dapat diwisuda.

Kita lakukan penyaringan ketat para calon wisudawan, lanjut Selan, dari tingkat Prodi hingga tingkat Pengawasan Dekan. Dalam proses tersebut, mahasiwa/i diminta untuk membuat surat pernyataan yang didalamnya teradapat butir-butir pernyataan bahwa mereka telah melewati proses pendidikan dengan baik.

“Tugas kita menggawangi agar kampus ini “tidak kebobolan” mahasiswa/i yang belum selesai secara administratif akademik dan sebagainya tetapi mendaftarkan diri menjadi calon wisudawan/wisudawati.” Tegas Selan.

Proses migrasi dari PGRI ke UPG 45 menyisahkan kisah dimana banyak mahasiswa/i yang terpaksa harus berada di luar karena sedikit masalah terkait lembaga ini dimasa lalu. Ketika mereka kembali, lanjut Selan, managemen lembaga harus bekerja ekstra “menyaring” mereka secara baik. Karena yang diragukan ialah diantara mereka ada yang hilang disemester VI dan atau semester VII, lalu ketika kembali ke UPG 45 menganggap semua perkuliahannya sudah beres.

Terkait ini, UPG 45 harus melakukan proses penyelidikan dan penyaringan secara ketat ditingkat PRODI. Lalu dilanjutkan dengan pengawasan di tingkat Dekan. Dalam proses ini, level bawah diharapkan mereka melaksanakan seleksi atau pengawasan secara cermat sebagai wujud dari komitmen UPG 45 NTT meningkatkan kwalitasnya.

Salah satunya dengan mengharuskan mahasiswa/i calon wisudawan/wisudawati membuat surat pernyataan bahwa mereka sudah melewati proses akademik dengan baik dan tidak melanggar. Bahkan bila ditemukan tidak melaksanakan satu mata kuliah, maka bersedia untuk tidak diwisuda/wisudanya ditunda.

“Hal demikian diberlakukan mengingat saya adalah “pilar dan penjaga gawang” yang menjaga dan memastikan agar “gawang tidak kebobolan”. Kita harus sempurna dan menjamin bahwa mereka yang diwisuda adalah mereka yang telah memenuhi syarat administratif, akademik, keuangan dan sudah memenuhi standar dan boleh diwisuda.” Tandas David Selan.

Diakhir penjelasannya, Rektor UPG 45 NTT itu berpesan kepada publik Indonesia untuk datang dan memanfaatkan Kampus UPG 45 NTT untuk menimbah ilmu sebanyak-banyaknya bagi masa depan.

“Marilah memanfaatkan kampus ini karena kampus ini memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dengan target tiga setengah tahun atau empat tahun selesai dan dengan biaya terjangkau.” Tandas David Selan. [mas//kus]

Comments
Loading...