Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

DBD Sikka Menjadi Refleksi Pemerintah

0 97

Oleh Dr. Frans Sales. S.Pd, MM

KORANTIMOR.COM – KUPANG – Kejadian Luar Biasa Deman Berdara Dengue (DBD)  di Kabupaten Sikka harus menjadi acuan refleksi mendalam para policy makers/pengambil kebijakan publik untuk menyikapi masalah publik, khususnya KLB DBD seperti yang telah terjadi di Kabupaten Sikka dan Daerah lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur akhir-akhir.

Dr. Frans Sales. S.Pd, MM

DBD atau Deman Berdarah merupakan infeksi dari serangan virus dengue yang menyerang manusia;  baik anak- anak maupun orang dewasa,  namun secara kuantitas umumnya korban/victims DBD atau dengue itu dominan anak- anak. Transmiternya ialah melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepti atau Aedes albopictus. Gigitan nyamuk aedes ini mengandung virus dengue yang bisa menjadi infeksi DBD.

Di Indonesia, khususnya Sikka dan NTT pada umumnya  terletak di daerah khatulistiwa atau daerah tropis dengan dua musim yaitu musim hujan dan musim panas yang sangat rawan DBD.  Musim hujan berkisar antara bulan Oktober/November hingga Februari/Maret.

Curah  hujan yang lama akan berpengaruh pada kondisi tanah menjadi lembab, banyak air tertampung atau tergenang dimana- mana; baik sungai, danau, bendungan , kolam, canal/selokan- selokan, tempat- tempat pembuangan sampah, rumah dan tumpukan sampah-sampah penduduk yang tidak teratur. Diantaranya kaleng-kaleng bekas, plastik-plastik, kantong- kantong plastik dan lainnya.

Kondisi demikian menjadi sarang nyamuk aedes aegepti/aedes albopictus dan kondusif bagi jenis nyamuk tersebut untuk berkembang  biak. Jikalau tidak direspon secara serius oleh Pemerintah dan masyarakat serta dunia usaha/NGO, maka akan berdampak pada adanya virus dengue dan DBD yang sangat mematikan.

Sebagaimana pemberitaan media korantimor.com pada Selasa [3/3/2020, https://www.korantimor.com/10380/pemerintah-telah-melakukan-berbagai-upaya-memerangi-dbd-di-kabupaten-sikka/], Di Kabupaten Sikka ada 11 orang meninggal akibat Virus Dengue dan atau infeksi DBD. Kota Kupang sendiri dilaporkan ada 4 orang meninggal dunia akibat dengue. Kasus tersebut mempertegas fakta  bahwa masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat NTT rawan terhadap DBD.

Merespon kondisi DBD ini, harus dilakukan upaya- upaya seperti pola kolaborasi antara stakekholders terkait yakni eksutif, legislatif, yudikatif dan NGO untuk bersama membuat MOU sesuai bidang tugas. Lalu dirumuskan ke dalam program pencegahan dan  penanganan DBD yang berkelanjutan. [kt]

Comments
Loading...