Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Pemprov NTT Minta Sekolah Paham Aturan dan Prokes Terkait Pemberlakuan Kembali Pembelajaran Tatap Muka

0 126

KORANTIMOR.COM – KUPANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, dan Anak (Dinas P3A) ingin memastikan satuan pendidikan memahami peraturan dan standar operasional (SOP) serta protokol kesehatan (prokos) menjelang pemberlakukan kegiatan pembelajaran sekolah tatap muka. Tujuannya, agar sekolah menjadi ramah anak melalui keberadaan sarana-prasara sanitasi sekolah (sarana air bersih, jamban, tempat pembuangan sampah, dan sarana pembuangan limbah, red) yang aman anak. Dengan demikian, anak terhindar dari bahaya penyebaran Covid-19.

Dari kiri: Kadis P3A NTT, drg Lien Adriany M.Kes, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Linus Lusi S.Pd.M.Pd, Kepala Perwakilan UNICEF NTB dan NTT Yudhistira Ywangoe

Demikian disampaikan Kepala Dinas P3A NTT, drg Lien Adriany M.Kes dalam jumpa pers seusai kegiatan Wevinar Series Sekolah Ramah Anak Untuk Sanitasi Sekolah Aman Dalam Rangka Persiapan Pembelajaran Tatap Muka, pada Senin (11/10/2021) di Aula Kantor Gubernur NTT.

“Saat ini penyebaran Covid-19 di Provinsi Nusa Tenggara Timur mulai berkurang, yang ditandai dengan PPKM turun level II (dua). Pemprov NTT sejak diberlakukan kembalinya sekolah tatap muka langsung, tentu ada kekuatiran. Hal tersebut, tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa berbuat sesuatu. Kegiatan webinar series ini dilakukan, untuk memastikan bahwa satuan pendidikan sudah memahami dan patuh pada aturan- aturan, SOP, sehingga anak- anak dapat bersekolah dengan aman dan nyaman serta tidak menjadi klaster-klaster di sekolah” jelasnya.

Menurut dokter Lien, pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan dengan aman dan nyaman, jila aturan- aturan (terkait pengendalian penyebaran Covid-19, red) dikuasai disertai penerapan SOP dan Prokes Covid yang ketat. Semua peserta belajar di sekolah dapat terhindar dari bahaya penyebaran Covid-19. Kita tidak bisa menunggu sampai situasi kembali normal dari Covid-19 dan membiarkan anak-anak tidak sekolah. “Anak sekolah ada bahanya. Tetapi anak-anak tidak sekolah lebih banyak bahanya. Dengan berbagai pertimbangan, kita siap untuk beradaptasi dengan kondisi-kondisi saat ini,” jelas Lien.

Sementara itu, Kepala Perwakilan UNICEF NTB dan NTT, Yudhistira Ywangoe pada kesempatan bicaranya mengungkapkan, UNICEF sebagai lembaga PBB yang diberi mandat untuk perlindungan hak- hak anak, dalam situasi pandemi Covid-19 tetap ikut berpartisipasi dengan berbagai bentuk bantuan yang akan didistribusikan ke sekolah-sekolah.

UNICEF di Indonesia memberi perhatian yang sangat besar kepada anak dalam hal penangan Covid-19. UNICEF melihat, bahwa sebenarnya anak-anak di Indonesia dan termasuk anak-anak di NTT yang paling terdampak dari situasi Covid-19, baik dari aspek sosial maupun ekonomi. Oleh karena itu, UNICEF mendukung perlindungan anak. Terutama, dalam penanganan Covid-19, managemen vaksin dan bantuan tenaga vaksinator serta dukungan sanitasi air bersih.

Selanjutnya, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Linus Lusi S.Pd.M.Pd, pada kesempatan bicaranya berpesan kepada orang tua anak, agar tetap mendukung pembelajaran tatap muka. “Tentu kita harapkan pembelajaran tatap muka ini secepatnya dilakukan,” tegasnya.

Linus Lusi membeberkan, data jumlah siswa/i se-NTT kurang lebih berjumlah satu juta lebih dan tersebar di 12.0000 Sekolah Dasar (SD) dan 925 Sekolah Menengah Atas (SMA). Terkait julah tersebut, kegiatan vaksinasi total segera dibuka oleh pemerintah kabupaten-kota. “Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat terdapat di lokasi guna memberi pelayanan percepatan vaksinasi kepada pelajar, sehingga tidak ada kecemasan dari orang tua dan anak,” jelasnya. (kt)

Webinar tersebut, merupakan tindaklanjut Pemprov NTT atas perintah Presiden Jokowi terkait akselerasi vaksinasi dengan target 80 juta vaksin pada Oktober 2021 bagi seluruh wilayah pelosok Indonesia. Selain itu, mengingat perkembangan pemberlakuan PPKM Covid-19 di NTT hingga triwulan tiga, terus mengalami perubahan yakni turun ke level II (dua), sehingga memungkinkan untuk pemberlakuan pembelajaran tatap muka.

Dari sebab itu, dalam rangka persiapan pembelajaran sekolah tatap muka (offline), Pemprov NTT telah melakukan upaya untuk terus menurunkan level Covid-19 dari pandemi hingga kategori endemi. Langkah penting yaitu dengan pemberlakuan prokes yang ketat di sekolah, terutama melalui sanitasi sekolah. (kt/hms)

Comments
Loading...