Saksi di Sidang ke-4 NTT Fair Mengakui Ada Pemalsuan Tandatangan dan Pembuatan Laporan Palsu


  • Bagikan

Kupang, Korantimor.com – Jaksa Penuntut Umum [JPU] menghadirkan 11 saksi dalam sidang ke-4 kasus korupsi Dana Proyek Pembangunan Gedung NTT Fair untuk terdakwa Direktur PT Cipta Eka Puri [Harmen Puri]. Sidang berlangsung pada Jumat 01 November 2019 lalu di Pengadilan Tipikor Kupang.

Beberapa saksi persidangan mengakui adanya pemalsuan tandatangan dibeberapa tahapan pencairan dana dan ada pembuatan laporan palsu. 11 orang saksi terdiri dari 6 orang dari peneliti kontrak Dinas PUPR dan 5 Orang dari Karyawan PT Cipta Eka Puri melalui Kuasa Direktur (Linda Liudianto).

Swipe up untuk membaca artikel

Para saksi dimaksud antara lain yakni Dominggus Hauteas (Direksi Teknis Dinas PUPR/Pengawas Internal), Peneliti Kontrak yaitu Yohanes Tuwan (Ketua Tim) dan Karlina Juliana Faag (Sekretaris) serta anggota yakni Abraham Lalangpuling dan Sarah Banu serta Petrus Bas. Erwin Makatita (Karyawan PT Cipta Eka Puri/Bagian keuangan), Ridwan Hanafi (Karyawan PT Cipta Eka Puri), Widyanto (Karyawan PT Cipta Eka Puri), Beddy Yongki (Karyawan Desk Konsultan) dan Frengki Kaki Soru (Karyawan Dana konsultan).

Baca Juga :  Bank NTT 'Kangkangi' Rekomendasi BPK RI Terkait 'Pemutihan' Kerugian Kasus Gagal Bayar MTN PT. SNP Rp 50 M

Di persidangan tersebut para saksi membeberkan perannya masing-masing. Selain mengaku memberikan uang kepada sejumlah pejabat yang terlibat dalam proyek pembangunan gedung NTT Fair, bendahara PT Cipta Eka Puri [Johanes Erdward Leonard Makatita alias Erwin] mengaku memalsukan tanda tangan Direktur PT Cipta Eka Puri (Hadmen Puri). Pemalsuan tanda tangan terdakwa Hadmen Puri oleh Erwin atas perintah kontraktor pelaksana yakni Linda Liudianto dan Mr Lie (suami Linda Liudianto) untuk kepentingan pencairan anggaran termin satu sampai termin tiga dana pengerjaan proyek NTT Fair.

  • Bagikan