Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Frans Leburaya Banyak Katakan ‘Tidak Pernah’ dan ‘Tidak Tahu Di Sidang NTT Fair

0 465

Koran Timor.Com – Kupang – Hadir sebagai saksi di sidang lanjutan kasus korupsi Proyek Pembangunan NTT Fair dengan Terdakwa YA, mantan Gubernur NTT, Drs. Frans Leburaya lebih banyak menjawab pertanyaan Hakim dan JPU serta Pengacara Terdakwa dengan kalimat ‘tidak pernah’ dan ‘tidak tahu.’

Demikian fakta dari lanjutan sidang kasus korupsi NTT Fair pada Senin, 11 November 2019 di Kantor Pengadilan Tipikor Kupang. Sidang tersebut digelar dengan agenda mendengar keterangan saksi untuk terdakwa YA, mantan Kadis PUPR Provinsi NTT terkait korupsi proyek pembangunan NTT Fair.

Sidang dipimpin Hakim Ketua Dju Johnson Mira Mangi dan didampingi Ari Prabowo serta Ali Muhtarom sebagai hakim anggota dan tim JPU terdiri dari Hendrik Tiip SH, Hendrik Franklin dan Emerensiana Djemahat serta Pengacara Terdakwa YA, Rusdinur, SH, MH.

Dari pantauan media, Frans Leburaya di hadapan Majelis Hakim Tipikor Kupang dan JPU serta Pengacara terdakwa mengatakan tidak pernah menerima titipan ‘amplop’ dari YA.

Jawaban Frans ini terkait dengan hasil keterangan saksi Bobi [staf Kantor Dinas PUPR yang saat itu adalah staf dari YA] dan Aryanto [mantan Ajudan Frans Leburaya] dipersidangan sebelumnya. Bobi sebelumnya membeberkan disuruh oleh YA mengantarkan titipan amplop berisi uang ke Frans Leburaya melalui ajudannya bernama Bobi.

Frans juga menegaskan tidak pernah menyampaikan kepada YA untuk meminta potongan fee 5% dari kontraktor proyek NTT Fair. Ia juga tidak pernah minta feenya dinaikan lagi menjadi 6% saat peletakan batu pertama proyek NTT Fair tanggal 7 Mei 2018.

Frans juga mengatakan tidak pernah menekan YA untuk memberikan sesuatu dari proyek NTT Fair.

Mantan Gubernur NTT itu juga mengatakan tidak tahu soal adanya titipan amplop berisi uang dari YA kepadaNya lewat staf YA bernama Bobi. Bahwa Bobi kemudian menyerahkannya ke Gubernur Leburaya lewat ajudan Leburaya bernama Aryanto itu pun dibantah Frans Leburaya dengan mengatakan tidak tahu.

Bahwa Aryanto sang ajudan Leburaya lalu membawa aplop itu ke Gubernur Leburaya dan Leburaya menyuruhnya [Bobi] meletakan amplop berisi uang itu di meja, Leburaya juga mengatakan tidak tahu.

Sementara itu Bobi mantan staf terdakwa YA di Dinas PUPR NTT membenarkan pernah diminta terdakwa YA untuk mengantarkan titipan amplop berisi uang ke ajudan Gubernur untuk kemudian diserahkan ke Gubernur Leburaya. Aplop berisi uang itu diberi bersamaan dengan nomor HP sang ajudan Leburaya.

Bobi dan Aryanto sama mengakui penyerahan amplop ke Gubernur Leburaya terjadi dua kali. Pertama, Bobi menyerahkan amplop tersebut ke ajudan Gubernur Leburaya di dekat tangga bagian pintu belakang kantor Gubernur. Amplop itu diyakini Bobi berisi uang karena saat diserahkan kepada Bobi, YA mengatakan tolong antar uang ini ke pak Gubernur Frans Leburaya. Uang itu diisi dalam tas plastik. Kedua, amplop berisi uang diantar langsung Bobi ke ajudan Gubernur Leburaya.

Terkait keterangan Bobi, Ajudan Frans Leburaya [Aryanto] juga membenarkan pernah menerima titipan amplop dari Bobi sebanyak dua kali. Yanto juga menegaskan bahwa setelah menerima amplop tersebut ia langsung menyerahkannya ke Frans Leburaya sebanyak dua kali.

Menurut Aryanto, ia meletakan titipan amplop tersebut di atas meja kerja Frans Leburaya. Sebagaimana keterangan saksi [Aryanto], saat itu Frans Leburaya mengatakan kepada Yanto ‘taru saja disitu’.

Aryanto menyimpan titipan amplop itu di atas meja Leburaya dan lalu meninggalkan ruangan Frans Leburaya seketika. [Mas//Mas]

Comments
Loading...