Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Didampingi 29 Pengacara, ARAKSI Tak Gentar Hadapi Laporan Bupati TTU

0 179

KORANTIMOR.COM – KUPANG – Sebanyak 29 orang pengacara siap mendampingi Aliansi Rakyat Anti Korupsi Indonesia (ARAKSI) dalam menghadapi laporan balik dugaan fitnah dan penghinaan oleh tim pengacara Bupati TTU, RSF dan istrinya, KM (anggota DPR RI dari Partai Nasdem, Red).

Ketua Araksi, Alfred Baun

Demikian dikatakan Ketua ARAKSI, Alfred Baun yang dimintai tanggapannya, Kamis (21/5/20) siang tadi terkait laporan balik RSF dan KM melalui kuasa hukum mereka di Polres TTU dalam dugaan fitnah dan penghinaan pada Selasa (19/5/20).

Menanggapi laporan balik RSF dan KM, Alfred Baun menanggapinya dengan santai. “Kami tak takut sama sekali. Apalagi gentar dengan laporan balik itu. Namun sebagai warga negara yang taat hukum, saya menghargainya. Saat ini saja sudah ada 29 orang pengacara yang siap dampingi ARAKSI secara gratis,” ujarnya sambil meminum secangkir kopi jahe di hadapannya.

Namun RSF dan KM, lanjut Alfred, tak perlu buru-buru melaporkan balik dirinya karena upaya itu akan sia-sia belaka. “Seharusnya, mereka siapkan diri baik-baik. Tolong siapkan dan bawa kau punya data dan bukti untuk ‘dihidangkan’ di depan penyidik Polda untuk menggugurkan laporan kami,” pintanya.

Menurut Alred, laporan ARAKSI tetap akan diproses terlebih dahulu. “Kan laporan kami harus diproses terlebih dahulu. Kalau laporan kami tidak terbukti, baru laporan Bupati TTU dan isteri bisa diproses,” tandasnya sebelum menggigit pisang goreng di tangannya.

Alfred juga meminta Bupati TTU, RSF dan isterinya, KM untuk tidak ‘memelintir’ alias mengalihkan laporan ARAKSI terkait dugaan korupsi DAK Pendidikan TA 2007 senilai Rp 47,5 M itu ke ranah politik. Menurutnya, laporan ARAKSI tidak ada hubungan dan kaitan dengan Poltik apapun di Kabupaten TTU.

“Laporan kami tentang dugaan penyalewengan dan korupsi Dana DAK tahun 2007 senilai Rp 47,5 M itu murni hasil investigasi berdasarkan laporan dari Masyarakat Kabupaten TTU pada Tahun 2019 lalu. Jadi jangan ‘diplintir’ ke politik, ” tandasnya.

Berdasarkan laporan masyarakat, jelasnya, maka ARAKSI melakukan Investigasi di Wilayah Kabupaten TTU. “Kami kumpulkan bukti-bukti dan saksi. Kemudian dipelajari, dianalisa dan disimpulkan untuk melaporkan dugaan korupsi DAK Pendidikan tahun 2007 itu ke Polda NTT,” jelas Alfred.

Menurut mantan Anggota DPRD NTT itu, RSF dan KM sebagai pejabat negara dan pejabat publik harus mau dikontrol. “Jadi wajar saja jika ARAKSI melaporkan Bupati dan Istri terkait pengginaan uang negara dengan mengedepankan Asas Praduga tak bersalah,” ujarnya.

Jadi Bupati dan Istri, tegas Alfred, jangan mengalihkan dugaan korupsi itu dan membangun asumsi di luar substansi laporan ARAKSI. “Bukti apa yang bisa ditunjukkan oleh Bupati dan Istri bahwa laporan ARAKSI bermuatan politik. Jangan menyebarkan isu seolah-olah laporan ARAKSI terkait proses politik. Ini dugaan kriminal murni bung!” tandasnya.

Seperti diberitakan media sebelumnya, Ketua araksi, Alfred Baun melaporkan Bupati TTU, RSF dan isterinya, KM ke Polda NTT terkait dugaan korupsi DAK Pendidikan TA 2007 dengan nilai srkitar Rp 47,5 M. ARAKSI juga telah menyrrahkan sejumlah bukti keterlibatan RSF dan KM dalam proyek tersebut. Beberapa hari yang lalu, RSF dan KM melui kuasa hukumnya melaporkan Ketua ARAKSI dengan sangkaan tindak pidana fitnah dan penghinaan. (…./tim)

Didampingi 29 Pengacara,

KORANTIMOR.COM – KUPANG – Aliansi Rakyat Anti Korupsi Indonesia (ARAKSI) tak takut dan gentar menghadapi laporan balik Bupati TTU, RSF dan Isterinya, KM (anggota DPR RI dari Partai Nasdem, Red). Sebanyak 29 orang pengacara siap mendampingi ARAKSI dalam menghadapi laporan balik dugaan fitnah dan penghinaan oleh tim pengacara RSF dan KM.

Demikian dikatakan Ketua ARAKSI, Alfred Baun yang dimintai tanggapannya, Kamis (21/5/20) siang tadi terkait laporan balik RSF dan KM melalui kuasa hukum mereka di Polres TTU dalam dugaan fitnah dan penghinaan pada Selasa (19/5/20).

Menanggapi laporan balik RSF dan KM, Alfred Baun menanggapinya dengan santai. “Kami tak takut sama sekali. Apalagi gentar dengan laporan balik itu. Namun sebagai warga negara yang taat hukum, saya menghargainya. Saat ini saja sudah ada 29 orang pengacara yang siap dampingi ARAKSI secara gratis,” ujarnya sambil meminum secangkir kopi jahe di hadapannya.

Namun RSF dan KM, lanjut Alfred, tak perlu buru-buru melaporkan balik dirinya karena upaya itu akan sia-sia belaka. “Seharusnya, mereka siapkan diri baik-baik. Tolong siapkan dan bawa kau punya data dan bukti untuk ‘dihidangkan’ di depan penyidik Polda untuk menggugurkan laporan kami,” pintanya.

Menurut Alred, laporan ARAKSI tetap akan diproses terlebih dahulu. “Kan laporan kami harus diproses terlebih dahulu. Kalau laporan kami tidak terbukti, baru laporan Bupati TTU dan isteri bisa diproses,” tandasnya sebelum menggigit pisang goreng di tangannya.

Alfred juga meminta Bupati TTU, RSF dan isterinya, KM untuk tidak ‘memelintir’ alias mengalihkan laporan ARAKSI terkait dugaan korupsi DAK Pendidikan TA 2007 senilai Rp 47,5 M itu ke ranah politik. Menurutnya, laporan ARAKSI tidak ada hubungan dan kaitan dengan Poltik apapun di Kabupaten TTU.

“Laporan kami tentang dugaan penyalewengan dan korupsi Dana DAK tahun 2007 senilai Rp 47,5 M itu murni hasil investigasi berdasarkan laporan dari Masyarakat Kabupaten TTU pada Tahun 2019 lalu. Jadi jangan ‘diplintir’ ke politik, ” tandasnya.

Berdasarkan laporan masyarakat, jelasnya, maka ARAKSI melakukan Investigasi di Wilayah Kabupaten TTU. “Kami kumpulkan bukti-bukti dan saksi. Kemudian dipelajari, dianalisa dan disimpulkan untuk melaporkan dugaan korupsi DAK Pendidikan tahun 2007 itu ke Polda NTT,” jelas Alfred.

Menurut mantan Anggota DPRD NTT itu, RSF dan KM sebagai pejabat negara dan pejabat publik harus mau dikontrol. “Jadi wajar saja jika ARAKSI melaporkan Bupati dan Istri terkait pengginaan uang negara dengan mengedepankan Asas Praduga tak bersalah,” ujarnya.

Jadi Bupati dan Istri, tegas Alfred, jangan mengalihkan dugaan korupsi itu dan membangun asumsi di luar substansi laporan ARAKSI. “Bukti apa yang bisa ditunjukkan oleh Bupati dan Istri bahwa laporan ARAKSI bermuatan politik. Jangan menyebarkan isu seolah-olah laporan ARAKSI terkait proses politik. Ini dugaan kriminal murni bung!” tandasnya.

Seperti diberitakan media ini sebelumnya, Ketua araksi, Alfred Baun melaporkan Bupati TTU, RSF dan isterinya, KM ke Polda NTT terkait dugaan korupsi DAK Pendidikan TA 2007 dengan nilai srkitar Rp 47,5 M. ARAKSI juga telah menyrrahkan sejumlah bukti keterlibatan RSF dan KM dalam proyek tersebut. Beberapa hari yang lalu, RSF dan KM melui kuasa hukumnya melaporkan Ketua ARAKSI dengan sangkaan tindak pidana fitnah dan penghinaan. (.kt/tim)

Comments
Loading...