Pemprov Apresiasi Sikap Warga NTT yang Tolak Bantuan Karena Belum Berkeringat


  • Bagikan
Jurubicara Satuan Gugud Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si memberi keterangan pers terkait penolakan warga terhadap bantuan pemerintah pada Sabtu (1/4/2020) di Ruang Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT

KORANTIMOR.COM – KUPANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT mengapresiasi sikap sejumlah warga NTT yang menolak bantuan sembako (Sembilan bahan pokok) atau BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang diberikan Pemerintah Pusat. Hal ini membuktikan bahwa moralitas warga masyarakat NTT tidak cengeng dan harus bekerja mengeluarkan darah, keringat dan air mata kemudian menikmati hasil pekerjaan itu.

Jurubicara Satuan Gugud Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si memberi keterangan pers terkait penolakan warga terhadap bantuan pemerintah pada Sabtu (1/4/2020) di Ruang Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT

“Pemerintah sudah berusaha untuk membantu masyarakat di seluruh Indonesia termasuk di Provinsi NTT. Jika ada warga NTT termasuk 2 orang ibu di Kabupaten Alor yang menolak bantuan pemerintah karena merasa belum mengeluarkan keringat. Itu harus diapresiasi. Karena masing-masing orang tentu punya moralitas. Istilah dalam Alkitab itu ada Ora Et Labora (berdoalah dan bekerjalah); jadi harus seimbang,” tandas Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si kepada pers di Kupang, Sabtu (02/05/2020).

Swipe up untuk membaca artikel

Marius dimintai tanggapan terkait viralnya video yang beredar di tengah masyarakat terkait sejumlah warga masyarakat NTT yang menolak menerima paket bantuan dari Pemerintah Pusat; baik paket sembako maupun BLT.

Menurut Marius, warga masyarakat NTT yang menolak bantuan tersebut harus dihargai dan mereka sedang mengirim pesan moral yang sangat kuat kepada para koruptor di negeri ini. “Ada orang yang merasa belum mengeluarkan keringat dan tidak layak untuk mendapatkan sesuatu. Ini merupakan moralitas untuk menghargai cucuran keringat. Karena setiap yang diberikan Tuhan kepada kita adalah hasil cucuran keringat dan air mata,” tandas Marius.

Dia menambahkan, “Kita menghargai ke 2 ibu tersebut. Ini memberi pesan moral kepada publik bahwa kita tidak boleh cengeng; dalam situasi ini bagaimana pun ancaman virus corona di Indonesia, di dunia sanngat ekskalatif dan beberapa di NTT ada yang terkena virus dan punya dampak terhadap ekonomi kita. Ada sebagian masyarakat yang belum puas secara batiniah, karena dia mendapat sesuatu tanpa mengeluarkan cucuran keringat.”

Baca Juga :  Warga Luar Yang Masuk Kota Kupang Wajib Patuhi Prokes
  • Bagikan