Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Launching Kelor Haydrink, Dekranasda NTT Ingin Milenial Jadi Entrepreneur

0 51

KORANTIMOR.COM – KUPANG – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam kerjasama dengan Dapur Kelor Indonesia launching Brand Hay Drink berbahan dasar kelor pada 19 titik lokasi di Kota Kupang. Dekranasda NTT ingin memperkenalkan kelor kepada kaum milenial NTT dan memotivasi mereka untuk bersekolah sambil berusaha untuk menghasilkan uang (jadi enterpreneur muda, red).

Rima Bengu dan usaha Hay Drink miliknya di Jalan Sam Ratulangi V Kupang

Demikian disampaikan Ketua Dekranasda NTT, Julia Sutrisno Laiskodat melalui telepon celulernya terkait peluncuran Hay Drink kelor pada 19 titik lokasi di Kota Kupang pada Jumat,(24/09/2021).

“Sekarang ini kan maunya kita anak milenial juga cinta dengan kelor. Satu yang kita lakukan, yang pertama, anak milenial khususnya anak Poltekes, walau mahasiswa tapi bisa sambil cari duit. Selain itu, mereka jurusan kesehatan ya ada hubungannya dengan kelor. Jadi mereka juga bisa jadi enterpreuner,” tegasnya.

Ketua Dekranasda NTT, Julia Sutrisno Laiskodat,

Menurutnya, tujuan launching kelor Hay Drink ialah memperkenalkan kelor melalui minuman yang lagi trend di kalangan milenial, sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi mereka.

“Oleh karena itu, Dekranasda memfasilitasi kaum milenial (pelaku UMKM berbahan lokal NTT, red), mulai dari peralatan- peralatan dalam membuat usaha minuman Hay Drink. Juga pelatihan, agar mereka bisa menghasilkan produk minuman yang berkualitas nasional bahkan internasional,” jelasnya.

Dekranasda NTT, lanjut bunda Julia, juga berharap semakin banyak anak milenial yang bisa jadi enterpreuner dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada di NTT.

Rima Bengu, salah satu Owner yang ditemui wartawan media ini di lokasi usahanya di Jalan Sam Ratulangi Nomor V, Walikota Kupang menyampaikan terima kasih kepada Dekranasda NTT, yang sudah memfasilitasinya menjalankan usaha tersebut, dan yang sudah membuka lapangan pekerjaan baru bagi mereka kaum milenial.

“Bagi kami, ini sangat membantu sekali, karena dengan dilauncingnya minuman Hay Drink ini, anak-anak mudah bisa mengkonsumsi kelor. Selama ini anak mudah mungkin mengkonsumsi kelor hanya untuk dimasak dan jadikan sayur, itu mungkin sangat membosankan. Sementara untuk yang hay drink ini, sudah di kemas dalam bentuk minuman,” ungkap milenial kelahiran 1995 tersebut.

Rima pun berharap, kedepan usaha minuman hay drink yang sementara ditekuninya bisa diminati oleh masyarakat. Ia mengajak kaum milenial untuk mengkonsumsi kelor dengan cara yang lebih moderen.

Kepada media, Rima juga menjelaskan, bahwa dalam menjawab permintaan konsumen, ia bekerjasama dengan Jasa Transportasi Online Grab yang memiliki fitur GrabFood, sehingga memudahkan delivering produk ke pelanggan atau konsumen.

Ia juga mengungkapkan, untuk mengikuti progam tersebut, peserta hanya perlu melampirkan KTP, foto lokasi usaha serta beberapa persyaratan lain untuk pembukaan rekening tabungan Bank BRI dan pembayaran dengan menggunakan aplikasi pembayaran non tunai.

“Dekranasda bantu kami banyak, baik modal maupun fasilitas, namun hasilnya semua untuk kami. Tidak ada bagi hasil dengan Dekranasda. Pokoknya, kami sangat diuntungkan. Hanya kata Terima kasih banyak kepada Dekranasda,” ucapnya.

Untuk diketahui, Hay drink merupakan Franchise atau waralaba berbasis Kelor pertama di Indonesia,
bahkan di Asia Tenggara dengan mengusung konsep Minuman Kelor dengan
berbagai cita rasa yang sangat cocok dengan kalangan Milenial saat ini.

Peluncuran Hay drink ini, telah melalui beberapa proses sejak awal inisiasi hingga saat ini, dimana tim Dekranasda NTT dan Dapur Kelor Indonesia bersama-sama melakukan penjaringan peserta, pelatihan berkolaborasi dengan pihak Bank BRI, Grab dan pelatihan untuk meracik minuman Hay drink.

Peserta yang mengikuti Program Hay drink ini adalah kaum Milenial di Kota Kupang.

Untuk saat ini, Hay drink di Kota Kupang akan dijadikan sebagai Pilot Project untuk selanjutnya dapat dikembangkan di seluruh wilayah NTT, mengingat NTT memiliki potensi kelor yang berlimpah dan sudah ada beberapa daerah (seperti Kabupaten Belum dan Malaka) menyatakan minat untuk mengembangkan program serupa. (kt/tim).

Comments
Loading...