Ekoterapi Untuk Pasien Kanker: Analisis Fenomenologi Interpretatif Pada Anggota Komunitas Serikat Konfigurasi Kasih

Editor : Redaksi
  • Bagikan
Koran Timor

Oleh Elisa Rinihapsari, S.Si., M.Si.Med

(Program Doktoral Ilmu Lingkungan (PDIL), Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan/FITL, Unika)

Swipe up untuk membaca artikel

KORANTIMOR.COM – Ekoterapi adalah istilah yang diberikan untuk berbagai program perawatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan mental dan fisik melalui aktivitas luar ruangan di alam. Ekoterapi banyak digunakan sebagai pendekatan terapi berbasis alam pada berbagai gangguan kesehatan, baik kesehatan mental maupun fisik, termasuk pada pasien kanker.

Serikat Konfigurasi Kasih (SKK) adalah suatu komunitas yang mengembangkan model hidup sehat atau yang disebut Bimbingan Hidup Sehat (BHS) menggunakan pendekatan berada di alam. Banyak pasien kanker  yang menyatakan diri mengalami kesembuhan setelah menjalani BHS SKK, maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengeksplorasi fenomena kesembuhan tersebut, terutama dengan fokus pada pengalaman kesembuhan pasien.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian antara BHS SKK dengan prinsip-prinsip ekoterapi, melakukan penggalian dan analisis mendalam terhadap proses kesembuhan yang dialami oleh partisipan setelah menjalani BHS SKK, memetakan faktor-faktor yang mempengaruhi proses kesembuhan berdasarkan pengalaman partisipan, dan mengusulkan sebuah model ekoterapi bagi pasien kanker untuk memperkaya jenis-jenis ekoterapi yang sudah ada sebelumnya.

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif untuk mengeksplorasi pengalaman kesembuhan pasien dengan metode Analisis Fenomenologi Interpretatif. Penelitian dilakukan dengan wawancara semi terstruktur terhadap 5 orang partisipan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Baca Juga :  FMB Berbagi Sembako (jilid 2), Bukti Kepedulian Terhadap Masyarakat Terdampak Covid-19

Hasil analisis data dapat dikelompokkan dalam lima tema utama dengan beberapa subtema, yaitu: alasan mengikuti BHS SKK, yang terbagi menjadi lelah/jenuh dengan pengobatan medis, tidak percaya bahwa kesembuhan bisa diperoleh melalui pengobatan medis, dan terpaksa karena tidak ada pilihan lain; proses pengobatan yang dijalani dalam BHS SKK, terdiri dari racun makanan/ racun tubuh dan pergi berobat ke Kebun Mekon Indah; proses kesembuhan yang dialami, yang dapat dibedakan menjadi mendadak dan bertahap; faktor-faktor yang mempengaruhi kesembuhan terdiri dari ketaatan dan memberi nutrisi bagi jiwa; dan tema kelima yaitu memaknai sakit dan kesembuhan.

Kesembuhan yang dialami oleh masing-masing  partisipan terjadi melalui proses yang unik. Kesembuhan terjadi melalui berbagai tahapan yang berbeda antar partisipan, namun disertai dengan perubahan cara pandang terhadap diri dan penyakit, serta melalui perubahan cara hidup sesuai yang disarankan dalam BHS SKK.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses kesembuhan yang dialami oleh partisipan adalah ketaatan dalam menjalani BHS SKK, serta perubahan sikap dan perilaku untuk menjadi orang ‘baik’ yang selalu berorientasi memberikan nutrisi bagi jiwa.

Baca Juga :  Jasa Raharja Siagakan Stand Pengobatan Gratis Bagi Warga NTT dari Wamena

BHS SKK berkesuaian dengan prinsip-prinsip ekoterapi, maka BHS SKK dapat diusulkan sebagai salah satu model ekoterapi. Model ekoterapi versi SKK adalah interaksi yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya secara luas; bukan sekedar lingkungan alam namun juga lingkungan sosial (relasi dengan sesama) dan lingkungan spiritual (relasi dengan Yang Ilahi).

Ekoterapi versi SKK merupakan usaha untuk memperoleh kesehatan melalui interaksi harmonis antara manusia dengan lingkungan dalam pengertian luas. BHS SKK mengedepankan keutuhan dan keseimbangan antara tubuh, pikiran dan jiwa.

BHS SKK adalah gaya hidup holistik yang ditujukan bukan sekedar untuk menyembuhkan penyakit atau menjaga kesehatan individu, namun juga bentuk peran kecil dalam menjaga kelestarian dan keselamatan bumi melalui kebiasan-kebiasaan ramah lingkungan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Harapan dan manfaat bear Dari penelitian adalah dapat memberikan manfaat bagi praktik di masyarakat dengan menawarkan pengetahuan baru mengenai adanya intervensi berbasis ekoterapi sederhana untuk mengatasi kanker, dan mengusulkan suatu model ekoterapi untuk pasien kanker.

Bagi perkembangan teori/ ilmu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan teori yang terkait dengan ekoterapi, memberikan sumbangan bagi perkembangan teori-teori yang telah ada terkait pengobatan holistik dengan pendekatan mind-body-spirit, terutama yang terkait dengan interaksi dengan alam, relasi dengan Tuhan, dan relasi dengan sesama, serta mengembalikan konsep kesehatan manusia dalam konteks holistik sesuai definisi kesehatan menurut WHO dan Undang-undang RI no. 36 tahun 2009.

Baca Juga :  Perkuat Sinergitas, Tim Operasional Jasa Raharja Sambangi Rumah Sakit Sedaratan Sumba

Penggunaan ekoterapi belum banyak dikenal di Indonesia. Penggunaannya secara global juga lebih didominasi oleh bidang psikologi untuk mengatasi gangguan kesehatan mental. Penelitian ini diharapkan menjadi sumber pengetahuan baru mengenai pendekatan ekoterapi dalam mengatasi masalah kesehatan, khususnya pada penderita kanker. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber rujukan pengetahuan baru  dalam pendekatan ekoterapi, khususnya bagi penderita kanker, dan secara spesifik untuk masyarakat Indonesia.

Tentang Penulis
Elisa Rinihapsari melaksanakan studi doktoral selama 4 (tahun) seiring dengan tugas utamanya sebagai staf pengajar pada Program Studi D3 Analis Kesehatan Politeknik Katolik Mangunwijaya.

Topik disertasi yang diambil mengenai ekoterapi, sesuai dengan latar belakang pendidikan Elisa Rinihapsari di bidang biologi lingkungan dan ilmu biomedik. Penelitian dilakukan selama hampir 2 tahun, dengan melalui masa pandemi yang  menyebabkan terjadinya hambatan utama saat proses wawancara secara langsung dengan para partisipan.

Elisa mengakui, bahwa menjalankan peran ganda sebagai dosen sekaligus mahasiswa ternyata membutuhkan energi yang besar, motivasi diri yang pekat, serta dukungan yang kuat dari orang-orang terdekat. (*)

  • Bagikan