Estetika Caci dan Pemali Ekologis

  • Bagikan
Koran Timor

Oleh: Charles Jama

Dosen Seni Universitas Nusa Cendana

Swipe up untuk membaca artikel

 

KORANTIMOR.COM – Beberapa waktu lalu, pemberitaan tentang pembabatan hutan Bowosie untuk kepentingan industri pariwisata milik Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) dan rencana pembangunan geothermal Wae Sano di Manggarai Barat serta rencana pembangunan pabrik semen di Luwuk Manggarai Timur ramai diperbincangkan. Tiga berita ini banyak menyita perhatian pemerhati lingkungan.

Berbagai penolakan rencana pembangunan dilakukuan oleh berbagai elemen masyarakat. Dasar penolakannya adalah pembangunan ini mengambil alih lahan yang telah menjadi sandaran hidup masyarakat setempat, merusak lingkungan dan tatanan budaya masyarakat etnik Manggarai. Aksi penolakan itu berakibat pada penahanan dan insiden kekerasan pada rakyat oleh aparat keamanan. Tidak sedikit juga yang menerima rencana tersebut. Mereka yang menerima proyek ini melihat sebagai cara untuk menumbuhkan ekonomi dan mempercepat pembangunan.

Dalam pro dan kontra rencana-rencana dimaksud, beberapa pemikiran kritis disodorkan dalam membaca persoalan percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam dan pariwisata. Tentang tiga rencana dimaksud, saya mencoba untuk kembali ke dalam, membacanya dengan merujuk pada estetika Caci sebagai sandaran berpikir.

Baca Juga :  Pancasila: Apakah Rumah Bersama?

Estetika Caci dan Pemali Ekologis

Masyarakat tradisi kerap menyampaikan sesuatu dengan pemali. Pemali dalam masyarakat tradisi dimaksudkan untuk menegaskan sesuatu yang dilarang untuk dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengontrol, menjaga atau melindungi sesuatu yang sifatnya penting dan berharga.

  • Bagikan