Pancasila dan Estetika Caci

  • Bagikan
Koran Timor

Oleh: Charles Jama

Dosen Seni Universitas Nusa Cendana Kupang

Swipe up untuk membaca artikel

KORANTIMOR.COM – Peringatan hari Pancasila 1 Juni 2022 di Ende yang secara langsung dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo, telah usai. Selesainya upacara seremonial itu tidak berarti akhir dari kecintaan terhadap Pancasila sebagi pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Terutama dalam pengamalannya pada kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Kehadiran presiden dalam memperingati hari lahirnya Pancasila di Ende, menjadi energi baru dalam melihat ke-Indonesiaan kita dan memaknai Pancasila. Perayaan besar ini memanggil kembali memori masyarakat Ende dan seluruh masyarakat Indonesia untuk mengenang sejarah masa lalu. Sejarah tentang penggali (Soekarno, red) Pancasila yang pernah hadir bersama masyarakat Ende. Tempat Pancasila digali, kemudian menjadi dasar negara yang mengikat keberagaman dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keputusan Presiden Joko Widodo memperingati hari Pancasila di Ende, bukan tidak beralasan. Indonesia saat ini mengalami polarisasi oleh berbagai kepentingan terutama kepentingan politik yang membawa identitas suku, ras dan agama. Pancasila itu sendiri saat ini baik secara terang maupun sembunyi sedang digugat dan dikoyak oleh ide negara khilafah. Dua hal ini tentu menjadi ancaman yang membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

Presiden Joko Widodo melihat moment memperingati lahirnya Pancasila di Ende sebagai cara merekatkan kembali keterbelahan di masyarakat, sambil menggelorakan kembali kecintaan terhadap Pancasila agar tetap berdiri kokoh dalam menjaga kebhinekaan Indonesia.

Bertolak lebih dalam lagi, kehadiran Presiden Joko Widodo di Ende dimaksudkan untuk mengajak seluruh komponen bangsa Indonesia agar kembali kepada akar budayanya. Budaya yang menghasilkan inspirasi dalam melahirkan Pancasila (ontologis-historis). Pertanyaan kritisnya adalah apakah munculnya ide negara khilafah, karena bangsa ini telah menjauh dari akar budaya bangsanya sendiri yang terepresentasi dalam Pancasila?

Baca Juga :  Tim Futsal Puteri Tampil, Liga Pemuda Pancasila-Paman Sam Rasa Piala Dunia Mini

Menarik Benang Merah Pancasila dan Estetika Caci

Dalam beberapa literature tentang Pancasila, dituliskan bahwa butir-butir yang tercantum dalam lima sila Pancasila terinspirasi dari berbagai kehidupan budaya masyarakat Indonesia. Suwarno (1993) menulis dengan jelas bahwa “Pancasila Budaya Bangsa Indonesia”.

Proses penggalian Pancasila oleh Bung Karno memang secara langsung tidak ada hubungannya dengan estetika Caci etnik Manggarai. Kemudian dalam sejarahnya, Bung Karno tidak pernah berelasi secara personal dengan masyarakat Manggarai. Pertanyaannya adalah apa hubungan Pancasila dengan Estetika Caci sebagai ruang ekspresi estetik etnik Manggarai yang tidak pernah disentuh apalagi dikenal oleh Bung Karno? Lantas seberapa penting membahas tentang hubungan Pancasila dan estetika Caci etnik Manggarai?

Dalam pidato Bung Karno pada 1 Juni, salah satu bunyi sila yang disebut sebelum menjadi rumusan resmi adalah “Ketuhanan Yang Berkebudayaan”.  Sebelumnya 31 Mei Supomo juga merumuskan lima asas negara dengan bertitik tolak pada lembaga sosial bersumber dari masyarakat asli yang tercipta dari kebudayaan Indonesia. Tokoh-tokoh lain pun mengatakan yang sama tentang Pancasila itu bersumber dari kebudayaan Indonesia.

Estetika Caci merupakan hasil kebudayaan etnik Manggarai. Ia menjadi salah satu unsur kebudayaan dan menjadi entitas dan identitas etnik Manggarai. Dimana pun etnik ini berada, selalu merindukan dan bahkan mempertunjukan estetika Caci. Sebagai sebuah seni pertunjukan, estetika ini memberi nilai dalam kehidupan etnik ini. Ia menjadi wadah refleksi atas kehidupan. Jika ditelisik, estetika Caci mengandung nilai-nilai Pancasila dalam pertunjukannya.

Pertama. Ketuhanan Yang Mahasa Esa. Estetika Caci dipertunjukan dalam rangka lima peristiwa adat yaitu penti, congko lokap, wagal, lingko randang (saat ini sulit dijumpai), dan kelas mese (satu suku di Manggarai Timur). Seluruh rangkaian pertunjukan Caci, tidak terlepas dari ritual untuk memohon keselamatan. Sebab estetika ini dimaknai sebagai sebuah perjuangan hidup. Pada ruang ini, peCaci dan seluruh warga kampung memohon keselamatan kepada Wujud Tertinggi (Mori Kraeng) melalui beberap ritual. Diantaranya, ritual memberi persembahan kepada leluhur pada malam hari, pada waktu keberangkatan (wuat wai teti tangkal), lilik, letang wae, caca selek pada akhir pertunjukan Caci. ritual-ritual ini sebagai ritus permohonan sekaligus syukur atas semua peristiwa keselamatan dan sukacita. Bagian ini mau menunjukkan bahwa etnik Manggarai dalam ruang estetik tetap berpegang pada Sang Pencipta.

Baca Juga :  Ada 140 Anggota Khilafatul Muslimin Di Mabar, Bukti Giat Penyebaran Ideologi Terlarang Di Mabar Sukses Besar

Kedua. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Caci adalah sebuah proses humanisasi kekerasan. Artinya, Caci menentang segala bentuk kekerasan yang terjadi. Baik kekerasan pada manusia maupun kekerasan pada alam dan lingkungannya. Hal ini terepresentasi pada aturan-aturan adegan saling cambuk. Setiap peCaci memiliki hak yang sama dalam jumlah pukulan dan menangkis. Estetika Caci adalah ritus penghormatan pada Ibu Bumi (metafora terhadap alam). Artinya, Ibu Bumi yang memberi kehidupan, karena itu tidak boleh dirusak melainkan dirawat agara tetap memberi kehangatan. Adegan dalam Caci tervisualisasi saat menerima dan memberi alat penangkis. peCaci menyebut “ine rinding wie, ame rinding mane”. Saat menerima dan memberi alat penangkis, peCaci dalam posisi berlutut. Adegan dan dialog ini menunjukan kualitas peradaban manusia yang bermakna wajib menjaga alamnya. Bukan karena alam memberi kehidupan, tetapi karena alam memiliki otonomi kehidupan.

Ketiga. Persatuan Indonesia. Estetika Caci sangat jelas menunjukan persatuan. Setiap peCaci wajib menjaga persaudaraan. Sikap-sikap yang menyebabkan perpecahan dilarang bahkan telah menjadi ideology dalam pertunjukan Caci. Setiap peCaci yang melanggar ideology ini akan menerima akibatnya. Sepeti terluka parah yang disebut beke/rowaBeke/rowa bukan hanya dirasakan oleh peCaci yang terluka, tetapi dirasakan oleh seluruh anggota masyarkat dalam kampung. Ini menunjukkan solidaritas bersama sebagai saudara. Persatuan juga ditunjukkan lewat persaudaraan antara pihak penyelenggara dan tamu. Dua orang peCaci dalam kubu yang berbeda, apabila sudah duduk bersama dan menikmati makan dan minuman yang sama, tidak boleh dipertemukan dalam adegan saling memukul dan menangkis.

Baca Juga :  Pemkot Dukung Gerakan Pembumian Pancasila di Kota Kupang

Keempat. Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Point penting yang diangkat dalam esetika Caci terkait sila keempat ini adalah tentang kebijaksanaan seorang pemimpin. Orang yang memimpin rombongan Caci disebut “ata ba leso”. Secara harafiah berarti “orang yang membawa hari”. Pemimpin rombongan Caci adalah seorang yang mampu melihat berbagai situasi dalam pertunjukan Caci. Termasuk  melihat dan membaca keadaan. Seorang ba leso dengan kebijaksanaannya melarang para peCaci yang berpotensi mendapat luka untuk turun dalam panggung (natas = halaman kampung) pertunjukan Caci. Ia berkewajiban menjaga keselamatan seluruh rombongan Caci.

Kelima. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Estetika Caci mengajarkan tentang nilai keadilan. Seorang peCaci akan mendapatkan akibat dari segala perbuatannya. Ia akan dihukum oleh prinsip kausalitas. Berbuat jahat sebelum melakukan pertunjukan Caci, akan mendapat hukuman yang setimpal dengan berbuatannya. Karena itu seorang peCaci berusaha untuk menjaga harmonisasi, baik harmoni dengan masyarakat maupun relasi pada ruang batin terutama pada istri.

Satu titik simpul bahwa, Caci adalah ruang bersama untuk menjaga relasi vertikal dengan sang pencipta dan relasi horizontal dengan alam dan sesama. (*)

 

  • Bagikan