Sosio Fobia Kasus Pemukulan Wartawan Online Fabi Latuan

  • Bagikan
Koran Timor

Oleh: Eddy Ngganggus

KORANTIMOR.COM – Adanya semacam sosio fobia atau ketakutan terhadap orang, masyarakat, komunitas tertentu, menjadi sebuah postulat atau asumsi yang dipakai sebagai pangkal dalil yang dianggap benar, saya sematkan pada kasus pemukulan wartawan online Fabi Latuan.

Swipe up untuk membaca artikel

Dendang jurnalismenya mungkin pernah atau sedang ‘menggigit’ sesuatu, sehingga sesuatu itu merasa sakit. Tidak semestinya di jawab dengan bogem, selain ini merupakan cara bar-bar yang sudah tidak relevan lagi di era saat orang sedang mengedepankan otak bukan otot dalam menyelesaikan masalah.

Mengapa cara fictim ini masih saja ada di era orang sedang mendesign bumi menjadi Firdaus dengan aneka kecanggihan otaknya?
Berikut pendalaman saya atas hal ini. Adalah termin SOSIOPAT yang bermakna hilangnya kesanggupan menyesuaikan diri dalam diri seseorang atau bahkan lebih luas dalam masyarakat.

Bila Fabi Latuan dalam dendang jurnalismenya menyanyikan elegi atau nyanyian yang mengandung ratapan atau ungkapan sedih atas satu kondisi di negeri kita, maka baiklah itu di kontraskan oleh yang merasa itu disasar kepadanya dengan dendang elegi riang.

Baca Juga :  Pencairan DAU Kabupaten Sikka Ditunda Gegara Tata Kelola Keuangan Daerah Sangat Buruk

Elegi dan riang kedua kata ini saling bertentangan secara terminologi. Dua pertentangan makna sedang dijalani pada kasus pemukulan wartawan online kita ini. Si pemukul tentu riang dengan karya bar-barnya.

Sebagai orang yang maniak dengan kecanggihan otak manusia, saya tergugah untuk menelusuri akar soal mengapa para preman memilih gaya fasis menanggapi barisan kata-kata petugas jurnalis.

  • Bagikan