Warga Rusia Diaspora Kecam Agresi Militer Rusia ke Ukraina

Reporter : Kos
Editor : Redaksi
  • Bagikan
Koran Timor

KYIV – KORANTIMOR.COM – Ribuan warga Rusia di Amerika Serikat dan Australia serta Jepang dan beberapa negara lain mengecam kebijakan invasi Rusia atas Ukraina. Mereka meminta Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk menghentikan agresi militer Rusia ke Ukraina demi menjamin hak asasi manusia warga sipil Ukraina atas keamanan dan kenyamanan, terutama perempuan dan anak-anak.

Demikian laporan DW News sebagimana dilansir media ini Minggu (27/02) pukul 05.28 Waktu Jerman.

Swipe up untuk membaca artikel

“Putin doesn’t represent us. Stop war againts Ukraina. We want peace for Ukrainian and our brothers and sisters of the country,” (Putin tidak mewakili kami. Hentikan perang terhadap Ukraina. Kami menginginkan kedamaian saudara saudari kami di negara itu) tulis protesters Rusia dengan spanduk di depan Kantor Kedutaan Rusia di Jepang.

Sebagaimana dilaporkan DW News, ribuan warga Rusia Diaspora menilai Putin telah membohongi dunia internasional dan warganya terkait operasi militernya di sekitar perbatasan Ukraina. Faktanya, Rusia menghancurkan fasilitas vital Ukraina seperti sekolah, rumah sakit, pelabuhan, bangunan-bangunan infrastruktur vital Ukraina.

Baca Juga :  Viktor Laiskodat: "Terkait Air, Saya Usulkan Ada Menteri Yang Khusus Urus Air"

“Kami tidak dapat membayangkan betapa sulitnya warga Ukraina saat ini. Ada saudara-saudari kami, keluarga kami yang saat ini tinggal di sana. Mereka harus tinggal bersembunyi di bawah tanah entah sampai kapan, kami khawatir soal anak-anak dan para perempuan, mereka akan kesulitan mencari makan, obat-obatan, ini sangat mengerikan. Kami minta perang ini dihentikan,” ungkap salah seorang warga Rusia Diaspora di depan kedutaan Australia.

Sementara itu di Jepang, aksi protes yang sama datang dari Warga Rusia yang menentang Putin. Menurut mereka keputusan Vladimir Putin tidak mewakili  seluruh warga Rusia.

Diberitakan juga oleh DW NEWS, bahwa untuk menekan agresi militer Rusia terhadap Ukraina, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden sejak kemarin (26/02) telah menandatangani (menyetujui) alokasi anggaran US.$350 Juta untuk dukungan senjata ke Ukraina.

“Dana tersebut untuk pengiriman misil, anti tank, kekuatan Angkatan Udara, senjata api, dsb guna memperkuat pertahanan militer Ukraina dari serangan Rusia,” rilis DW News.

Dukungan yang sama juga datang dari Jerman. Sebagaimana dilaporkan koresponden DW News, Bastian Hartig dari KYIV, Jerman yang sebelumnya ragu-ragu dan mempertanyakan alasan pengiriman dukungan senjata AS ke Ukraina, akhirnya ikut memberi dukungan peralatan senjata mematikan ke Ukraina untuk menghentikan invasi Rusia atas Ukraina dan melindungi 3 juta penduduk negara itu.

Baca Juga :  PHRI NTT Siap Bantu Pemprov NTT Atasi ODP Covid-19

Diketahui, sejak Kamis (24/02) Rusia terus membombardir Ukraina dengan roket dan misil serta senjata berat dan senjata api, dll. Ribuan tentara dan tank-tank perang Rusia dikerahkan mendekati perbatasan Rusia dan Ukraina, termasuk di dekat Luhansk dan Donetsk bekas bagian negara Ukraina yang telah memisahkan diri dari Ukraina atas dukungan Rusia.

Sejak Jumat (25/02), tentara Rusia menyerang salah beberapa kota di Ukraina termasuk KYIV dengan misil dan roket serta kekuatan udara.

Sementara itu, warga sipil dan volunteer tetap bersama tentara Ukraina berada di kota mempertahankan negara mereka dari serangan Rusia.

“Banyak diantara mereka yaitu remaja dan orang dewasa yang saat ini giat membangun shelter (penampungan) bawah tanah untuk perlindungan 3 juta warga Ukraina dari serangan Rusia,” ungkap DW NEWS.

“Warga usia remaja dan dewasa tetap berada bersama tentara Ukraina mempersiapkan penampungan bagi masyarakat yang akan terdampak perang ini,” ungkap DW News. (kt/dwnews).

Sumber: DW NEWS
  • Bagikan