Serat Buah Patola Berpotensi Jadi Bahan Baku Komposit

Reporter : Wenseslaus Bunganaen
Editor : Kos
  • Bagikan
Koran Timor

Oleh: Wenseslaus Bunganaen, ST.,MT

Dosen di Prodi Teknik Mesin FST Undana

Swipe up untuk membaca artikel

KORANTIMOR.COM – KUPANG – Di zaman modern ini, perkembangan teknologi semakin berkembang pesat. Salah satu teknologi yang sedang dikembangkan adalah bahan material teknik.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah mengenal bahan material teknik, diantaranya seperti logam dan non logam. Komponen material yang digunakan sangat berpengaruh terhadap pengembangan dan kemajuan teknologi saat ini. Dengan didukung alat-alat yang modern, manusia berusaha mengembangkan material-material yang baru, termasuk bahan komposit.

Komposit merupakan material yang terbuat dari proses penggabungan dua atau lebih komponen. Tujuan membuat komposit adalah untuk mendapatkan bahan yang lebih baik dari bahan lain. Kita telah mengetahui komposit merupakan sifat gabungan yaitu antara bahan pengikat dan bahan pengisi.

Dalam beberapa pengaplikasian, bahan komposit lebih efektif sebagai bahan teknis. Keunggulan bahan komposit dibandingkan dengan bahan logam yaitu memiliki bobot yang lebih ringan, mempunyai kekuatan dan kekakuan yang lebih baik, dan tahan terhadap korosi.

Baca Juga :  Waduh, PPK Bilang HPS dan KAK Pengadaan Seragam Sekolah Di Dinas Pendidikan Kota Kupang Dokumen Rahasia

Bahan komposit, selain memiliki kelebihan, juga memiliki kelemahan. Kelemahan pada material berbahan komposit antara lain, tidak aman terhadap zat-zat atau larutan tertentu, harga bahan komposit yang masih relatif mahal, peroses pembetukan komposit memerlukan waktu relatif lama dan memerlukan biaya lebih besar.

Bahan komposit yang sering kita jumpai dalam kehidupana ini terbuat dari fiber glass, Namun sesungguhnya kita dapat membuat komposit dari serat yang lain termasuk serat alam. Dengan demikian, maka serat buah Patola dapat dieksplorasi menjadi bahan baku komposit, karena jenis serat ini tergolong baru dan merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di Indonesia bagian Timur seperti NTT.

  • Bagikan