Komisi III DPR RI Minta Kapolri Ambil Alih Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Kupang

Editor : Redaksi
  • Bagikan
Koran Timor

KORANTIMOR.COM – Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Partai Demokrat, Beni Kabur Harman (BKH), meminta Kapolri, Komisaris Jendral Polisi (Komjen) Listyo Sigit Prabowo, untuk segera mengambilalih penanganan kasus Pembunuhan ibu (Astrid Manafe) dan anak (Lael Makabe) di Kota Kupang, karena penanganan kasus tersebut oleh Polda NTT dinilai penuh rekayasa dan bahkan terkesan menyembunyikan oknum tertentu.

Demikian disampaikan BKH dalam rapat kerja Komisi III DPR RI bersama Kapolri, pada Senin (24/1/22) yang disiarkan secara live melalui Channel YouTube Komisi III DPR RI.

Swipe up untuk membaca artikel

“Atas nama masyarakat NTT,
mohon kiranya perhatian dari bapak Kapolri dan kalau bisa segera ambil alih kasus ini, demi keadilan yang seadil-adilnya,” pintanya.

BKH menjelaskan, bahwa permintaannya itu berdasarkan desakan masyarakat NTT yang datang kepadanya mencari keadilan terkait kasus tersebut. Pasalnya, penanganan kasus tersebut tersendat -sendat dan terkesan direkayasa.

Menurutnya, kasus tersebut banyak menyita perhatian masyarakat NTT, karena penanganan kasus pembunuhan ibu dan anak tersebut oleh Polda NTT sangat lamban.

Baca Juga :  Premanisme Masuk Dalam Sistim Tata Kelola Pemerintahan, Akan Merusak Sistem Demokrasi Di NTT

“Mengapa kasus ini menyita banyak perhatian publik NTT, alasanĀ  yang pertama adalah karena lamban sekali penanganannya. Ibu dan anak ini dilaporkan meninggalkan rumahnya pada Agustus 2021, setelah 3 bulan kemudian ditemukan tewas. Itupun karena ada penggalian jalan di salah satu lokasi di di Kota Kupang,” beber politisi senior asal NTT itu.

Alasan yang kedua, lanjut BKH, terkait kasus pembunuhan Astrid dan Lael, Polda NTT menetapkan pelaku tunggal (Randi Badijeh, red) dan terkesan ada upaya menutup-nutupi pelaku lain yang terlibat dalam kasus ini.

“Berdasarkan tim pencari fakta oleh aktivis dan LSM, ditengarai pelakunya tidak tunggal. Pelakunya si Randi tiba-tiba datang ke Kantor Polisi dan mengaku dia pelakunya. Jadi ada semacam rekayasa terhadap pelaku ini. Artinya ada pelaku-pelaku lain, tapi ada kesan pelaku lain ini ditutup-tutupi, dan yang ditutup-tutupi ini bukan pelaku biasa,” jelas BKH.

Kejanggalan berikutnya, kata BKH, berdasarkan pengakuan tersangka (Randi, red), ia membunuh Astrid dengan cara mencekik leher Astrid karena Astrid mencekik anaknya Lael. Namun berdasarkan hasil otopsi terhadap jenasah Astrid dan Lael, diduga ada kekerasan yang dialami korban Astrid dan Lael di bagian kepala dan sekitarnya akibat hantaman benda tumpul dan keras di bagian kepala.

Baca Juga :  Gusur Tanah Warga, Tiga Pejabat Pemprov NTT Dilaporkan ke Polda NTT

“Menurut pengakuan pelaku si Randi tadi, dia membunuh Astrid dengan cara mencekikĀ  dan Astrid membunuh anaknya dengan mencekik juga.vSementara itu, berdasarkan hasil otopsi ditemukan ada benda tumpul yang menyebabkan memar-memar di kepala,” tandasnya.

Menanggapi permintaan BKH, Kapolri, Komjend Listyo Sigit Prabowo perintahkan Kapolda NTT, Irjen Pol. Drs. Setyo Budiyanto, S.H., M.H., untuk segera melakukan langkah-langkah cepat (penanganan kasus pembunuhan Astrid dan Lael, red) dan melaporkan progresnya ke publik.

“Sehingga semuanya transparan dan publik bisa memahami dan bisa dipertanggungjawabkan terkait penanganannya,” tegas sang Kapolri. (kt/tim).

.

Sumber: Chanel You Tube Komisi III DPR RI
  • Bagikan