Politik (Ende) dan Aksi “Pagar” Dungu

Editor : Redaksi
  • Bagikan
Koran Timor

Oleh Steph Tupeng Witin
Penulis Buku “Politik Dusta di Bilik Kuasa” (JPIC OFM, 2019)

KORANTIMOR.COM – ENDE – Sahabat jurnalis mengirim sebuah kisah inspiratif. Petani pisang dari kampung sedang mewawancarai mantan politikus. Politisi itu mengeluh karena dulu ia mabuk kuasa.  Bisa apa saja kalau mau. Tapi sekarang ia mabuk bingung mau kerja apa. Sekarang ia berperan sebagai “pagar” untuk membela siapa saja asalkan bibir terselip cerutu pantura.

Swipe up untuk membaca artikel

Selama wawancara, mantan politisi itu omong persis kampanye menipu rakyat dulu. Gara-gara mabuk, ia dipukul di tempat hiburan malam ala kampung. Rakyat lalu “membersihkannya” dari gedung itu. Kini ia beralih profesi sebagai calo kulit kemiri.

Kisah ini merepresentasikan karakter segelintir wakil rakyat. Lukisan faktual itu menegaskan bahwa kecerdasan rakyat terinspirasi dari perilaku wakilnya. Rakyat di kampung-kampung bercerita dengan polos. Tanpa risih. Kadang mereka membanggakan keberhasilan menumbangkan politisi angkuh dari kursi kekuasaan.

Politisi karbitan hanya memanfaatkan keluguan orang kampung untuk meraih kekuasaan. Saat berkuasa, gaya hidup berubah drastis. Rumah mewah. Mobil-mobil bersesakan di jalan masuk rumah. Masuk salon seminggu dua kali, meski wajah makin kelam dan penuh gundukan. Kerja proyek di banyak lokasi. Wajahnya politisi tapi perilaku kontraktor.

Baca Juga :  MTN Rp 50 Milyar Bank NTT: Kelalaian Disengaja, Bukan Risiko Bisnis

Perilaku politisi model ini mengubah cara pikir rakyat tentang politik. Gereja Katolik melihat politik sebagai ruang kesaksian untuk mengungkapkan iman Kristiani di tengah kenyataan sosial. Seperti Allah mengutus Putra-Nya ke tengah dunia untuk mengemban misi penyelamatan, Gereja (umat beriman) dipanggil masuk ke dalam dunia, terlibat dalam aneka persoalan hidup manusia.

Dunia dengan segala problematikanya adalah medan keterlibatan Gereja. Maka Gereja tidak sekadar bangunan mewah di tengah kekumuhan realitas sosial tetapi semua orang yang melibatkan imannya ke dalam pergumulan dan persolan sosial, politik, kemanusiaan dan sebagainya.

Semua orang beriman, entah berjubah maupun awam dipanggil untuk terlibat di tengah dunia. Keterlibatan Gereja itu merupakan bagian dari upaya menerangi dan menggarami dunia (Bdk Sakramen Politik, 2008: vi).

Politik sebagai area sakral untuk melibatkan diri di tengah realitas sosial justru disulap (politisi pasar senggol) menjadi sekadar lapangan pekerjaan untuk mencari uang. Politik lalu menjadi sebuah lowongan kerja yang mahal.

Publik direcoki pandangan bahwa politisi mesti punya uang dan bisa membagi uang. Uang membentuk citra politisi: kaya, trendi, mewah meski sebelumnya sangat melarat. Substansi politik sebagai medan pelayanan tergerus pencitraan hampa.

Baca Juga :  KOMPAK Indonesia Desak Mendagri Beri Penjelasan Resmi Terkait SK Pengangkatan dan Pengesahan Wabub Ende

Uang menggantikan integritas, moral, intelektualitas dan kecerdasan. Maka tidak heran kalau lembaga wakil rakyat diisi oleh orang-orang “muka uang”, pintar cari uang dan lihai curi uang. Kita malah menduga, lembaga dewan telah menjadi sarang bagi oknum-oknum elite DPRD untuk menilep dana rakyat.

Politik Kompromi
DPRD sebagai institusi politik mesti menjadi area diskursus rasional perihal peta pembangunan daerah. Diskursus ini mesti menyentuh substansi keberadaan institusi ini bagi rakyat.

Sikap kritis mesti juga menyasar banyak dugaan kelam yang bertransaksi di dalam institusi pengontrol pemerintah ini. Publik patut menduga bahwa institusi DPRD Ende kehilangan sikap kritis karena seolah menjadi “perpanjangan tangan” birokrasi dan sebaliknya.

Fakta ini menjadi salah satu dasar untuk memahami kasus-kasus dugaan korupsi di DPRD Ende.

Pertama, kasus gratifikasi PDAM Ende yang melibatkan 8 oknum anggota DPRD Ende. Kasus ini terus menerus dibuka untuk menguji komitmen aparat penegak hukum khususnya Polres Ende dalam nenegakkan hukum. Proses hukum akan membebaskan delapan oknum anggota DPRD Ende periode lalu yang selama ini sangat tersandera dengan pemberitaan kasus ini. Mau ambil langkah hukum sangat berat, karena nama-nama ini sudah tenar dan hampir diprasastikan karena terlalu sering dihebohkan di media sosial.

  • Bagikan