Menunggu “Godot” Wabup Ende dan Sandiwara Jawara Kampung

Editor : Redaksi
  • Bagikan

Oleh Steph Tupeng Witin

Penulis Buku “Politik Dusta di Bilik Kuasa” (JPIC OFM, 2019).

Swipe up untuk membaca artikel

KORANTIMOR.COM – ENDE – Menunggu Godot (Waiting for Godot) adalah naskah drama karya sastrawan Irlandia, Samuel Beckett (1906-1989).  Ada 5 tokoh dalam naskah: Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky serta Boy. Godot tidak muncul dalam teks drama secara konvensional tapi muncul dalam dialog. Kehadiran Godot adalah ex absentia, keberadaan dari ketiadaan. Ia dibicarakan namun tidak muncul. Ketiadaan itu telah menjadikan Godot sebagai pusat perhatian. Dengan cara yang demikian itulah ia menunjukkan “kekuasaan daya paksa” kepada Vladimir dan Estragon untuk tetap menunggunya datang.

Drama tersebut disatukan oleh tragedi dan komedi. Komedi mengacu pada pengertian “the intuition of the absurd” yang digagas EugeneIonesco, penulis drama Rumania-Prancis. Absurditas itu bersumber pada “sense of incongruity” tatkala manusia merenungkan keberadaannya di tengah alam semesta. Situasi ketika manusia tidak menemukan kepastian dalam hidupnya sehingga ia menjadi aneh, tak jelas, dan serba bingung (confused).

Para tokoh memiliki persoalan sama: menunggu kedatangan Godot. Mereka berharap Godot segera datang. Namun penantian mereka sia-sia. Hingga akhir drama pun Godot tak pernah muncul. Menunggu Godot menjadi bermakna: menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Dalam penggunaannya secara konotatif, kata ini dapat bermakna sebagai sebuah kesia-siaan atau juga ketidakmampuan. Bisa bermakna sebagai sebuah penantian konyol.

  • Bagikan