Korban Penganiayaan Anggota Polair Polresta Denpasar Minta Kapolri Pecat Pelaku

  • Bagikan
Koran Timor

KORANTIMOR.COM – KOTA KUPANG – Cornelis Jakobus Pasumain (CJP), korban penganiayaan trio Ndolu (Marthen Ndolu, Dance Ndolu, Mikel Ndolu) meminta Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Polisi Listyo Sidit Prabowo untuk memecat oknum Polisi Air (Polair) Kepolisian Resort Kota (Polresta) Denpasa-Bali, a/n Marthen Ndolu karena telah melakukan tindakan penganiayaan terhadap dirinya hingga menyebabkan luka robek 38 jahitan (luar dan dalam, red) di pelipis dan bawa mata kanannya.

Cornelis Jakobus Pasumain, Korban penganiayaan oknum Polair Polresta Denpasar-Bali, Marthen Ndolu dan adiknya Dance Ndolu serta ponaan mereka bernama Mikel Ndolu

Demikian disampaikan CJP, (korban penganiyaan Marthen Ndolu, red) dalam siaran persnya di Resto Palapa pada Minggu (14/11/2021).

Swipe up untuk membaca artikel

“Dia (Marthen Ndolu, red) seharusnya melindungi masyarakat, bukan sebaliknya malah menganiaya masyarakat,” kritiknya.

CJP menilai Marthen Ndolu melanggar Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Perkapolri) Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia Dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Republik Indonesia. “Harapan saya, anggota Polri yang seperti itu tidak boleh ada di sini (tidak boleh dibiarkan ada di Instansi negara POLRI, red), tidak bisa dipakai dan harus dipecat,” tegasnya.

Baca Juga :  Putusan PN Maumere Atas Gugatan Jap Wijaya Yapitana Merupakan Putusan Progresif Dan Visioner

Lebih lanjut, CJP juga meminta Menteri Dalam Negeri, Jenderal Polisi Tito Karnavian untuk memecat oknum Aparatur Sipil Negara pada lingkup Dinas Pemuda dan Olah Raga Povinsi NTT, Dance Ndolu yang turutserta melakukan penganiayaan terhadap dirinya. “Seharusnya, dia (Dance Ndolu, red) memberikan contoh yang baik sebagai pelayan masyarakat. Kalau seperti ini, ya tidak pantas dia menjadi seorang ASN,” kritiknya.

  • Bagikan