Gunung Kelimutu dan Misteri di Sekelilingnya

  • Bagikan
Koran Timor

Oleh  Lusia Agnes B

Mahasiswi Fakultas Ekonomi Undana Kupang

Swipe up untuk membaca artikel


KORANTIMOR.COM – ENDE – Gunung Kelimutu sejak masa para leluhur telah diyakini sebagai tempat tujuan akhir bagi arwah orang lio. Hal tersebut tercermin dalam kalimat yang sering diucapkan orang lio bagi orang yang telah meninggal, “Kai mutu gu, ia pawi dowa” (Dia sudah dipanggil Mutu dan Ia). Keduanya adalah nama gunung berapi di Kabupaten Ende. Atau dalam kalimat, “Kai mbana dowa da ghele mutu” (Dia sudah pergi ke Mutu). Keyakinan tersebut juga pada era 1970-an pernah diekspresikan lewat lagu Lio, yang berjudul “Mbulu”. Dalam lagu tersebut terdapat sepotong syair, “Mbulu, kau mbana ghele Mutu. Kau mula welu muku e” (Mbulu, kau pergi ke Mutu. Kau tanamkan pisang (untuk kami)). Keyakinan tersebut kian menguat seiring banyaknya misteri yang dialami di gunung kelimutu dan kawasan sekitarnya. Beberapa diantaranya diceritakan dalam tulisan ini.

Berpapasan dengan arwah
Kita awali cerita ini dari kaki Gunung Kelimutu dan kawasan sekitarnya. Bagi masyarakat di kawasan Wiwi Pemo, di kaki selatan kampung Moni, Lia Sembe dan Waturaka di kaki timur juga di kampung Manukako dan Pemo dilereng Selatan Kelimutu bukanlah peristiwa yang luar biasa, jika mereka berpapasan dengan arwah.

Kejadian seperti itu sudah sering mereka alami. Tidak saja saat senja, tetapi juga pada pagi dan siang hari.  Peristiwa itu sangat sering mereka alami dalam kegiatan keseharian mereka.

Di pagi hari dalam perjalanan menuju ladang, warga sering bertemu dengan orang asing yang sedang beristirahat. Orang itu kadang sendirian, kadang  juga  bersama beberapa orang.

Ketika berpapasan, orang asing itu menanyakan berapa jauh lagi jarak ke Kelimutu. Kadang orang asing itu juga meminta air kepada warga karena kehausan. Air itupun diminum layaknya manusia biasa. Warga hanya tertegun, ketika mendapat kabar bahwa di kampung lain ada yang meninggal. Ternyata yang diberinya minum tadi adalah arwah.

Arwah – arwah itu, juga sering berpapasan dengan para ibu di kampung-kampung itu,  dikala mereka sedang mencuci di kali. Konon katanya karena tidak tahan panas, maka pada siang hari para arwah-arwah itu memilih melintas di kali-kali di sekitar kampung itu . Saat arwah-arwah itu melintas, biasanya pada jam dua belas siang. Karena itu, para ibu di kampung-kampung selalu menghindar untuk mencuci pada jam-jam itu.

Kalau arwah itu laki-laki, biasanya mereka terus melintas tanpa mengusik sang ibu yang sedang mencuci. Namun, kalau arwah itu perempuan, apalagi orang tersebut dikenal baik, maka mereka akan beristirahat  sejenak  dan bertukar cerita dengan sang ibu layaknya manusia biasa.

Ibu itu tidak percaya saat tiba di kampungnya, disampaikan bahwa kenalan baiknya meninggal dunia. “Mana mungkin? Orang itu baru saja bercerita dengan saya dikali sambil menggendong bayinya,” sanggah sang ibu kaget ketika mendengar kalau kenalanya itu telah meninggal saat melahirkan.

Pengalaman “seram” di siang hari juga sering dialami warga  kampung Manukako dan Pemo yang berladang di lereng Kelimutu. Karena nereka umumnya pembudidaya kentang, wortel, jahe, jeruk, dan pisang, maka ladang mereka sering disinggahi para arwah. Arwah-arwah itu diyakini sedang menempuh perjalanan  jauh dari tempat asalnya sehingga rupanya arwah-arwah itu sedang lapar.

Baca Juga :  FOSIMATA Kota Kupang Gelar Tabligh Akbar di Puncak Milad ke-21

Tanpa malu-malu, arwah-arwah itu meminta pisang, jeruk, bahkan kentang untuk dibakar dan dimakan. Warga pun memberikannya tanpa curiga. Sekembalinya dikampung barulah diketahui bahwa yang mampir tadi adalah  “ tamu dari dunia lain”.

 Dibanding saat pagi dan siang, saat tanga sala nia ngata (senja) adalah saat warga paling sering berpapasan dengan arwah. Menurut kepercayaan setempat, arwah sengaja memilih berjalan saat senja, karena matahari telah tenggelam sehingga panasnya tidak terasa lagi.  Disamping itu, temaran senja menyulitkan orang untuk mengenali wajahnya dengan baik. Sehingga sulit bagi arwah untuk membedakan mana warga setempat dan mana yang bukan.

Pernah terjadi di suatu kampung, karena dingin, warga lalu menyalakan api di tepi jalan untuk berdiang. Sambil berdiang mereka mengobrol tentang kejadian sehari-hari yang mereka alami.  Karena sudah larut malam, mereka pun bubar dan pulang ke rumah masing-masing.  Alangkah terkejutnya orang-orang itu ketika mereka mendapati mereka hanya tinggal berenam sedangkan saat berdiang tadi jumlah mereka tujuh orang. Rupanya ada arwah yang ikut berdiang. Karena kelimutu dan kampung-kampung disekitarnya berhawa dingin, maka sang arwah memilih untuk berdiang sesaat  untuk menghangatkan tubuh sebelum melanjutkan perjalanan menuju kelimutu.

Pere Konde
Pere Konde (Pintu milik Konde). Disebut Pere Konde karena pintu tersebut milik Konde Ratu, sang penguasa Gunung Kelimutu dan kawasan sekitarnya. Bagi kalangan beragama, pintu tersebut sama halnya seperti pintu surga. Tempat untuk memutuskan seseorang  layak masuk  surga atau neraka. Pere Konde adalah tempat untuk menentukan apakah seseorang sudah layak untuk masuk ke Kelimutu atau belum. Jika dinilai layak, maka diputuskan pula  di danau manakah arwahnya layak ditempatkan. Setelah mendapat penempatan baru dipersilahkan untuk masuk.

Pere Konde dijaga oleh Konde  sendiri. Ketentuan yang telah ditetapkan olehnya tidak dapat dingganggu gugat oleh para arwah. Konon diceritakan ada arwah yang mencoba menentang keputusan konde. Oleh Konde, arwah itu tidak diijinkan untuk masuk ke Kelimutu,  juga tidak dijinkan untuk kembali ke badannya semula. Akibatnya arwah itu jadi arwah penasaran. Arwah penasaran inilah yang sering mengganggu orang-orang yang sering melakukan kegiatan di sekitar  Pere Konde.  Para pekerja yang memperbaiki jalan akses ke Kelimutu sering mengalami hal ini.  Kadang saat  mengangkut material untuk pengerjaan jalan itu, para sopir dan pekrla melihat ada kepala menggelinding di tengah jalan. Ada juga yang melihat kaki-kaki manusia bergelantungan diatas pohon. Jika para sopir melihat hal itu, mereka mematikam mesin kendaraan lalu menyalakan rokok. Rokok itu dibuang kearah “penampakan” itu terjadi. Lalu melanjutkan perjalanannya.

Berkaitan dengan kewenangan Konde tersebut, ada arwah yang ditolak oleh Konde karena dinilai belum layak atau belum saatnya. Hal itu bisa diketahui  dari cerita orang yang “koma”, atau sudah mati untuk beberapa saat dan hidup kembali. Menurut orang itu, dirinya sudah tiba di Pere Konde dan sempat bertemu dan disambut dengan penuh sukacita oleh arwah para leluhur. Tidak berapa lama disana, Konde yang menyerupai wajah para leluhur itu memintanya untuk kembali ke kampungnya dengan berbagai alasan. Orang itu pun pulang dan hidup kembali.

Baca Juga :  Berkas Permohonan Pengesahan Dan Pelantikan Wakil Bupati Ende Ditolak, Mendagri Inginkan Mekanisme Pilkada Ulang.

Sementara bagi arwah yang diijinkan oleh Konde untuk masuk ke Kelimutu, dipilahnya menjadi tiga bagian. Bagi orangtua yang selama hidupnya selalu mengamalkan nilai-nilai warisan dan selalu baik kepada orang lain, oleh Konde ditempatkan pada danau yang berwarna putih (kini berwarna kehitaman). Danau itu selanjutnya diberi nama Tiwu Ata Bupu.

Sedangkan bagi kaum muda, yang meskipun tahu nilai-nilai warisan leluhur, namun karena darah mudanya dia sering memberontak dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut, ditempatkan Konde pada danau yang berwarna biru (kini berwarna hijau pupus). Karena dihuni oleh kaum muda, maka danau ini dinamakan Tiwu Ko’o Fai Nuwa Muri.

Bagi orang-orang yang selama hidupnya sama sekali mengabaikan nilai-nilai warisan dari leluhur, dimana dengan ilmu santet yang dimilikinya dia biasa membuat orang sakit, membuat orang gila, bahkan membunuh orang, maka oleh Konde dia ditempatkan di danau yang berwarna merah (kini berwarna hijau pupus). Karena danau itu ditempatkan untuk para Ata polo (tukang santet, maka danau itu dinamakan Tiwu Ata Polo. Di danau itulah mereka mendapatkan pembalasanya. Mereka akan mengalami penyiksaan yang tiada akhir dan  dan penderitaan yang abadi.

Bagi warga yang hendak menyaksikan  keindahan ketiga danau di puncak Kelimutu hendaknya mawas diri jika sudah tiba di Pere Konde. Letaknya di sebuah tikungan setelah pos penjagaan jawagana yang terakhir. Para pengunjung sangat dianjurkan untuk tidak bersuara keras atau berteriak. Konon katanya jika berteriak, Konde yang sedang melaksanakan tugasnya akan terganggu. Jika Konde terganggu maka pengunjung yang bersangkutan akan mendapat balasannya, entah itu menceret, meriang, bahkan pingsan mendadak.

Hal lain yang juga harus diingat oleh pengunjung  adalah  jangan menginginkan makanan atau minuman  jika sedang berada di Pere Konde. Karene tanpa sepengetahuan pengunjung, tiba-tiba ada seorang yang menawarkan makanan dan minuman yang diinginkan itu. Jika sang pengunjung memakan atau meminum apa yang diantarkan itu, maka dijamin tidak berapa lama lagi arwah sang pengunjung akan kembali ke Kelimutu alias meninggal dunia. Dia telah bersedia menikmati makanan dan minuman dari Kelimutu. Berarti arwahnya sudah siap untuk dipanggil ke Kelimutu.

Sebuah kampung di puncak Kelimutu
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, pernah dibangun sebuah pasanggrahan di puncak Kelimutu. Pasanggrahan itu dilengkapi dengan penjaganya. Para pimpinan pemerintahan  Belanda itu biasanya berangkat dari  Ende pada  sore hari seusai melaksanakan tugasnya dan pada malam harinya menginap di pasanggrahan.  Mereka menginap dengan tujuan untuk menikmati terbitnya matahari di puncak gunung itu.  Jika tamu-tamu itu ada, maka malam hari dipuncak Kelimutu adalah malam yang sunyi yang hanya diramaikan oleh suara binatang malam.

Namun pada saat tamu-tamu itu sudah kembali ke Ende,  malam-malam di puncak Kelimutu adalah malam yang sangat menyiksa bagi para penjaga pasanggrahan itu. Suasana di sekitar pasanggrahan itu layaknya kampung besar. Terdengar suara orang yang memanggil anaknya atau suara orang yang memanggil babi peliharaanya. Suara-suara lain terdengar berbincang yang di selai dengan tawa riang. Juga ada suara orang yang menyanyi, meniup suling  yang diiringi irama pukulan gendang. Namun herannya ketika mereka keluar, mereka mendapati tidak ada siapa-siapa diluar. Karena takut, para penjaga memilih untuk kembali ke kampungnya setelah tamu-tamu itu pergi. Setelah merdeka, tidak ada tamu yang berani untuk menginap di pasanggrahan itu hingga akhirnya rusak.

Baca Juga :  Tim PKM Prodi Teknik Mesin FST. Undana Adakan Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana Bagi Warga Kelurahan Oesapa

Lain lagi dengan orang yang mencari ilmu dengan mencoba bertapa di puncak kelimutu. Menurut penuturan orang itu, pada sore harinya tidak terjadi apa-apa di sekitar tugu, tempatnya duduk. Ketika malam kian larut, situasi di sekitarnya mulai terdengar ramai. Saat dia membuka mata, tampaklah orang-orang tua sedang duduk  berdiang di perapian yang terdapat di Tiwu Ata Bupu. Mereka tampak bersenda gurau sambil memakan ubi yang sudah diibakar di perapian dan meminum moke. Ada diantaranya yang menyodorkan ubi dan moke kearahnya namun dia menolak.

Di Tiwu Ko’o Fai Nuwa Muri tampak sekelompok anak muda sedang bernyanyi dan menari dengan riangnya. Rupanya mereka sedang berpesta. Di salah satu meja tampak terhidang daging dan aneka minuman keras. Beberapa diantaranya sedang mabuk. Mereka menari sambil terhuyung-huyung. Ada seseorang dari antara yang mabuk itu yang mengulurkan segelas minuman keras kepadanya, namun dia menolaknya.

Ketika pandanganya dialihkan ke Tiwu Ata Polo, tampak banyak kepala yang menyembur dari danau yang berwarna merah darah itu. Mereka berteriak dan menangis pilu karena tidak kuat menahan  penyiksaan dan penderitaan abadi di dalam danau itu. Mulut dan gigi mereka di penuhi darah. Terlihat mereka sedang mengunyah potongan-potongan daging. Seseorang menyodorkan sepotong daging kearahnya. Astaga, tampak jari-jari tangan manusia. Ternyata yang mereka kunyah itu daging manusia. Melihat itu sang pertapa pun lari terbirit-birit meninggalkan puncak itu dan menuju kampung terdekat.

Ah, itu hanya kisah-kisah usang yang terjadi pada masyarakat kita dulu, dimana mereka masih dikuasai oleh mitos-mitos. Mereka percaya pada takhyul bahwa ada dunia lain selain dunia manusia. Hal itu tidak berlaku pada masa kini. Masa yang dikuasai oleh pikiran rasional. Kalau dipikir secara rasional, Kelimutu hanyalah sebuah gunung yang tidak ada bedanya dengan gunung-gunung yang ada di wilayah Kabupaten Ende. Kalau pun puncaknya terdapat tiga danau berbeda warna, itu semata hanya terjadi karena gejala alam. Lalu untuk apa kita mempercayai cerita-cerita seperti itu?

Jika kita ingin berbicara tentang Kelimutu secara rasional, maka timbul pertanyaan, mengapa hingga kini tidak ada penjelasan rasional tentang hilangnya beberapa  wisatawan  mancanegara di puncak  Kelimutu? Mengapa dalam upacara pencarianya harus menggunakan upacara adat, yang dianggap kuno dan mitos sebagai salah satu upaya dalam pencerian wisatawan tersebut.

Mengapa seorang wisatawan yang biasa membawa perlengkapan untuk dapat bertahan dalam keadaan darurat, tidak dapat menyelamatkan diri di puncak Kelimutu, bahkan jenazahnya pun tidak ditemukan? Apakah karena dia telah melanggar aturan yang berlaku dam membuat Konde marah? Biarlah pembaca sekalian yang menjawabnya. (***)

  • Bagikan