Tender Ulang Proyek Jalan Nangaroro-Maunori-Raja, Indikasi Awal Adanya Dugaan Rekayasa Tender

  • Bagikan
Koran Timor

KORANTIMOR.COM – SIKKA – Pelaksanaan tender ulang atas proyek Jalan Nasional Trans Flores, ruas Nangaroro-Maunori-Raja oleh Kelompok Kerja (Pokja) Balai Pelayanan Pelelangan Jasa Konstruksi (BP2JK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sebelumnya gagal lelang/gagal tender akibat disanggah oleh PT. Novita Karya Taga merupakan indikasi atau petunjuk awal adanya dugaan rekayasa tender untuk memenangkan rekanan tertentu. Pasalnya tidak ada dasar hukum bagi Pokja BP2JK NTT untuk melakukan tender ulang. Apalagi Pokja dalam tanggapannya atas sanggahan PT. Novita Karya Taga telah membenarkan sanggahan tersebut.

Demikian saripati rilis tanggapan Advokat Peradi/Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia Wilayah NTT (TPDI NTT), Meridian Dewanta Dado, SH yang diterima tim media ini melalui pesan WhatsApp/WA pada Senin (29/12/2020), Pukul 12.57 Wita.

Swipe up untuk membaca artikel

“Dan sudah pasti rekanan tertentu tersebut, diduga sudah menyuap ataupun memberikan janji-janji fee kepada oknum-oknum pejabat pengadaan dalam proyek tersebut,” tandas Meridian.

Kami sepakat, lanjutnya, dengan pernyataan Ketua Lembaga Penyedia Jasa Konstruksi (LPJK ) Propinsi NTT, Paul Tanggela bahwa Kelompok Kerja (Pokja) Balai Pelayanan Pelelangan Jasa Konstruksi (BP2JK) Propinsi NTT, Direktorat Bina Konstruksi Kementerian PUPR tidak boleh melakukan tender ulang proyek Jalan Trans Flores, ruas Nangaroro-Maunori-Raja senilai Rp 32,8 Milyar, sebab sesuai aturan hukumnya memang seharusnya Pokja menunjuk pemenang tender sebelumnya dari salah satu peserta tender yang memenuhi syarat.

Baca Juga :  Moeldoko ditolak PTUN, Demokrat Klaim Sebagai Kemenangan Rakyat
  • Bagikan