Modus Fraud Insider Trading Perbankan

  • Bagikan
Koran Timor

Oleh Petornius Damat, S.H., LL.M
Dosen Fakultas Hukum Undana Kupang

KORANTIMOR.COM – KUPANG –

Saya memulai mengupas topik ini dengan sedikit bercermin pada pada kasus penjualan surat berharga milik PT, Sunprima Nusantara Pembiayaan (SPN Finance) dengan pola, Medium Term Notes (MTN) yang membawa kerugian kepada beberapa Bank di Indonesia pada 2017-2018. Satu di antara bank itu (yang tertipu) ialah Bank Pembangunan Daerah Sumatra Utara.

Swipe up untuk membaca artikel

Bank Daerah Sumatra Utara itu membeli surat berharga sekitar Rp. 177 Milyar yang berpotensi fiktif. Kemudian SPN Finance tidak mampu lagi membayar MTN beserta kupon bungannya ke Bank Sumut.

Bahkan kini perusahaan tersebut juga telah mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), karena kegagalan sistematik yang dialaminya.

PKPU memperparah dan menegasikan hak-hak bank yang dirugikan. PT. SPN yang diketahui mengalami persoalan likuiditas serius antara 2012-2018, mengharuskan OJK RI memberikan ‘lampu kuning’ alias peringatan kepada managemen Bank Sumut agar terlebih dahulu melakukan check dan recheck terhadap rencana pembelian surat berharga (bermasalah) tersebut.

Baca Juga :  Simpatisan Jeriko Ancam Boikot Kegiatan Demokrat di NTT Sebelum Ada Klarifikasi Dari AHY

Kejadian di atas seharusnya tidak terjadi, karena bank sebagai entitas yang berdiri di atas prinsip prudential atau prinsip kehati-hatian. Bank memiliki sistem pengawasan yang rigid dan kebijakannya selalu mempertimbankan aspek risiko. Namun, jika kondisi itu justeru terjadi, maka bisa dipastikan adanya “insider trading” dalam bank itu sendiri dan itu merupakan fraud (=kejahatan dalam dunia perbankan yang dilakukan dengan direncanakan dan terstruktur untuk menguntungkan diri, dan keompoknya).

  • Bagikan