Labuan Bajo Nomor Satu Daerah Penyebaran Narkoba di NTT

  • Bagikan
Koran Timor
KORANTIMOR.COM – KUPANG –

Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo merupakan daerah nomor satu penyebaran narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu faktor penyebabnya yakni ekonomi daerah Labuan Bajo sedang bertumbuh dan berkembang serta perputaran uangnya  juga besar. Para bandar dan pengedar narkoba biasanya menyasar daerah-daerah yang ekonominya bertumbuh subur (baik, red). 

Demikian dikatakan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Nusa Tenggara Timur (NTT),  Brigjen Pol, Teguh Imam Wahyudi saat memberikan keterangan pers kepada awak media di Kantor BNNP NTT pada Kamis (08/10/2020).

Swipe up untuk membaca artikel

“Daerah  wisata itu identik dengan perkembangan narkoba. Daerah wisata pasti dibarengi dengan banyak tempat hiburan dan jelas tempat hiburan biasanya identik juga dengan penyebaran narkoba,” tandasnya.

Terkait hal tersebut, Teguh Imam Wahyudi yang didampingi Plt. Kabid Pemberantasan Narkoba, AKP Yuliana Beribe, SH dan Kabag Umum Bidang Pemberantasan BNNP  NTT, Anwar Gemar mencontohkan daerah Kota Besar lain di Indonesia seperti Jakarta. “Hampir tempat-tempat hiburan disana (Jakarta,  red), kalau kita mau mendapatkan narkoba mungkin lebih mudah dibandingkan dengan di sini (Kupang, red). Termasuk kota-kota besar lain seperti Surabaya, Bali, Bandung dan Medan,” ujarnya.

Baca Juga :  Opini WTP Pemda Sikka Tahun 2021 Dinilai Hanya Gimik Menutupi Dugaan Korupsi Dana BTT Rp 988 Juta

Sedangkan terkait jenis narkoba yang beredar di NTT, Teguh Imam Wahyudi menyebut umumnya di NTT, yang ditemukan saat penangkapan ialah narkoba jenis Sabu dan Ganja. Karena ganja di Indonesia datang dari Daerah Aceh dan kualitasnya nomor satu di dunia dengan kandungan THC yang tinggi.

Jenis tersebut tumbuh subur di tempat-tempat atau di daerah-daerah sejuk dan dingin.  “Kalau di Kupang, kemungkinan tumbuh ganja itu kecil. Karena ganja ini kalau cuaca dan iklimnya mendukung akan mudah tumbuh tanpa dirawat dan dipupuk, seperti yang terjadi di Aceh,” paparnya. 

Ganja umumnya menjadi jenis  narkoba yang sering ditemukan saat penangkapan karena kemungkinan harga atau nilai ekonominya yang lumayan besar. “Sebagai contoh 0,5885 gram ganja itu harganya bisa berkisar antara Rp 1,500,000 hingga Rp 2,500,000. Ini yang membuat para pengedar tergiur dan mudah terjerumus,” jelasnya.

  • Bagikan