Soal Perambahan Hutan Golo Bangga, Kepala BBKSDA NTT Minta Waga Golo Nderu Matim Hargai Hasil Lonto Leok

  • Bagikan
Koran Timor
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur, Timbul Batuara

KORANTIMOR.COM – KUPANG – Terkait persoalan perambahan hutan Golo Bangga, Warga Desa Golo Nderu Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur diminta menghargai hasil Lonto Leok (duduk bersama, red) dan kesepakatan adat bersama Tu’a Teno Taga pada 10 Maret 2016 silam, demi keberlangsungan ekosisitim hutan Golo Bangga.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur, Timbul Batuara

Demikian dikatakan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur, Timbul Batuara kepada wartawan di Kupang, pada Jumat (3/7/2020).

Swipe up untuk membaca artikel

Menurut Timbul Timbul Bubara, jika semua warga menghargai budaya lonto leok dan kesepakatan adat bersama Tu’a Teno Kampung Taga Desa Golo Nderu, sejatinya tidak akan terulang kejadian yang sama seperti yang di laporkan saat ini.

Memang diakui, lanjut Timbul Batubara, sebelum hutan Golo Bangga masuk dalam Kawaan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng, perambahan hutan oleh warga setempat sudah terjadi, bahkan dilakukan sejak turun-temurun.

Timbul Batubara menjelaskan, dalam kesepakatan bersama Tu’a Teno Taga kala itu, warga yang merambah savana di kawasan hutan Golo Bangga yang luasnya sekitar 600 hektar (350 hektar Hutan Tertutup dan 250 hektar Savana), harus merehabilitasi hutan tersebut dengan menanam kembali pada lokasi yang dirambah dengan tanaman kayu hutan serta ditegakan sanksi adat bagi yang melanggar.

“Ada sanksi adat saat lonto leok di Gendang Taga bagi pelaku perambahan pada saat itu. Dimana 11 pelaku perambahan dikenakan sanksi adat dan membuat surat pernyataan serta melakukan penanaman kembali pada lokasi yang telah dirambah dengan tanaman kayu hutan lokal,” kata Timbul Batubara.

Timbul Batubara menambahkan, sebelum hutan Golo Bangga masuk dalam Kawaan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng, perambahan hutan oleh warga setempat sering terjadi, bahkan dilakukan secara turun temurun.

Baca Juga :  118 RTK di Matim Belum Tersambung Listrik Karena Kendala Ijin Kawasan Hutan Konservasi
  • Bagikan