FMB Bagikan Sembako Kepada Guru Honorer di Malaka Dimoment HARDIKNAS

  • Bagikan
Koran Timor

KORANTIMOR.COM – MALAKA – Merayakan Hari Pendidikan Nasional, relawan Forum Malaka Bangkit (FMB) menyisir para guru honorer di Kabupaten Malaka dan membagikan 100 kantong sembako beruba beras dan mie instant.

Kegiatan ini dilakukan sebagai wujud solidaritas terhadap para guru hononer yang juga terdampak virus corona atau covid 19. Sudah dua bulan terkahir para guru honorer di Malaka libur akibat upaya pemerintah memutus matarantai penyebaran Covid-19 yang mana turut berdampak pada hilangnya penghasilan mereka untuk sementara waktu.

Swipe up untuk membaca artikel
Relawan Forum Malaka Bangkit (FMB) sedang membangikan sembako kepada keluarga dari salah satu guru hononer di Malaka (3/4/2020)

Sebelumnya, para relawan yang terdiri dari anak – anak muda Malaka ini sudah mendata identitas para guru honorer yang hidupnya masih jauh dari kata sejahtera. Dari antara mereka, ada yang sudah belasan tahun lamanya mengabdi menjadi guru dengan upah yang tidak pasti.

Kondisi miris para pahlawan tanpa tanda jasa di Malaka ini menggugah hati para relawan FMB untuk melakukan aksi minggu ini solider dengan guru – guru honorer.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Di Kota Kupang Bertambah 195 Orang

Terkait aksi sosial tersebut, Emanuel Bria sebagai motor penggerak FMB kepada KORANTIMOR.COM mengungkapkan bahwa majunya suatu daerah dilihat dari tingkat Sumber Daya Manusianya. Menurutnya, hal itu harus dibekali dengan ilmu pengetahuan yang cukup. Tapi untuk mewujudkan itu, pendidikan harus diutamakan pemerintah dalam programnya.

“Bukan hanya gedung saja yang dibangun megah, tapi isi dalamnya juga harus dibangun. Para siswa harus dibekali ilmu dan disiplin yang baik sejak diusia sekolah. Tetapi, ada hal yang paling penting yang sering terlupakan yakni kesejahteraan guru honorernya. Mereka ini, tanpa kenal lelah mengajari anak – anak kita menjadi pintar,” ujar Emanuel Bria adalah putra daerah Malaka yang juga seorang tokoh berprestasi dibidang pendidikan.

Banyak guru honorer yang hidupnya masih jauh dari sejahtera. Hidup mereka tidak pasti arahnya. Upah yang harusnya menjadi tumpuan hidup mereka, jauh dari harapan. Menurut pengakuan mereka, upah mereka tergantung pencairan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang juga tak menentu pencairannya. Untungnya, hampir semua dari mereka memiliki kebun jagung untuk bisa bertahan hidup bersama keluarga.

  • Bagikan