Sexisme Itu Pengingkaran Humanitas Perempuan

  • Bagikan

Pengingkaran Terhadap Humanitas Perempuan

Jika manusia itu citra Allah [imago dei], maka pengingkaran terhadap humanitas [kemanusiaan] perempuan itu bentuk penegasian terhadap Allah. Sebab Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan menurut gambar-Nya diciptakan-Nya: laki-laki dan perempuan” (cf. Kej. 1:27).

Swipe up untuk membaca artikel

Tentang ini Sufi Andalusia Ibn’ Arabi menguraikan bahwa “penampakan Tuhan paling sempurna justeru terjadi dalam diri perempuan”. Dengan demikian diskriminasi terhadap perempuan serentak merupakan diskriminasi terhadap Tuhan [Muhamad Al-fayydal, Wajah Perempuan, Wajah Tuhan, 2006].

Diskriminasi terhadap perempuan [seksisme] sudah tertanam di dalam jiwa sehingga kesaksian perempuan kerap tidak diperhitungkan.

Dalam konteks Indonesia, seksisme dapat ditelusuri dari penggunaan kata dan kalimat dalam berbahasa. Contoh kongkrit antara lain ada pengakuan kolektif terhadap negeri ini sebagai “Ibu Pertiwi”. Tetapi di lain sisi negeri yang disebut Ibu Pertiwi ini tak luput dari diskriminasi terhadap perempuan.

Lalu katan “pelacur misalnya”. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kata “pelacur” sebagai perempuan yang melacur; wanita tunasusila; wanita sundal. Semua subyeknya menunjuk pada “perempuan”.

Akibat dari struktur bahasa Indonesia yang demikian, secara bahasa laki-laki bebas dari label “pelacur”, sebab “pelacur” hanya menunjuk pada perempuan. Padahal jika dilihat secara tegas, perempuan tidak bisa dikatakan “pelacur” tanpa adanya laki-laki yang melacuri atau dilacurinya.

Atau kata “crewet”. Dalam penggunaanya kata crewet selalu dikaitkan dengan perempuan yang banyak bicara. Tetapi jika yang banyak bicara adalah laki-laki tidak disebut cerewet.

  • Bagikan