Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Emanuel Bria: “Kita Butuh Kepemimpinan Yang Baru dan Fair di Malaka”

0 182

KORANTIMOR.COMKUPANGAda sejumlah persoalan terkait pembangunan Kabupaten Malaka hari ini seperti pencaplokan lahan tanah ulayat warga tanpa persetujuan masyarakat adat, reformasi pertanian tanpa solusi pasar produk petani, penataan sistem birokrasi yang cenderung favoritism ketimbang profesionalisme, sistem politik kemepimpinan politik dinasti dan dendam politik, kecemasan dalam kebebasan pilihan politik masyarakat dan dampaknya pada akses kerja dan distribusi hasil pembangunan Daerah Malaka. Ada berbagai upaya telah kita lakukan hingga sampai suatu titik kesimpulan bahwa untuk melakukan pembenahan Malaka harus melalui jalur politik karena pada akhirnya yang membuat keputusan terakhir adalah pemimpin yang memiliki kekuasaan politik.

Emanuel Bria, Calon Bupati Malaka Periode-2020-2025

Demikian beberapa poin hasil diskusi media bersama Emanuel Bria, Calon Bupati Malaka tahun 2020 di Caffe Petir-Oebobo Kota Kupang (Jumat, 24/1/2020).

“Kita bersepakat untuk ikut dalam konstestasi PILKADA Malaka tahun 2020 ini dengan tujuan mengambilalih kekuasaan lokal sehingga kita bisa dengan lebih leluasa melakukan  penataan banyak hal di Kabupaten Malaka.” Tandas Eman Bria.

Diskusi sore itu meneropong Malaka sebagai Daerah Otonomi Baru yang dimekarkan dari Kabupaten Belu sejak tahun 2013 hingga saat ini dengan sejumlah persoalan yang harus diselesaikan.

Misalnya dari sisi reformasi birokrasinya; pengelolaan pemerintahan yang lebih adil dan sebagainya. Hal kedua yaitu dari sisi pembangunannya yang sampai sekarang masih harus ditata, terutama pengembangan sektor-sektor non pemerintahan oleh karena keterbatasan APBD daerah Malaka.

Eman berpendapat rekrutmen untuk Aparatur Sipil Negara [ASN] harus diperbanyak karena Malaka sebagaimana daerah-daerah lain memiliki banyak tenaga kontrak dengan cukup banyak masalah. Adakalanya mereka digunakan sebagai instrumen politik untuk mendukung kekuasaan politik penguasa.  Menurut sang Calon Bupati Malaka itu, persoalan ini harus dijawab melalui pengembangan difersifikasi sektor-sektor lapangan pekerjaan non pemerintahan yakni pengembangan ekonomi kerakyatan seperti pertanian, peternakan, perikanan karena permasalahan paling krusial terkait ini yaitu pemasaran produk-produk masyarakat. Terutama penguatan kualitas produknya sehingga antara produksi dan pemasaran ada kesinambungan.

Saat ini di Malaka sudah ada Revolusi Pertanian Malaka [RPM], lanjut Eman Bria, tetapi lebih banyak penekanan pada aspek inputnya yakni dukungan alat-alat produksi seperti traktor pertanian dan bibit. Tetapi setelah produk-produknya dihasilkan masyarakat masih bingung mau pasarkan kemana.

Soal Geopolitik Malaka hari ini, Eman Bria mengungkapkan bahwa memang ada banyak masalah. Terutama rekrutmen-rekrutmen cenderung favoritisme politik ketimbang profesionalisme. Contoh misalnya karena dulu orang itu mendukung penguasa politik yang sedang berkuasa hari ini sehingga hari ia ditempatkan bekerja di sektor tertentu meskipun penguasa politik tahu orang itu tidak tahu kerja. Sebaliknya orang lain yang dulunya tidak mendukung penguasa politik tidak diakomodir dalam sektor kerja.

Sistem politik ini  menurut Eman Bria harus diperbaiki karena konstestasi politik itu sebuah pertandingan. Ketika selesai semua orang yang mendukung saya maupun yang tidak mendukung saya semuanya adalah rakyat Malaka yang harus diperhatikan secara keseluruhan. Ada banyak masyarakat kita yang hidup dalam kekuatiran dan ketakutan karena hal-hal seperti ini.

“Kita butuh suatu kepemimpinan yang baru, kita butuh menciptakan kondisi yang nyaman dengan dan melalui suatu sistem pemerintahan yang fair. Jadi kalau ada yang mampu dibidang tertentu ya kita tempatkan disitu tanpa peduli ia lawan politik atau bukan.” Ujar mantan aktifis pemberdayaan masyarakat itu dengan wajah optimis.

Malaka Sebagai Wilayah Perbatasan NKRI-RDTL

Terkait Malaka sebagai wilayah perbatasan dan terdepan NTT atau NKRI dengan Negara Republik Timor Leste, pendekatan yang akan diusulkan Eman Bria adalah kesejahteraan.

“Perbatasan itu bukan soal border security-nya tetapi juga soal ekonomi masyarakatnya. Misalnya interaksi antara masyarakat perbatasan dua negara dalam aktifitas pasar-pasar tradisional. Kemudian membangun daerah-daerah pinggiran/perbatasan seperti itu sebenarnya perhatian republik ini dan memberikan suatu kebanggaan tersendiri sebagai warga negara sehingga tidak merasa dianaktirikan.” Ujarnya.

Eman Bria melihat apa yang dilakukan Jokowi sudah sangat bagus yakni membangun Indonesia dari daerah pinggiran. Terkait ini Eman juga  mengungkapkan sudah pernah menulis sebuah buku tentang Membangun Indonesia Dari Pinggiran. Konsepnya adalah bagaimana kita membangun Indonesia dari daerah-daerah terpencil dan terpinggir, mulai dari desa-desa perbatasan sehingga ada rasa kadilan pembangunan.  Alasan saya keamanan itu hanya bisa dijamin kalau ekonomi masyarakatnya sudah tumbuh merata.

Dukungan Politis Masyarakat

Eman dengan wajah optimis mengungkapkan dukungan masyarakat terlihat cukup dan signifikan. “Saya sudah mendaftar di PKB karena saya kader PKB. Selain itu juga sudah mendaftar di PSI, Hanura, PDIP dan tinggal kita menunggu keputusan mereka. Sejauh ini sudah ada signal-signal positif  dan mudah-mudahan dalam waktu dekat ini kita sudah bisa melakukan deklarasi bersama partai-partai politik.” Papar Eman Bria.

Maju sebagai Calon Bupati Malaka menambah daftar kontestan dalam kontelasi Pilkada Malaka melawan kekuasaan politik yang sudah lama terbentuk sejak Pilkada Malaka sebelumnya. Eman Bria juga melihat adanya dinamika suhu atau tensi politik Malaka sebagaimana umumnya suasana Pilkada sebuah wilayah.

“Sekarang yang kita dorong adalah politik yang bermartabat dan santun.  Kita juga harus memastikan bahwa kita berpolitik dengan gembira sebagaimana sebuah kompetisi sepak bola.  Pada akhirnya satu orang/klup yang keluar sebagai pemenang, menang atau kalah kita sama-sama rakyat Malaka. Jadi kita tidak perlu memilihara dendam politik dan sebagainya.

Kalau ada yang mengkritisi, kita tanggapi secara positif.” Ujar Eman sambil tertawa lebar.

Soal adanya duo Bria [Eman Bria dan Stef Bria Seran] di Pilkada Malaka dan dampaknya ke peta suara calon pemilih di Pilkada nanti, Eman menegaskan bahwa di Malaka hubungan keluarga tidak dilihat dari marga, tetapi berlaku sistem rumah adat.  Meskipun nama belakangnya sama Bria tetapi rumah adat beda. “Kita sistem klan, jadi tidak ada hubungan keluarga secara langsung.” Tandas Eman Bria.

Pertanyaan ini terkait klarifikasi informasi menguatnya isu politik dinasti di Malaka hari ini dimana hampir seluruh instansi pemerintahan Malaka [Eksekutif] didominasi  keluarga Pemimpin Politik yang sedang berkuasa dan kerabat dekat serta barisan pendukung penguasa politik di Pilkada sebelumnya. Termasuk bertaktannya sejumlah keluarga pemimpin politik di posisi strategis legislatif di Malaka.

Soal Figur Calon Wakil Bupati yang akan mendampingiNya di Pilkada Malaka, Eman Bria mengungkapkan bahwa sudah ada orangnya dan paketnya dalam waktu dekat sudah bisa diumumkan atau deklarasikan. [kt/tim]

Comments
Loading...