Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Diduga Agregat PT. AGG di Jalan Nasional Gako-Aegela Tak Sesuai Spek

0 74

KORANTIMOR.COMKUPANGHancurnya hotmix sehari setelah dikerjakan oleh PT. Agogo Golden Group (AGG) pada Proyek Peningkatan Jalan Nasional Ruas GakoAegela dengan nilai sekitar Rp 18 Milyar, diduga karena agregat yang digunakan PT. Agogo Golden Group (AGG) untuk pekerjaan pondasi jalan (pada sisi jalan yang dilebarkan, red) tidak sesuai dengan spesifikasi (Spek, red) yang ditetapkan dalam kontrak kerja.

Kerikil Kali/Bulat bercampur pasir dan lumpur dari Kali Nangapanda yang digunakan sebagai agregat oleh PT. AGG di Jalan Trans Flores, ruas Gako-Aegela

Diduga akibat agregat yang tidak sesuai spek tersebut yang menyebabkan rusaknya hotmix. Karena agregat (kerikil kali/bulat bercampur pasir dan lumpur) yang digunakan sebagai pondasi badan jalan (yang dilebarkan) tak mampu menahan beban kendaraan.

Kerikil Kali/Bulat bercampur pasir dan lumpur dari Kali Nangapanda yang digunakan sebagai agregat oleh PT. AGG di Jalan Trans Flores, ruas Gako-Aegela

Akibatnya, agregat kali/bulat tersebut amblas (bergerak karena tidak saling mengikat, red). Karena agregat pondasi badan jalan amblas maka hotmix yang ditopangnya ikut patah, amblas dan hancur.

Seperti disaksikan Tim Investigasi media ini selama beberapa hari (tanggal 9, 11, 13, 14, 16 hingga 17 Januari 2020, red) tampak kerikil kali bulat bercampur pasir menumpuk di sisi jalan ruas Gako – Agela yang dilebarkan. Karena disiram air hujan, maka tampak dengan sangat jelas kerikil kali/bulat tersebut yang digunakan sebagai agregat untuk pekerjaan pondasi badan jalan (yang dilebarkan, red).

Kerikil Kali Nangapanda disertai batu-batu bulat hingga sebesar telapak tangan yang digunakan OT. AGG sebagai agregar di Jalan Nasional, ruas Gako-Aegela (Foto : Stef, 17/1/20).

Sementara itu, terlihat beberapa dump truck PT. AGG terus mengangkut dan menurunkan Kerikil kali/bulat bercampur pasir berlumpur yang berasal dari kali Nangapanda, Ende tersebut di sisi-sisi jalan ruas Gako – Aegela. Tampak dengan sangat jelas pada kerikil yang baru diturunkan tersebut bercampur lumpur. Seperti disaksikan Tim Investigasi, agregat yang sama dipakai di seluruh ruas Jalan Gako-Aegela.

Kerikil Kali/Bulat bercampur pasir dan lumpur dari Kali Nangapanda yang digunakan sebagai agregat oleh PT. AGG di Jalan Trans Flores, ruas Gako-Aegela

Tampak beberapa alat berat (excavator dan greder, red) memaparkan Kerikil kali/bulat bercampur pasir dan lumpur itu pada lubang pelebaran jalan dengan kedalaman sekitar 30 cm Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Naegekeo. Satu unit Vibro tampak menggilas kerikil kali/bulat bercampur pasir dan lumpur.

Terlihat operator Vibro menyiram kerikil kali/bulat bercampur pasir dan lumpur itu dengan menggunakan selang pada saat menggilas sisi jalan yang dilebarkan. Akibat siraman dan gilasan Vibro tersebut, tampak genangan air lumpur di sisi badan yang dipadatkan tersebut.

Berdasarkan pantauan Tim investigasi media ini hingga tanggal 17 Januari 2020, tidak ada penggantian agregat seperti yang telah dijanjikan PPK Donatus Nelu. Apa yang dikatakan Nelu hanyalah isapan jempol belaka. Bahkan yang terjadi sebaliknya, di atas kerikil kali bulat dan berlumpur tersebut telah dilakukan pekerjaan hotmix sekitar 500 meter di atasnya.

Akibatnya, pekerjaan tersebut hotmix yang hanya dilakukan sehari saat kunjungan Kepala Balai Jalan Nasional, Mochtar Napitupulu tersebut, retak, patah, amblas bahkan hancur dan terbongkar dari badan jalan. Pantauan Tim Investigasi media ini, hingga 17 Januari 2020, pekerjaan hotmix sekitar 500 meter yang telah dikerjakan PT. Agogo Golder Group tersebut tampak rusak di beberapa titik.

PPK Jalan Nasional ruas Gako – Aegela, Donatus Nelo yang dikonfirmasi melalui telepon selularnya mengatakan pagi tadi mengatakan, pihaknya telahmemerintahkan PT. AGG untuk memperbaiki pekerjaan agregat yang tidak sesuai spesifikasi. Namun menurut Nelo, berdasarkan hasil penelitian pihaknya, Agregat A yang dipakai secara keseluruhan bagus. “Hasil uji coba bagus semua,” katanya.

Menurut Nelo, agregat yang digunakan harus merupakan campuran batu pecah yang kasar dan halus. “Iya, campurannya harus pakai batu pecah,” ujarnya.
Namun saat ditanya mengenai agregat kali/bulat yang digunakan PT. AGG, Nelo mengatakan, pihaknya telah memerintahkan kontraktor untuk mengganti agregat kali/bulat yang ditumpuk di ruas jalan Gako-Aegela. Namun tidak semua agregat di ruas jalan Gako – Aegela diganti.

“Tidak semua agregat diganti. Yang rusak-rusak saja. Agregat yang ada batu-batu bulat seperti foto-foto yang pak kirim ke saya sudah diperbaiki. Sudah diangkut dan diganti semua,” kata Nelo meyakinkan.

Mengenai agregat yang telah dipadatkan tapi berlumpur di Jalan Nasional ruas Gako-Aegela, tepatnya di Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Nelo mengatakan, telah memerintahkan untuk menggaruk dan menggantinya.
“Itu juga sudah diganti. Semua yang foto yang dikirim ke saya sudah diganti semua untuk apa saya omong yang tidak benar. Semua pekerjaan rusak sesuai foto-foto yang pak kirim foto-foto diganti semua,” tegas Nelo terus meyakinkan.

Pihaknya juga telah memerintahkan PT. AGG untuk memperbaiki pekerjaan hotmix yang rusak di di Desa Wolowea. “Hotmix yang rusak sudah diperbaiki. Dipahat dan diganti agregat dibawahnya. Catatan kami ada 4 titik yang rusak, tiga titik sudah diperbaiki. Tidak banyak kerusakannya, diameternya sekitar 1 – 2 meter,” kata Nelo.

Sedangkan 1 titik kerusakan hotmix lain, lanjut Nelo, belum sempat diperbaiki kontraktor karena hujan. “Saya minta untuk dihentikan sementara karena hujan dan kami masih lihat hasil perbaikannya, apakah tahan terhadap kendaraan-kendaraan besar yang melintas atau tidak? Hasilnya baik, tidak ada kerusakan ulang dititik yang diperbaiki,” jelasnya.

Saat diminta foto-foto penggantian agregat kali/bulat dan hotmix yang rusak di ruas Jalan Nasional Gako-Aegela agar ditayangkan dalam berita ini, Nelo menyanggupinya. Namun hingga berita ini ditayangkan, Nelo tidak mengirim pengangkutan kembali agregat dan pendropingan agregat penggantinya. Satu-satunyha foto yang dikirim hanya foto pemadatan agregat oleh Vibro namun bukan pada ruas yang difoto dan ditulis media ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, pekerjaan hotmix dengan panjang sekitar 500 yang telah dikerjakan PT. AGG pada Selasa (14/1/20) saat kunjungan Kepala Balai Jalan Nasional X Kupang, rusak (retak, pecah, patah, hancur dan terbongkar) oada 4 titik di Desa Wolowea, Kec. Boawae, sehari kemudian.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Donatus Nelo yang dikonfirmasi media ini melalui telepon selularnya pada Senin pekan lalu mengatakan, “Kalau ada kesalahan di lapangan nanti akan diperbaiki dan diganti,” ujarnya.

Usai dihubungi per telepon selular, Nelo mengirim pesan WA kepada media ini, “Agregat yang tidak sesuai dengan spek akan diangkut dan diganti semuanya,” tulisnya kemudian dihapus beberapa menit kemudian.

Kepala Balai Jalan Nasional X Kupang, Mochtar Napitupulu juga melakukan inspeksi mendadak pada Selasa (14/1/20) kemarin ke-4 lokasi proyek Jalan Nasional yang dikerjakan oleh PT AGG di sekitar wilayah Ende, Ngada, dan Nagekeo.

Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IV Propinsi NTT, Herman Rohi yang dikonfirmasi terkait kunjungan mendadak Kepala Balai Jalan Nasional X Kupang, membenarkannya. “Benar. Besok saya bersama Kepala Balai ke Ende untuk memantau 4 paket pekerjaan jalan APBN yang dikerjakan PT. AGG,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon selularnya. (kt/tim)

Comments
Loading...