Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

EIEG Persiapkan Engineering NTT Menuju Pasar Kerja NTT Kedepan

0 321

KORANTIMOR.COMKUPANGEast Indonesia Engineering Group [EISG] dalam kerjasama dengan PT. Fortuna Explore Indo mempersiapkan para engineering NTT melalui pelatihan Software dan Design Project untuk menangkap pasar kerja di NTT dan di Indonesia Timur kedepan. Putera-puteri daerah tidak perlu lagi meningkatkan skill keluar daerah.

Pendiri Sekaligus Leader EIEG, Yohanes Jone S.T, M.T

Hal ini didampaikan pendiri sekaligus Leader East Indonesia Engineering Group, Yohanes Jone, S.T, M.T ketika ditemui sela-sela training Pelatihan Software dan Design Project, Mining and Civil Engineering “Pengembangan Hardskill” [Edisi I] bagi para mahasiswa-mahasiswi teknik Universitas Nusa Cendana Kupang di Caffe Coklat, Liliba-Kupang pada Kamis, 17/1/2020.

Kegiatan ini dilaksanakan guna mempersiapkan mahasiswa-mahasiswi atau mereka yang masih duduk bangku kuliah sebagai calon generasi penerus enginering masa depan. Apalagi pembangunan infrastruktur NTT hari ini lagi pesat menuju daerah maju. Terutama pembangunan di bidang infrastruktur seperti jalan dan jembatan sangat membutuhkan para ingeeneur atau engineering.

Jone mengungkapkan tujuan dilaksanakan kegiatan ini yakni membekali para mahasiswa ingenering dengan kemampuan hard skill maupun soft skill dan siap kerja. Terutama menangkap peluang pasar kerja di NTT kedepan.

“Jangan sampai kerja-kerja pembangunan di NTT lebih menyerap tenaga kerja dari luar NTT.” Tandas Jone.

Kalau saya tidak mulai hari ini, lanjut Yoahnes, maka semua anak-anak ingenering dari Jogya dan Bandung akan beramai-ramai datang kesini [red.NTT] karena mereka di Yogya dan Bandung trainingnya luar biasa dan banyak sekali. Lalu anak-anak NTT sendiri bagaimana? Pengalaman 7 tahun belajar dan bekerja di luar NTT mengantar saya pada refleksi bagaimana melakukan sesuatu untuk NTT dan saya mendirikan EIEG untuk bisa menghimpun para calon ingenering NTT untuk mendapatkan sesuatu terutama skill.

MenurutNya pengalaman pengajaran di UNDANA sebelumnya mengedepankan teori. Sementara aplikasi sangat kurang sekali. Jadi mendirikan EIEG bagian dari menangkap keluhan teman-teman Enginering.

Sejak November 2019 Ia hadir di kampus-kampus di NTT dan sharing serta menanyakan apa saja persoalannya dan korelasinya dengan pembangunan NTT hari ini. Ia menemukan jawaban bahwa NTT hari ini sedang mengembangkan parawisata. Parawisata butuh jalan dan jembatan, dsb dan semua material pembangunan tersebut bersumber dari mining. Walau memoratorium tambang belum dicabut tetapi kedepan Jone yakin mining akan sangat berkembang pesat.

“Karena apalah artinya pembangunan infrastruktur suatu wilayah jika tanpa didukung oleh sektor pertambangan atau mining. Infrastruktur jalan dan jembatan dan sebagainya hasilnya dari sektor pertambangan. Jadi apa yang kami buat ini juga sejalan dengan visi pembangunan NTT Bangkit dan NTT Sejahtera.”Ujarnya.

“Teman-teman alumni yang sudah bekerja mengembangkan skill mereka dan ingin datang bergabung. Saat ini disini ada 2 orang yang bekerja di konstruksi. Karena keterbatasan waktu mereka tidak ada disini. Tetapi mereka home schooling, mereka belajar karena aplikasi sekarang adalah 4.0 [four poin zero]; semua serba teknologi, serba canggih dan semua serba cepat. Artinya semua engineur harus bekerja lebih cepat. Sedangkan dasar kemampuan aplikasi kurang.” Papar Jone.

Dengan dan melalui pelatihan tersebut putera-puteri daerah ini tidak perlu lagi pergi ke Yogyakarta dan Bandung yang nota bene biaya pelatihannya sedikit tetapi menyerap biaya akomodasi yang besar. Sebaliknya mereka belajar saja disini [Kupang-NTT].

Jone Bersama Peserta Pelatihan Software dan Design Project Mining and Civil Engineering di Caffe Coklat Liliba (17/01/2020)

Soal mitra, Jone menceritakan bahwa sebelum kesini [NTT] ia sudah mendirikan satu group yang sama namanya Le Gra Mining di Surabaya. Group tersebut hasil join bisnis dengan sahabatnya. Le Gra bahasa Irlandia artinya cinta, kebetulan Jone pengagum group musik WestLife.

“Walau saya mendirikan group saya sendiri tetapi saya juga menghimpun para enginering untuk bekerja bersama saya. Kita buatkan iklan dan training di Jawa Timur sampai kita mengerjakan proyek tambang bernilai ratusan juta. Saya tidak mau mengambil enginering profesional karena saya mengharapkan para engineering saya yang akan menggantikan saya kedepan.” Ungkap Jone.

Jone juga pernah menjadi tenaga ahli di PT. Portal Indonesia, sebuah PT yang bergerak dibidang pengembangan Sumber Daya Manusia. PT ini memberikan pelatihan dan sertifikasi nasional. PT tersebut menggandeng BNSP atau Badan Sertifikasi Nasional Indonesia.

Saat ini Jone sedang bermitra dengan PT-PT tersebut untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti pelatihan-pelatihan dan sertifikasi. Dalam kaitan dengan ini Ia hanya bisa sebagai vendor [pelaksana kegiatan]. Sedangkan sertifikasinya adalah oleh PT. Portal dan Le Gra Mining. Ia berharap bisa nantinya bisa berkembang ke BNSP.

Sementara untuk kerjasama dengan media, EIEG telah menggandeng PT. Fortuna dan kedepannya ia tetap akan terus bermitra dengan media.

“Apalah artinya melakukan kegiatan besar tetapi tanpa dukungan media. Masyarakat perlu tahu bahwa ternyata di Kupang atau di NTT sudah ada kegiatan seperti ini dan mereka tidak lagi harus mengirim anak-anak mereka ke Yogyakarta dan ke Bandung tetapi tetap di NTT. Karena penguatan kapasitas skill enginering sudah ada di NTT.” Jelas Jone.

Jone mengharapkan suatu saat ada dukungan dari pemerintah. Khususnya diedisi kedua bulan Februari 2020. Selain itu ia berharap bisa memiliki Badan Hukum sendiri supaya mendapat pengakuan dan bekerja lebih leluasa.

Jone memiliki 10 orang tenaga ahli dan semuanya dari Indonesia Timur. Namanya East Indonesia Enginering Group. Nama EIEG sengaja digunakan karena mereka tidak ingin hanya berkarya di NTT tetapi lebIh luas yakni Indonesia Timur.

Menurutnya Indonesia Timur itu luar biasa tetapi engineringnya semua dari luar. Misalnya Tambang Freeport di Papua dan Nusa Halmahera Mining di Maluku serta PT. Semen Kupang. Padahal IQ orang Indonesia Timur luar biasa. Kemampuan teorinya bagus sekali tetapi soft skill dan hard skillnya kurang. EIEG didirikan supaya mengakomodir putera-putera Indonesia Timur dengan IQ bagus untuk dibekali dengan skill enginering yang bagus sehingga perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia Timur ini tidak perlu mengambil tenaga kerja dari luar. Sebaliknya mendayagunakan sumber daya enginering yang ada karena Indonesia Timur punya putera-puteri daerah yang mampu bersaing.

Misi terbesar EIEG menurut Jone ialah ingin menjadi group penyedia man power. Jadi supaya bisa memiliki power enginering bagus kita harus mulai dari dasar dan pelan.

“Saya yakin suatu ketika akan menjadi power karena Le Gra sudah melahirkan banyak anak didik yang bagus. Saya memiliki anak didik yang sedang bekerja di PT. Free Port di bagian Undergrounding. Dia akan bergabung dengan kami.

Selain itu ada 6 orang anak didik saya sedang bekerja di rel kereta api Bandung. Jadi saya sudah banyak menghasilkan anak didik, kenapa saya tidak berbuat hal yang sama untuk daerah sendiri [NTT].” Jelas Jone.

Jone juga menceritakan bahwa ia dan groupnya tidak lagi mengajarkan teori tetapi konsep. Para engineering diberi data lalu mereka mengerjakannya menggunakan software. Kemudian mereka membuat laporan project.

Ini penting karena pelatihan soft ware tanpa sebuah project hasilnya nol karena ia tahu software; main scape dan outo scape, ada cape tambang, cape umum. Tetapi apa sia-sia jika tidak bisa mengerjakan sebuah proyek.

“Konsep saya supaya anak didik cepat memahami dan mengerjakan dengan baik, saya memberikan data proyek perusahaan. Jadi ketika mereka mengerjakan data proyek itu rasanya mereka seperti seorang enginering sungguhan.” Jelas Jone.

Sejak 2015 hingga 2019 Jone adalah salah satu dosen disalah satu kampus negeri di Surabaya. Ia terkenal sebagai dosen aplikatif. Teori ia buat sendiri cukup dengan menggunakan logika saja yang dimengeri oleh orang-orang engineering secara cepat dan mudah.

Karena tujuan engineering menurutnya adalah ke sektor-sektor tertentu. Oleh karena itu ia memberi pelatihan seperti ini sehingga ketika para engineering bekerja pada perusahaan tertentu, mereka bisa bekerja tepat layaknya engineering. [kos//KT]

Comments
Loading...