Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Kedepan, UPG 45 NTT Akan Memberlakukan E-Learning Sekaligus Membuka Prodi Parawisata

0 74

KORANTIMOR.COMKUPANG –Mahasiswa UPG 45 [sebelumnya PGRI] tahun 2013 yang nyaris DO dan tahun 2014 yang masih berada di luar dan yang datanya masih ada di FORLAP diharapkan untuk segera datang dan direhabilitasi dengan status pindahan ke UPG 45 dan mereka akan diperlakukan sesuai aturan UPG 45 hari ini. Selain itu mereka [mahasiswa] yang belum menyelesaikan kuliahnya dipersilahkan datang dan lanjut menyelesaikan kuliahnya. UPG 45 juga akan memberlakukan E-Learning dan akan membuka Prodi Parawisata.

Dari Kanan: Rektor UPG 45 NTT, David Selan, SE, MM dan Purek III sekaligus Kepanlak Acara Wisuda UPG 45 NTT, Uly Riwu Kaho, SP, M.Si

 

Hal ini disampaikan Rektor UPG 45 NTT, David Selan SE, MM saat ditemui awak media di ruang kerjanya di kampus UPG 45 NTT pada Rabu [18/12/2019].

Lebih lanjut terkait kegiatan wisuda lulusan UPG 45 NTT tanggal 21 Desember 2019 mendatang, David Selan mengklarifikasi jumlah para calon wisudawan-wisudawati sebanyak 335 orang. Ada penambahan 4 orang dari jumlah 331 orang sebelumnya. Mereka ini sudah memiliki data lengkap tetapi karena datang mendaftar diakhir batas registrasi wisuda sehingga menambah jumlah calon wisuda [yang sebelumnya dicatat berjumlah 331 orang].

“Kami cek prosesnya dan menemukan proses mereka terkait wisuda sudah berjalan satu-dua semester sebelumnya dan pinnya ada dengan data lengkap sehingga kita terima. Jelas ini menambah jumlah ex semenandus kita.” Papar David Selan.

Juga terkait acara wisuda tersebut, awalnya UPG 45 mengharapkan kehadiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim, tetapi Nadiem berhalangan sehingga diganti delegasi dari DIRJEN Kelembagaan DIKTI.

Selain DIRJEN Kelembagaan Dikti, lanjut David Selan, acara wisuda nanti juga akan dihadiri Kepala LLDIKTI, Prof. Dasi Astama dan memberi sambutan saat gladi resik wisuda UPG 45 tanggal 20 Desember 2019 nanti. Prof. Dasi Asma tidak menghadiri acara puncak wisuda UPG 45 karena akan mengikuti agenda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Denpasar Bali pada tanggal 21 Desember sore.

Kedua, terkait mereka yang akan diwisuda, Rektor UPG 45 itu menguraikan bahwa Para wisudawan/wisudawati adalah ‘anak-anak emas,’ anak-anak yang tidak plin-plan dan yang punya satu harapan perubahan serta percaya kepada perubahan dan ketika perubahan itu terjadi mereka tetap berada dalam perubahan itu. Mereka berproses sampai hari ini dan mereka sudah bisa disebut sebagai ex semenandus. “Status mereka sudah berilmu sama dengan saya.” Tandas Selan.

Rektor UPG 45 itu juga menyampaikan keprihatinannya terhadap mereka yang masih berada di luar [red. mahasiswa-mahasiswi pecahan dari kampus UPG 45 yang sedang berada di kampus lain], yang belum selesai dan kesulitan wisuda karena syarat akademik dan syarat undang-undang yang mengharuskan kampusnya terakreditasi.

“Saya prihatin dengan mereka dan terhadap mereka kita tetap terbuka. Tentunya saya akan mengakomodir mereka tetapi sesuai dengan regulasi. Prosesnya minimal 1 hingga 2 semester terakhir di UPG 45 baru bisa diproses lebih lanjut untuk wisuda.” Ungkap Selan.

David Selan mengungkapkan bahwa ia tidak mendendam siapa pun. Terlepas pengalaman masa lalu ada salah paham dan disakiti dengan caci-maki; baik di medsos maupun di media surat kabar bahkan di setiap demo-demo di jalanan.

“Saya kedepankan aspek manusiawi. Mereka dulu hanya keliru saja dan saat ini mereka sudah menemukan jalan terbaik dan ingin kembali. Sebagai manusia kita siap mengakomodir mereka sesuai regulasi.” Jelas Selan.

Mahasiswa-mahasiswi yang sementara berada di luar dan yang sempat berada di UPG 45 sejak tahun 2013 atau 2014 belum DO serta datanya masih ada di FORLAP, Rektor UPG 45 itu mengharapkan mereka segera datang untuk direhabilitasi dengan status pindahan ke UPG 45 dan akan diperlakukan sesuai peraturan regulasi hari ini.

Menurut data UPG 45 jumlah mereka masih sekitar 2000-an dan bekerja dimana-mana; di Bali, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan di Papua. David Selan mengharapkan mereka kembali untuk menyelesaikan studi mereka.

Ketiga, dalam wisuda periode ketiga ini ada satu mimpi baru yakni memberlakukan peraturan baru Menrisetdikti No.59 tahun 2015 tentang E-Learning. E-Learning merupakan satu sistem pembelajaran online yang mana mahasiswa-masiswinya bisa kuliah atau belajar tanpa harus berada di kampus/kota. Ia bisa berada dimana saja dengan dukungan internet, sofware, IT yang bagus untuk kegiatan KBM. Terkait ini, Selan mengeaskan bahwa UPG 45 harus mendapatkan satu surat resmi dari DIKTI baru bisa melaksanakan rencana tersebut.

Keempat, UPG 45 dalam target kedepan ingin membuka program studi parawisata sesuai dengan arahan gubernur NTT. Terkait ini UPG 45 memberi kesempatan kepada putera-puteri terbaik daerah dengan kualifikasi sarjanah atau magister dan doktor parawisata untuk melamar ke UPG 45 agar prodi parawisata bisa dibuka segera.

Terakhir kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur yang mempercayakan anaknya dididik di UPG 45 sampai tuntas, Selan menyampaikan terima kasihnya atas kepercayaan menitipkan anak-anak mereka untuk belajar di UPG 45.

“Kami tidak sempurna tetapi kami sudah cukup membekali mereka dari segi ilmu pengetahuan dengan harapan para alumni ini suatu ketika mereka menjadi orang sukses dan mandiri serta menjadi pemimpin masa depan NTT dan seluruh daerah di Indonesia.” Ungkap Selan.

Rektor UPG 45 itu juga berpesan bahwa UPG 45 tetap membuka diri untuk siapa saja yang mau datang belajar di UPG 45 ditahun 2020 nanti. UPG 45 menyediakan beasiswa; LLDIKTI, DIKTI, Gubernur NTT dan Wali Kota serta DPR RI dan beasiswa Bidik Misi. [kos//kos].

Comments
Loading...