Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

RS.Siloam Kupang Perkenalkan ESWL, Cara Penanganan Batu Ginjal Tanpa Pembedahan

0 177

KORANTIMOR.COMKUPANGRS Siloam Kupang sudah memiliki Nusa Tenggara Neurologi Center yang memperkenalkan metode ESWL sebagai langkah alternatif menangani pasien batu ginjal yang takut operasi. Sejak 2016 hingga 2019 ini RS Siloam Kupang memiliki 2 dokter spesialis neurologi yang mampu menangani 2 juta pasien batu ginjal dari seluruh NTT.

CEO RS. SILOAM KUPANG, dr. Hans Saat Media di Aula Lantai VI RS. SILOAM Kupang (4/12/2019)

 

Demikian penjelasan CEO RS. Silaom Kupang, dr. Hans, saat kegiatan Media Gathering: Penanganan Batu Ginjal Tanpa Pembedahan menggunakan alat Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy [ESWL]” di Aula lantai IV RS. Siloam Fatululi, Kecamatan Oebobo – Kota Kupang [Rabu, 4/12/2019].

Tema ini penting bagi RS. Siloam, lanjut dr.Hans, karena batu ginjal menjadi masalah untuk para pasien. Terutama yang membutuhkan treatment memecahkan batu ginjal/mengeluarkan batu ginjal tetapi takut dioperasi. Apalagi pasien dengan komplikasi penyakit selain batu ginjal dan yang beresiko tinggi untuk operasi sehingga membutuhkan alternatif lain.

Menurut CEO RS Siloam itu, yang juga menjadikan tema gathering spesial karena alat yang dipakai RS Siloam Kupang [ESWL] untuk penanganan batu ginjal tersebut adalah alat yang memang terdepan di golongannya.

“Ini ferarinya” ESWL, karena mereknya sudah terdepan di dunia, Richard Wolf tipe 3000, hanya satu tingkat dari yang paling tinggi yaitu 3000 plus. Yang datang di kita adalah ESWL 3000 yang memang bahkan rumah sakit-rumah sakit termahal di Jakarta menggunakannya.” Tandas Hans.

Lebih lanjut dr. Hans membeberkan bahwa yang lebih spesial ditahun 2019 ini, Rumah Sakit Siloam [Siloam Group] memulai layanan SWL di dua Rumah Sakit yakni RS. Lipo Village-Karawacit dan RS.Siloam di Tangerang. Keduanya memilki SWL yang sama persis seperti yang ada di Kupang.

“Jadi apakah ketika kita sakit batu ginjal kita perlu ke Jakarta, Karawacit dan Tangerang untuk mendapatkan pelayanan SWL? Menurut saya kalau pelayanannya sama dan dokter specialistnya juga sama, ya tidak perlu lagi kesana karena di Kupang kita memiliki dokter spesialis neurologi yakni dr Erick dan dr Firman.” Pungkas dr. Hans.

Dr Hans juga membeberkan bahwa karena mengingat RS. Siloam Kupang memiliki alat tersebut [SWL], maka tentu Siloam Kupang juga membutuhkan kehadiran dua dokter spesialis neurologi yakni dr. Erick dan dr. Firman.

RS Siloam Kupang saat ini sangat terbantu melalui kehadiran 2 figur tersebut. Terlebih karena untuk mengoperasikan alat tersebut memang butuh orang yang harus menunjukan bagaimana cara gunakan alat itu. Oleh karena dr Erick bukan superman maka kita harus menjadi jadi satu super tim.

CEO RS Siloam Kupang itu juga menjelaskan bahwa dr Firman sudah hadir di RS. Siloam Kupang sejak bulan Mei 2019 sedangkan dr. Erick sudah berada di Kupang sejak tahun 2016. Ia datang dari Bandung untuk mendedikasikan diri memberi layanan neurologi ESWL di Kupang. Bersama dr. Erick, mereka ditugaskan untuk memberikan layanan neurologi dengan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada.

“Kami juga berharap dengan adanya mereka dan alat-alat tersebut bisa memberi dampak layanan kesehatan yang bisa dinikmati masyarakat, mengingat kasus-kasus batu ginjal sangat tinggi ditemukan di NTT. Khususnya di Kota Kupang karena memiliki banyak lapisan karang sehingga berpengaruh terhadap air yang dikonsumsi masyarakat. Tetapi pelayanan ini tidak hanya untuk masyarakat Kota Kupang tetapi untuk seluruh masyarakat NTT.” Papar dr. Erick.

Pasien-pasien dr Erick tidak saja dari NTT, tetapi dari luar NTT seperti; Saumlaki dan Timor Leste. Jadi semoga tidak hanya memberi manfaat bagi masyarakat Kota Kupang saja tetapi manfaat yang lebih besar/bagi semua orang.

“Hari ini kita jadwalkan 3 pasien dan dari kemarin kita sudah ada 11 pasien yang menjalani penanganan batu ginjal. Bukan hanya pasien asuransi swasta tetapi juga pasien BPJS kita layani.” Tegas dr.Hans.

Diakhir sambutannya, dr. Hans menitip harapan semoga melalui acara tersebut, selain media diperkenalkan dengan SWL tetapi juga diperkenalkan kegunaan dari SWL itu apa dan apa yang harus dilakukan serta bagaimana sakitnya, dsb.

Sementara itu dr. Erich Sebastian Tau, pada kesempatan materinya, menguraikan bahwa tahun 2016 banyak pasien batu ginjal asal NTT dirujuk ke Bali, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta dan Kota besar lain untuk pengobatan dan operasi batu ginjal. Rata-rata pengobatan mereka ini memakan biaya besar.

Alasanya selain butuh biaya transport dan perawatan pasien juga butuh biaya bagi anggota keluarga yang ikut untuk menjaga pasien. Kadang mereka harus menunggu selama 7 bulan untuk dapat operasi. Sayangnya ada yang pulang tanpa mendapatkan hasil apa-apa.

“Oleh karena itu kita [RS. Siloam] sudah mempunyai visi yakni membangun Nusa Tenggara Neurologi Center dan sejak tahun 2016 kita sudah mulai dengan praktek neurologi terbuka. Waktu itu masyarakat NTT 2 juta, sedangkan saya seorang sendiri.” Tandas Erick.

Lebih lanjut pria yang merupakan Anggota Ikatan Dokter Spesialis di UI dan Anggota Ikatan Ahli Neurologi Indonesia itu menjelaskan bahwa karena jumlah pasien yang banyak, maka sejak tahun 2016 Ia memulai langkah pertama operasi terbuka.

“Tahun 2016 sudah mulai adakan endorscopy dan lalu masuk lagi alat crop prostat. Baru tahun 2017 hingga 2019 juga kita memiliki mikroskopi open dan rekonstruksi uretra. Jadi kita rujuk pasien yang kelainan uretra atau kerusakan akibat kecelakaan dan kelainan genetik sejak lahir sudah untuk bisa ditangani sejak Desember ini. Desember 2019 ini kita sudah bisa ESWR.” Jelas dr. Erick.

Batu Ginjal
Menurut dr. Erick ada saluran yang turun dari ginjal ke kantong kemi. Batu ginjal bisa berada di ginjal, bisa berada disaluran dari ginjal ke kantong kemi, bisa berada di kantong kemi dan bisa berada di saluran kencing, dsb.

Banyak kasus batu ginjal sesuai pengalaman penanganan dr Erick ada di saluran ginjal yang menghubungkan ginjal dengan kantong kemi dan diantara ginjal dan kantong kemi.

Banyaknya kasus batu ginjal yang dialami baik laki-laki dan perempuan adalah 3:1. [3 laki-laki berbanding 1 perempuan]. Artinya penderita ginjal terbanyak adalah laki-laki khususnya yang usia 40 hingga 50 tahun. Tetapi di NTT saya pernah menemukan anak 3 Tahun menderita batu ginjal. Pasien tersebut dirujuk ke Jakarta ke bagian konsultan neurologi anak. [kos//kos]

Comments
Loading...