Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Sexisme Itu Pengingkaran Humanitas Perempuan

0 88
Fr. Ponsy Lg, CMF

Kupang – Koran Timor.Com – Seksisme Itu Pengingkaran Humanitas Perempuan.

Fr. Ponsy Lg, CMF

Seksisme
Secara umum seksisme bisa diartikan sebagai “diskriminasi terhadap perempuan atau laki-laki yang didasarkan pada jenis kelamin”[Nadiatus Salama]. Diskriminasi itu dibuat dengan alasan yang tak mendasar.

Dalam masyarakat patriakal misalnya perempuan kerap menjadi korban seksisme tanpa alasan jelas.

Budaya patriakal mengutamakan laki-laki sambil mengesampingkan perempuan, walaupun kehadirannya di samping tak tergantikan. Akibatnya dalam masyarakat patriakal, dikala menjadi istri, perempuan tidak bergerak ketika dibentak; dimarah menyerah; dipukul pun terserah.

Diskriminasi terhadap perempuan menyata sepanjang sajarah. Di era Yunani kuno dikenal deipnon (perjamuan makan “malam”) dan symposion (pesta minum). Dalam kedua perjamuan itu perempuan hadir untuk memberi nuansa erotis-eksotis walaupun sebenarnya tidak etis.

Diskriminasi terhadap perempuan begitu kuat sampai turut mengkondisikan pola pikir para ahli. Misalnya antara lain Jean Jacques Rosseau yang menguak sentimen seksisme dengan mengatakan bahwa laki-laki itu rational sedangkan perempuan itu emosional semata.

Kemudian Arthur Schopenhauer sang Filsuf Jerman tak kalah menganggap perempuan sebagai “mahluk bawaan,” [Budiman, 2013] semacam tahap menengah antara anak-anak dan laki-laki dewasa.

Jelaslah bahwa seksisme atau diskriminasi terhadap perempuan. Dalam wujudnya yang paling radikal, sikap diskriminatif ini berujung pada pengingkaran terhadap kemanusiaan perempuan. Sebagaimana disingkap dalam literasi klasik mulieres homines non esse atau women are not human [Theresa M. Kenney, 1998], perempuan bukanlah manusia.

Pengingkaran Terhadap Humanitas Perempuan

Jika manusia itu citra Allah [imago dei], maka pengingkaran terhadap humanitas [kemanusiaan] perempuan itu bentuk penegasian terhadap Allah. Sebab Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan menurut gambar-Nya diciptakan-Nya: laki-laki dan perempuan” (cf. Kej. 1:27).

Tentang ini Sufi Andalusia Ibn’ Arabi menguraikan bahwa “penampakan Tuhan paling sempurna justeru terjadi dalam diri perempuan”. Dengan demikian diskriminasi terhadap perempuan serentak merupakan diskriminasi terhadap Tuhan [Muhamad Al-fayydal, Wajah Perempuan, Wajah Tuhan, 2006].

Diskriminasi terhadap perempuan [seksisme] sudah tertanam di dalam jiwa sehingga kesaksian perempuan kerap tidak diperhitungkan.

Dalam konteks Indonesia, seksisme dapat ditelusuri dari penggunaan kata dan kalimat dalam berbahasa. Contoh kongkrit antara lain ada pengakuan kolektif terhadap negeri ini sebagai “Ibu Pertiwi”. Tetapi di lain sisi negeri yang disebut Ibu Pertiwi ini tak luput dari diskriminasi terhadap perempuan.

Lalu katan “pelacur misalnya”. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kata “pelacur” sebagai perempuan yang melacur; wanita tunasusila; wanita sundal. Semua subyeknya menunjuk pada “perempuan”.

Akibat dari struktur bahasa Indonesia yang demikian, secara bahasa laki-laki bebas dari label “pelacur”, sebab “pelacur” hanya menunjuk pada perempuan. Padahal jika dilihat secara tegas, perempuan tidak bisa dikatakan “pelacur” tanpa adanya laki-laki yang melacuri atau dilacurinya.

Atau kata “crewet”. Dalam penggunaanya kata crewet selalu dikaitkan dengan perempuan yang banyak bicara. Tetapi jika yang banyak bicara adalah laki-laki tidak disebut cerewet.

Kemudian dalam konteks dunia seni, para seniman sastra dan musik sangat suka ber-metafora. Gadis disebut bulan dan lelaki disebut matahari.

Jadi jika perempuan disamakan dengan bulan dan laki-laki dikaitkan dengan matahari, maka secara implisit disingkapkan heteronomi perempuan terhadap laki-laki [bersambung…].

Oleh Fr Ponsy Lg, CMF

Comments
Loading...