Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Leburaya: “Terkait NTT Fair, Saya Tidak Pernah Terima Amplop Berisi Uang”

0 402

Kupang – Koran Timor.Com – Frans Leburaya kembali bersaksi disidang lanjutan korupsi Proyek Pembangunan Kawasan NTT Fair 2018 di Pengadilan Tipikor Kupang [15/11/2019]. Dalam keterangannya, Mantan Gubernur NTT itu tegaskan tidak pernah’ dan ‘tidak tahu’ terkait titipan amplop berisi uang dari YA.

Mantan Gubernur NTT, Drs. Franz Leburaya Saat Memberi Keterangan di Sidang Kasus Korupsi NTT Fair (15/11/2019)

Sidang korupsi uang negara sebesar Rp 29 Miliar dengan nomor perkara 40/PID.SUS-TPK/2019/PN itu menghadirkan terdawa Hadmen Puri [Direktur PT.Citra Eka Puri] dan saksi YA dan Erwin Makatita serta Mr. Lee dan Linda selaku pemegang proyek atas nama PT.Cipta Eka Puri.

Sidang dipimpin majelis hakim; Dju Johnson Mira Mangi [Ketua] didampingi Ari Prabowo dan Ali Muhtarom sebagai Hakim Anggota. JPU terdiri dari Hendrik Tiip SH dan Emerensiana Djemahat SH serta Franklin SH.

Bantahan Frans Leburaya tersebut terkait hasil keterangan terdakwa YA dan ajudannya [Bobi] serta ajudan Frans Leburaya [Aryanto] disidang sebelumnya, yang mengatakan pernah menitipkan amplop berisi uang melalui Bobi, yang mana kemudian Bobi serahkan ke Aryanto. Lalu Aryanto lanjut menyerahkan amplop berisi uang tersebut ke Leburaya.

Soal perkembangan pembangunan NTT Fair Leburaya tidak pernah bertanya langsung ke YA. Tetapi sebagai gubernur pernah bertanya di rapat-rapat evaluasi dinas bersama semua SKPD.

Menurut Leburaya YA hanya pernah satu kali datang menemuinya dan melaporkan bahwa proyek NTT Fair akan dilelang. Saat itu Frans hanya mengatakan kepada YA agar melakukan lelang sesuai aturan/mekanisme.

Lanjut Leburaya menerangkan bahwa YA kemudian datang lagi memberitahukan kepadanya tentang rencana peletakan batu pertama [ground breaking] proyek NTT Fair.

“Saat itu sebagai gubernur saya hanya katakan siapkan dengan baik.” Tandas Leburaya.

Leburaya juga membantah datang bersama YA ke lokasi proyek NTT Fair saat peletakan baru pertama. Frans menegaskan saat itu ia datang ke lokasi ground breaking proyek NTT Fair ditemani ajudannya.

Selama menjabat sebagai Gubernur, lanjut Leburaya, saya hanya memiliki dua orang ajudan yakni Aryanto dan Jackson. Tugas keduanya bergantian kadang 2 hari sekali, kadang 1 hari sekali tergantung pengaturan. Tetapi tidak pernah menerima titipan amplop dari YA lewat ajudan.

“Pernahkah saudara saksi meminta YA sebagai kuasa pengguna anggaran NTT Fair fee sebesar 2,5% ?” Tanya Hakim Dju Johnson Mira Mangi.

Frans Leburaya menjawab tidak pernah. Lalu tentang apakah Ia pernah bertanya kepada terdakwa YA siapa dan yang mana Kontraktor Proyek NTT Fair, Frans juga katakan tidak pernah bertanya.

Frans membantah pernah memanggil dan memarahi YA terkait Proyek NTT Fair yang belum selesai dan memintanya untuk segera offer pengerjaan proyek NTT Fair ke kontraktor lain. Ia hanya mendorong percepatan penyelesaian kerja proyek.

Tentang keterangan Aryanto yang mengatakan pernah dua kali menyerahkan amplop berisi uang kepada Leburaya dan meletakannya di atas meja, Frans kembali mengatakan tidak tahu karena di atas meja selalu ada banyak buku.

“Selama saya menjadi gubernur saya tidak pernah membuka amplop yang berisi uang.” Tegas Leburaya.

Walau selama 5 tahun menjadi gubernur, lanjut Leburaya, saya menerima banyak amplop dari orang lain tetapi amplop-amplop tersebut umumnya berisi majalah dan kalender serta buletin.

Mantan gubernur NTT itu juga mengatakan YA tidak pernah mengkonfirmasi dengan dirinya telah menitipkan sesuatu kepadaNya melalui ajudanNya.

Sementara itu YA pada kesempatannya menerangkan bahwa setelah Bobi menyerahkan amplop berisi uang ke ajudan Leburaya, Bobi mengkonfirmasi bahwa amplop tersebut sudah diserahkan kepada Leburaya melalui ajudan Leburaya bernama Aryanto.

Namun YA mengakui tidak pernah berkonfirmasi langsung ke Leburaya soal kepastian amplop berisi uang tersebut sudah diterima Gubernur Leburaya atau belum.

Mantan Gubernur Leburaya juga mengatakan tidak pernah bertemu dan tidak pernah mengenal atau diperkenalkan dengan Hadmen Puri.

Selanjutnya terkait keterangan YA disidang sebelumnya yang mengatakan memberi uang sebesar Rp 100 juga kepada Sekda NTT, Benedictus Polomaing dan yang diakui Ben Polomaing digunakan untuk pembayaran sewa beli ex Mobil Dinas Gubernur, untuk kemudian diberikan kepada Leburaya mengingat masa jabatannya sebagai gubernur hampir selesai, Leburaya mengatakan tidak tahu dan tidak pernah diberitahukan secara langsung oleh Ben Polomaing.

Leburaya mengakui Ben polomaing meberi kwitansi pembayaran itu melalui saudari Leburaya. Kwitansi itu juga diantar oleh saudari Ben Polomaing.

Sikap Leburaya setelah menerima kwitansi tersebut ialah diam tetapi kemudian mengembalikan lagi kwitansi itu kepada Ben Polomaing melalui saudarinya.
Mobil itu juga tidak pernah ada di Frans Leburaya. Tetapi bahwa pernah mengajukan sewa beli ex mobil dinas dimaksud, Leburaya menjawab pernah.

Sidang akan dilanjutkan hari Rabu depan [20/11/2019] pukul 10.00 WITA [kos/kos]

Comments
Loading...