Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Marsel Robot: “Malas Membaca Berakibat Kebangkrutan Membangun Gagasan“

0 193

Koran Timor.Com – Kupang – Tampil sebagai pemateri dalam Pertemuan BAKOHUMAS NTT di Papa Johns’ Hotel [Selasa, 12/11/2019] dalam rangka Gerakan Membaca Melalui Literasi, Akademisi Universitas Nusa Cendana Kupang, Dr. Marsel Robot menegaskan tidak ada bangsa besar tanpa membaca.

“Kalau kita tidak membaca, maka kita akan mengalami kebangkrutan membangun gagasan-gasan atau ide-ide. Kita rentan terhadap perubahan dan atau menjadi pasien dari perubahan itu sendiri.” Jelas Robot.

 

 

 

Marsel Robot pada kesempatan bicaranya menekankan literasi itu kecakapan membaca. Terkait hal itu ada dua bentuk literasi yakni literasi awal yang bertujuan agar orang bisa membaca. Dalam konteks ini orang tidak bisa membaca disebut buta huruf.

Namun ada satu kebutaan baru, lanjut Marsel, yakni mereka yang malas membaca dan tidak pernah membaca berita dan apalagi buku.

Kalau kita tidak membaca maka kita akan mengalami kebangkrutan membangun gagasan-gasan atau ide-ide. Kita rentan terhadap perubahan dan atau menjadi pasien dari perubahan itu sendiri.

“Ada 2 alat untuk mengubah dunia yakni cangkul  untuk mencangkul tanah. Kedua, itu pena untuk ‘mencangkul’ di atas kertas guna menghasilkan tulisan atau buku.” Tandas Robot.

Buku itu jendela dunia. Buku juga itu hard disk external yang menyimpan “hasil pertengkaran manusia dengan lingkungan” yang menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan itu lahir salah satunya ialah dari kebiasaan membaca.

“Tidak ada bangsa besar tanpa membaca. Oleh karena itu literasi gerakan membaca atau membangun budaya baca itu perlu.” Tegas Marsel.

Bagaimana membangun atau mengembangkan literasi gerakan membaca masyarakat dalam hidup setiap hari, Robot membeberkan beberapa strategi penting antara lain;

  1. Menjadikan lingkungan sosial ruang baca; misalnya di terminal, di jalan, market, dsb. Termasuk Medsos karena medsos memuat jutaan buku. Tergantung bagaimana mengunakannya untuk meningkatkan daya baca.
  2. Menciptakan literasi membaca di lingkungan keluarga. Anak menjadi peminat membaca buku sangat ditentukan oleh keluarga. Keluarga yang mengakrabkan diri dengan kebiasaan membaca menjadikan anak itu berpengetahuan. Keluarga yang malas membaca/tidak literatif tidak bisa mengharapkan anaknya menjadi briliant di lingkungan sekolah.
  3. Menjadikan sekolah medan literasi anak. Biasakan anak baca kemudian konfrontasikan apa yang dia baca. Dengan demikian anak tidak sekedar melihat buku karena disuru, tetapi benar-benar mendalami isi buku itu dengan sungguh.
  4. Ciptakan budaya membaca juga di lingkungan kantor dengan membiasakan diri membaca dua jam sehari.

Mengakhiri materinya Marsel Robot mengajak peserta pertemuan BAKOHUMAS untuk rajin membaca. “Jangan berhenti ‘bertengkar’ dengan kenyataan’. Mari membaca.” Tandas Robot. [maskus]

Comments
Loading...