Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Bank NTT Berkomitmen Go TKB 2 Ditahun 2021

0 52

KORANTIMOR.COM – KUPANG –

Bank NTT berkomitmen memperbaiki Tingkat Kesehatan Bank (TKB) dari posisi 3 (cukup sehat) ke posisi 2 (sehat) melalui program Bank NTT Go TKB 2 pada tahun 2021.

Demikian disampaikan Direktur Umum (Dirut) Bank NTT, Aleksander Riwu Kaho dalam sambutanya saat kegiatan Media Gathering bersama sejumlah wartawan dan media di Kupang pada Kamis (16/12/2020).

“Go TKB 2 adalah tekad semua insan di Bank NTT untuk memiliki komitmen sesuai road map and action plan; bersama-sama mewujudkan kesejahteraan Bank NTT dari kondisi 3 (cukup sehat) menjadi kondisi 2 (yaitu sehat),” tandas Riwu Kaho.

Komitmen tersebut, lanjut Riwu Kaho, berdasarkan road map dan action plan managemen Bank NTT melalui konsultasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan telah dilaporkan ke Pemegang Saham Bank NTT.

Menurut Dirut Bank NTT itu, untuk mencapai cita-cita tersebut diperlukan langkah- langkah perbaikan, bukan hanya pada sisi kredit tetapi juga pada manejemen perkreditan GSG. Pembenahan risk profile yang mencakup resiko kredit, resiko operasioanal, resiko kepatuhan, dan sisi permodalan. “Khusus dari sisi permodalan, kita sudah dapat dukungan yang kuat dari para pemegang saham; baik itu Pemegang Saham Pengendali, pemegang saham seri A dan Seri B,” ujarnya.

Dukungan yang lain, lanjut Riwu Kaho, yaitu dari Pimpinan DPRD dan seluruh anggota DPRD, dimana DPRD telah memiliki satu kesepahaman tentang ketentuan POJK dan Bank NTT di tahun 2024 wajib memiliki modal inti minimum sebesar Rp 3 Triliun. “Hal ini telah disosialisasikan kepada semua perangkat daerah; baik itu eksekutif maupun legislatif sehingga ada kesepahaman dan dukungan yang tertuang dalam PERDA bagi daerah yang sudah selesai melakukan proses APBD dan RAPBD bagi daerah yang saat ini sedang berproses,” paparnya.

Bank NTT, jelas Riwu Kaho, terus melakukan transformasi, baik itu tranformasi digitalisasi dan elektronifikasi, maupun transfromasi dalam budaya kerja. Transformasi tersebut akan berkontribusi pada fungsi Bank NTT sebagai agen of development untuk pembangunan, yang akan dilakukan oleh pemerintah provinsi, kabupaten dan kota yang bisa terukur dari peran bank NTT dalam PAD dan juga peran dalam bidang –bidang lain di kabupaten dan Kota.

“Dengan visi menjadi bank yang sehat kuat dan terpercaya serta dengan misi yang sama, transformasi tersebut dapat dilaksanakan oleh semua insan bank NTT. Di sisi layanan, tahun depan (tahun 2021, red) Bank NTT akan melakukan sentralisasi report/laporan. Kemudian Bank NTT juga melakukan perbaikan dari layanan konvensional menjadi smart bank, sesuai dengan tag line HUT ke 58 Bank NTT bahwa bank NTT bangkit tumbuh dan berubah,” papar Riwu Kaho.

Riwu Kaho juga menjelaskan bahwa Bank NTT sedang berproses untuk me-launching Generasi II M banking, dimana user friendly yaitu ramah terhadap semua pengguna dengan beberapa kemajuan- kemajuan dalam transaksi. “Kita juga lagi proses beberapa layanan proses izin dari OJK terkait simulasi pinjaman. Selanjutnya kami juga akan melakukan perbaikan – perbaikan transaksi di daerah, yang akan direalisasikan dalam rencana kerja tahun 2021,” terang Riwu Kaho.

Pada kesempatan itu, Riwu Kaho juga mengatakan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Bank NTT masih kuat. “Kepercayaan itu dapat diukur dari dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat dan dikelola oleh bank NTT. Kemudian sisi kredit, di tengah situasi pandemic ketika sektor perdagangan jasa mengalami stagnan bahkan penurunan dalam skala- besar, penyaluran kredit terus bertumbuh dengan baik,” ungkapnya optimis.

Pihaknya, kata Riwu Kaho, berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam jumlah yang sangat luar biasa. “Dalam situasi yang ada saat ini, dapat kami sampaikan bahwa sampai dengan posisi per tanggal 16 Desember, kita mampu menghimpun dana pihak ketiga sebesar Rp 12,023 Triliun. Itu terdiri dari giro Rp 3,304 Triliun, tabungan Rp 3,774 Triliun, deposito Rp 4,944 Triliun,” rincinya.

Dari total DPK yang dihimpun, lanjut Aleks Riwu Kaho, pihaknya berhasil menyalurkan pinjaman hingga mencapai Rp 10,762 Triliun dengan total asset Rp 15,972 Triliun. “Data tersebut masih bersifat sementara, karena data resmi setelah ada audit dari KAP (Kantor Akuntan Publik, red) yang mana prosesnya (audit, red) sedang dilakukan,” ujarnya.

Di tahun buku 2020, pihaknya berharap proses KAP dapat dilakukan dengan cepat. “Sehingga bulan Januari 2020, nanti sudah selesai dan kita bisa umumkan kepada publik. Tahun sebelumnya (tahun 2019,red) diselesaikan dalam waktu bulan April. Tetapi tahun ini manejemen bank NTT melakukan suatu langkah perubahan, sehingga memasuki akhir tahun buku 2020 sudah mulai dilakukan proses audit oleh KAP yang ditentukan oleh bank,” ungkapnya.

Aleks Riwu Kaho mengatakan bahwa dari penghimpunan dan penyaluran dana 2019, laba yang diperoleh baru mencapai Rp. 302 Milyar. Jumlah ini belum final karena harus diaudit terlebih dahulu oleh KAP baru bisa diumumkan ke publik.

Walau demikian, bagi Aleks Riwu Kaho, angka Rp 302 Milyar menunjukan optimisme yang baik, bahwa walau dalam situasi pandemi Covid-19 yang luas, tingkat kepercayaan masyarakat kepada bank NTT masih tinggi.

Peran Penting Media
Pada kesempatan yang sama, Dirut Bank NTT, Aleks Riwu Kaho juga mengungkapkan latar belakang dilaksanakannya kegiatan Media Gathering, yakni pertama, ungkapan terima kasih atas kemitraan Bank NTT dan media/pers  yang berjalan baik selama tahun 2020 ini sehingga Bank NTT mengalami pertumbuhan yang positif.

“Disadari bahwa di dalamnya ada peran penting dari teman –teman wartawan dan media. Peran itu dilakukan melalui pemberitaan- pemberitaan positif yang menguatkan bank NTT. Dan juga pemberitaan yang sifatnya kritik yang membangun demi kemajuan bank NTT. Karena dari kritik-kritik itu memberikan daya kepada bank NTT untuk melihat secara internal dan berefleksi hal- hal mana yang patut diperbaiki, hal mana yang perlu disempurnakan. Kita lakukan penyelarasan dengan pemberitaan- pemberitaan yang diberikan. Oleh karena itu, kontribusi pers sangat penting dalam memberikan kekuatan kepada bank NTT, yang akan terus tumbuh,” ujar Aleks Riwu Kaho

Kedua, lanjut Aleks Riwu Kaho, kita berharap kemitraan tidak bisa diakhiri atau ditiadakan begitu saja, karena dalam kondisi dinamika industri perbankan dan dampak pandemi Covid-19 memberikan dampak, sehingga pihaknya membutuhkan kerjasama dan sinergitas. “Kita tidak tahu apakah kita mengakhiri tahun 2020 dengan situasi yang baik atau normal, ataukah akan ada pembatasan- pembatasan tertentu, yang berpengaruh pada tidak jalanya kondisi ekonomi sesuai harapan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, gejala- gejala ketidakstabilan (ekonomi, sosial dan politik, red) mulai terlihat. “Di Negara- Negara Eropa kembali menerapkan lock down, sehingga kita mendapatkan himbauan melalui Menko Kemaritiman dan Investasi untuk pemerintahan, khususnya yang di Jakarta untuk membuka mall – mall dan tempat himburan. Padahal mall dan tempat hiburan sumber PAD bagi DKI. Semoga NTT tidak terkena kebijakan- kebijakan yang berhubungan dengan kontrol terkait COVID 19,” ungkapnya. (kt/tim)

Comments
Loading...