Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Penyintas Covid 19: “Saya Hadiri Pesta Sebelum Dinyatakan Positif Covid 19

0 84

KORANTIMOR.COM – KUPANG –

Imo Ataupah, salah seorang penyintas Covid 19 mengaku sebelum dinyatakan positif Covid 19 oleh pihak medis, dirinya sempat menghadari beberapa acara pesta yang melibatkan kerumununan massa; baik itu pesta nikah maupun hajatan duka pemakaman orang meninggal.

Imo Ataupah saat konferensi pers di Media Center Lantai I Kantor Gubernur NTT (4/12)

Demikian testimoni yang disampaikan Imo Ataupah pada konferensi pers (konpres) yang diadakan Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terkait perkembangan Covid 19 di NTT, pada Jumat (4/12/2020) di lantai I Kantor Gubernur NTT.

“Sebelum saya dinyatakan positif covid, saya sebelumnya menghadiri acara yang melibatkan kerumunan masa yang besar, yaitu ada pesta pernikahan dan pemakaman orang mati, dan kemungkinan saya terpapar disana”tandasnya.

Imo Ataupah merupakan mantan pasien Covid 19 akibat transmisi lokal yang dirawat selama 17 hari di RSU SK. Lerik Kupang Kota, yang kemudian dinyatakan telah sembuh.

Dihadapan awak media, Imo membeberkan gejala- gejala yang dialami saat terinfeksi Covid 19, diantaranya; demam tinggi dan sesak nafas serta diare selama satu minggu. Menurut Imo, hal utama yang sangat membantu dirinya bisa selamat dari Covid 19 ialah kemampuan mengelolah stress ditambah dukungan orang-orang terdekat yakni keluarga dan sahabat.

“Ketika tahu kondisi saya berat, saya mencoba untuk menekan rasa takut dan mengelolah stress. Saya juga membuang pikiran-pikiran negatif dan meyakinkan diri bahwa saya akan tetap hidup. Ditambah dengan energi positif berupa dukungan dari keluarga dan sahabat-sahabat yang terus-menerus yang membuat saya bisa berjuang melawan covid,” jelasnya.

Terkait pengalamannya, Imo berharap masyarakat tidak mengucilkan para pasien maupun penyintas Covid 19, karena sangat berpengaruh pada mental mereka. Ia juga berharap agar masyarakat tetap patuh pada protokol kesehatan dengan menerapkan 3M yakni mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. Ia juga menyarankan agar masyarakat menghindari acara yang melibatkan kerumunan massa yang besar seperti pesta.

Seperti yang disaksikan wartawan media ini, selain Imo Ataupah, hadir juga Karo Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Djelamu Ardu Marius,M.,Si dan 3 orang dokter spesialis penyakit dalam yakni dr. David yang bertugas di RSUD W.Z. Yohanes Kupang, dr. Riyadita yang bertugas di RSU Kupang Kota dan RS Bayangkara serta dr.Putu yang bertugas di RS Siloam Kupang.

Karo Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Djelamu Ardu Marius., M.Si bersama Imo Ataupah dan para dokter dalam konferensi pers di Kantor Gubernur NTT (4/12)

Dokter Riyadita selaku dokter yang menangani Imo Ataupah, pada kesempatan bicaranya mengungkapkan bahwa yang terjadi di masyarakat sekarang ini adalah stigmatisasi terhadap penderita Covid 19. Masyarakat begitu mendengar ada tetangganya yang postif Covid, maka tetangganya dilarang pulang ke rumah. Bahkan diusir dari kelurahannya.

Menurutnya, hal tersebut tidak bisa dibiarkan karena rumah sakit menjadi penuh, sebab pasien takut pulang ke rumah.

”Karena stigma ini yang membuat rumah sakit jadi penuh. Sebab pasien yang sudah membaik dan bisa isolasi mandiri di rumah, tidak mau pulang karena takut sama tetangganya. Tidak boleh ada stigmatisasi penderita Covid” tegasnya lagi.

Covid menular, kata dr Ryadita, lewat droplet sehingga cukup dicegah dengan mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak serta tidak perlu sampai mengusir penderita covid keluar dari rumahnya.

Sementara itu, dr.David mengungkapkan bahwa masyarakat tidak perlu takut dan cemas berlebihan dengan Covid 19, karena takut dan cemas dapat menyebabkan menurunya imun tubuh.

”Saya percaya satu hal yaitu hati yang gembira adalah obat yang manjur. Sebaliknya takut dan cemas membuat imun tubuh menurun. Covid itu memang ada, tapi kita harus berani tetapi juga harus waspada” tegas dr.David.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa penularan covid itu dari manusia ke manusia, sehingga yang bisa memutus rantai penularannya adalah manusia sendiri. Apabila rantai penularan ini diputus maka Covid akan berakhir.

Selanjutnya dr.Puput dalam kesempatan bicaranya menekankan agar masyarakat NTT disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Terutama disiplin dalam menggunakan masker. ”Saya lihat walaupun semakin hari jumlah pasien Covid semakin bertambah, terutama di NTT. Namun masyrakat pakai maskernya masih naik turun. Masih ada masyarakat yang menurunkan maskernya saat berbicara. Sebaiknya saat berbicara kita tetap menggunakan masker, bahkan ada yang tidak pakai masker saat berada di kerumunan,” paparnya.

Lebih lanjut dr Puput menyarankan agar pemerintah menindak masyarakat yang tidak disiplin dengan protokol kesehatan berupa teguran atau sanksi lisan maupun tertulis.

Sementara itu, Karo Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Djelamu Ardu Marius., M.Si mewakli Pemprov NTT menghimbau seluruh masyarakat NTT agar tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran Covid 19. Kongkritnya dengan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan terutama pesta.

Terkait Perayaan Natal dan Tahun baru, Marius Djelamu berharap para petinggi dan pemuka agama terutama gereja- gereja dapat mengeluarkan kebijakan, agar Perayaan Natal dan Tahun Baru dapat dijalankan secara online. ”Mudah-mudahan gereja-gereja kita mengeluarkan suatu kebijakan supaya perayaan Natal dan Tahun Baru bisa dilakukan dengan baik secara online bila perlu,” Ujar Djelamu. (ang/red).

Comments
Loading...