Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

LSM CIRMA Bangun Reservoar dan Mengalirkan Air Ke Pemukiman Warga Desa Tanah Merah

0 167

KORANTIMOR.COM – KUPANG –

LSM CIRMA (Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri) dalam kerjasama dengan pemerintah New Zeland membangun reservoar (sumur bor) dan mengalirkan air hingga titik-titik pemukiman masyarakat Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah-Kabupaten Kupang. Program tersebut bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan air bersih. Penerima manfaat program menanggapi bantuan tersebut dengan memanfaatkan air untuk konsumsi keluarga, kebutuhan WC-Kamar Mandi dan mencuci (MCK) serta mengembangkan usaha hortikultura di pekarangan rumah.

Anak-anak Keluarga Penerima Manfaat Program Reservoar air di Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang sedang gembira berpose di dekat bak penampung air yang dikerjakan CIRMA dalam kerjasama dengan Pemerintah New Zeland

Demikian disampaikan Direktur CIRMA Indonesia, John D. Ladjar dalam jumpa media di Kupang pada Senin (25/10/2020) terkait program pembangunan reservoar air bagi warga dusun 4 Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang.

Direktur Lembaga CIRMA,  John Mangu Ladjar

“Kita lagi lanjut kerjasama dengan Kedutaan Besar New Zeland untuk suplai air bersih bagi masyarakat Desa Tanah Merah melalui program pembangunan dan pengeboran reservoar. Pengeborannya sudah sampai kedalaman 75 meter dan airnya sudah didapatkan. Jadi sementara ini kami pasang casing untuk instalasi dan pembangunan bak penampung,” ujarnya.

Menurut John Ladjar, program suplai air tidak hanya sampai pada pengeboran air, akan tetapi sampai ke titik-titik di kompleks hunian. “Instalasi induknya disiapkan. Sementara di kompleks hunian ada beberapa titik. Jadi nanti disambung dari instalasi induk ke titik-titik yang ada di kompleks hunian,” imbuhnya.

Lebih lanjut John Ladjar mengungkapkan bahwa proyek yang memakan anggaran sebesar Rp, 213,000,000 (Dua Ratus Tiga Belas Juta Rupiah) yang mencakup biaya pengeboran dan instalasi serta manejemen air bersih itu, targetnya akan selesai pada bulan Desember 2020.

Terkait managemen pengelolaan atau pemanfaatannya bagi masyarakat, John menjelaskan bahwa untuk pegelolaan air atau manajemen airnya akan diatur oleh tim yang sudah dibentuk oleh penerima manfaat program yang terdiri dari 6 hingga 7 orang. Penerima manfaat program juga yang mengatur iurannya untuk pengoperasian pompa air. Mereka juga memiliki petugas teknis untuk mengatur akses air bagi seluruh masyarakat.

Para pekerja program pembangunan reservoir sedang berdiri dengan perlengkapan savety sebelum bekerja

“Bahwa untuk satu bulan itu dia (reservoar, red) bisa menggunakan pulsa listrik sekitar Rp 200,000-Rp 250,000. Itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat. Biaya tersebut bagi warga masyarakat murah dibanding kondisi mereka sebelumnya yakni harus membayar air tengki Rp 80,000/bulan,” ujarnya.

John Ladjar menambahkan bahwa dengan adanya sumur bor dengan jumlah ± 150 KK penerima manfaat air atau katakan 75 KK hingga 80 KK, maka Rp 250,000 bagi 75 atau 80 KK, harganya akan sangat murah. “Saya juga bilang ke warga untuk tidak kasih tunjuk bahwa mereka susah- susah amat. Jangan sampai dengan iuran air Rp 2000/ bulan saja tidak bisa bayar. Jadi saya ngomong dengan warga, kalau mereka sanggup dengan biaya Rp 25,000/bulan, maka akan dipungut Rp 25,000/bulan. Itu termasuk biaya pemeliharaan instalasi,” bebernya.

“Nah, apabila setuju Rp 25,000/bulan, maka satu bulan ada uang Rp 1,400,000. Kalau sekitar 10 bulan, artinya uang mereka mencapai puluhan bahkan belasan juta. Jadi kalian bisa pake itu uang untuk pinjam-meminjam, kasi putar itu uang bisa jadi koperasi air. Atau saya bilang kios air. Jadi kamu membeli air di sini, tapi kamu menyimpan uang anda,” imbuhnya.

Menurut John Ladjar, tim pengelola air akan mendampingi pengelolaannya dengan baik. Dana tersebut pinjam bunganya Rp 10,000. Setiap bulan iuran Rp 20,000 hingga Rp 25,000 dikembangkan menjadi pemasukan dan bisa dimanfaatkan untuk pengadaan bibit tanaman sayur guna pengembangan usaha pekarangan. “Atau bisa tanaman hortikultura atau pemeliharan ikan di kolam- kolam. Nah itu yang kita lagi rintis bersama mereka. Jadi konsep kita ialah ingin menjadikan dusun 4 model Dusun Hijau Desa Tanah Merah, Kecamantan Kupang Tengah,” paparnya lagi.

Sebuah keluarga penerima manfaat program reservoar berdiri dengan latar WC Kamar mandi program CIRMA

John Ladjar juga menjelaskan bahwa masyarakat dusun 4 Desa Tanah Merah masuk kategori kurang mampu. Mereka merupakan campuran antara warga Indonesia eks Provinsi Timor-Timor dan Warga Lokal. Jadi perbandingannya 60% warga Indonesia eks Tim-Tim dan 40% Warga Lokal.

CIRMA hanya membiayai satu titik sumur bor untuk 150 KK. Mereka juga mendapat bantuan dari Pemerintah, hanya model pendekatannya saja yang berbeda yakni memberi bantuan tidak mengikuti sampai lapangan. CIRMA ingin hadir langsung bersama masyarakat dan mengamati keseharian mereka dan kesulitan mereka. “Saya bicara dengan mereka dan mereka cerita sendiri bahwa selama ini mereka dapat bantuan renovasi rumah berupa seng dan semen serta lain- lain, tapi mereka jual. Sekarang pola pendekatannya kita rubah. Kita akses ke pola hidup yang lebih layak dan kita ikuti mereka terus agar mereka tidak lalai dan menyalagunakan bantuan tersebut,” pungkasnya.

Jadi CIRMA, lanjutnya, juga berusaha menjadikan masyarakat penerima manfaat program sebagai pengawas untuk bantuan (sumur bor, red) yang mereka terima . “Jadi untuk program pembangunan reservoar air dan kebun contoh itu, ada masyarakat yang menghibahkan tanahnya sebagai lahan contoh. Setiap warga yang ingin memakai air tersebut, harus menyiapkan bedeng di rumah. Kalau tidak mau menyiapkan bedeng, konsekuensinya tidak mendapatkan air,” ujarnya.

Ditanyai apakah penerima manfaat program tersebut menerima kebijakan dimaksud, John Ladjar menjawab bahwa masyarakat menerima. “Kita pake surat pernyataan. WC, Kamar Mandi juga mereka buat surat pernyataan. Jadi surat itu ditandatangani, setiap KK wajib mentaati semua butir- butir ini. Saat pertemuan dengan mereka dibacakan kalau setuju maka tanda tangan dan Pemerintah Desa turut hadir menyaksikan. Kita coba mengkomunikasikan hal tersebut dengan perangkat desa dan kecamatan serta pihak kesehatan sebelum program tersebut berjalan,” paparnya.

Kalau dari aspek kesehatan, katanya, CIRMA dalam kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang membantu menyuplai vitamin A untuk balita. Di bulan Juli 2020 lalu CIRMA menyuplai 31,000 kapsul lunak vitamin A untuk kebutuhan satu Kabupaten, termasuk di lokasi dusun 4 Desa Tanah Merah. Program tersebut merupakan kolaborasi CIRMA dengan Lembaga Vitamin Angel Amerika Serikat. Lembaga tersebut menyuplai vitamin dan obat cacing.

Awalnya CIRMA turunkan program, ada rencana pengadaan keramik tetapi masyarakat mengeluh bagaimana mungkin adakan keramik sementara air tidak ada. Jadi kita usaha adakan air, tetapi lagi-lagi masyarakat kurang akses alat untuk menghadirkan air sehingga langkah selanjutnya setelah ada air, CIRMA melakukan sosialisasi pola hidup bersih dan sehat. “Sebelum membangun WC Sehat, petugas dari CIRMA sudah mengedukasi penerima manfaat program tentang pola hidup sehat. Termasuk mengedukasi bagaimana menggunakan jamban, karena selama ini masyarakat masih menggunakan pola ‘WC Terbang’ alias BAB di sembarang tempat,” ungkapnya.

Terkait program CIRMA itu, kata John Ladjar, Pemerintah Kabupaten Kupang mengapresiasi dan menyambut baik program tersebut setelah CIRMA melaporkan bahwa CIRMA telah melakukan pembangunan WC Sehat. “Jadi kita memberi kontribusi pada pembangunan-pembangunan yang seharusnya dilakukan oleh PEMDA. Nah kan program Pemkab Kupang sampai tahun 2030 semua masyarat bisa mengakses air bersih dan WC sehat. Kalau saya googling, hampir 80% masyarakat tidak punya wc sehat dan akses air bersih. Penelitian dari BENGKEL APEK itu ada sekitar 10% masyarakat masih BAB sembarangan,” imbuhnya. (kt/tim)

Comments
Loading...