Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Pemprov NTT Targetkan Produksi Garam NTT Capai 500 Ribu Ton

0 62
KORANTIMOR.COM – KUPANG –

Pemerintah Provinsi NTT menargetkan produksi garam NTT hingga mencapai 500 ribu ton pada tahun 2021 mendatang untuk menyuplai kebutuhan garam nasional yang mencapai lebih dari 3 juta ton per tahun.

Demikian dikatakan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat kepada wartawan usai meninjau sekitar 700 hektar (Ha) tambak garam milik PT. Timor Livestok Lestari (TLL) di Desa Nunkurus dan melakukan panen garam di tambak milik PT. Cakrawala Timor Sentosa di Desa Merdeka, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang (15/10/2020).

“Kita harus kerja baik menuju target produksi 500 ribu ton garam NTT per tahun. Kita harapkan dengan kerja maksimal, produksi semua tambak garam di Pulau Timor, Sabu, di Rote, Sumba, dan di Nagekeo bisa mencapai target itu,” ujar Gubernur Laiskodat.

Menurutnya, jika semua pihak dapat bekerja secara optimal maka produksi garam NTT dapat mencapai 1 juta ton per tahun. “Kalau kita bisa bekerja dengan baik, kita harapkan ke depan kita bisa suplai 1 juta ton per tahun,” harap Laiskodat.

Dengan demikian, lanjut Laiskodat, NTT dapat menyuplai kebutuhan impor garam nasional yang mencapai lebih dari 3 ton per tahun saat ini.

“Berarti kita sudah mampu memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan garam nasional. Itu sumbangsih kita yang sangat luar biasa ke depan. Karena itu kita harus menjaga kualitas garam kita dengan NHCL 95 % ke atas. Tidak boleh di bawah. Bagi saya itu akan prestasi kita buat bangsa ini,” tandasnya.

Target produksi yang disebutkan Gubernur Laiskodat itu dikatakannya usai melakukan peninjauan terhadap sekitar 700 Ha tambak garam (sekitar 15 Ha diantaranya sudah berproduksi, red) di Desa Nunkurus dan melakukan panen pada tambak garam (sekitar 300 Ha, red) milik PT. Cakrawala Timor Sentosa di Desa Merdeka (keduanya di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang), pada Kamis (15/10/20) siang kemarin.

‘’Kita bersyukur semua berjalan sesuai rencana dan tahun depan kita harapkan semuanya (persiapan tambak dan pompa, red) telah selesai. Tadi kita lihat tambak PT. Timor Livestok Lestari bekerja sama dengan masyarakat di daerah Nunkurus telah selesai konstruksi. Kita harap tahun depan persiapan sudah selesai dan bisa panen,” ujarnya optimis.

Di tambak garam PT. Cakrawala Timor, lanjut Laiskodat, masih ada lahan yang akan dikonstruksi menjadi tambak. “Masih ada lahan yang sisa dan akan dikonstruksi lagi sehingga tahun depan kita bisa produksi 150 ribu ton dengan standar NHCL 95% ke atas untuk pemenuhan kebutuhan nasional,” katanya.

Menurut Laiskodat, Pemerintah Provinsi NTT berterimakasih kepada Presiden Joko Widodo karena perhatiannya sehingga lahan eks PT. Panggung Guna Ganda Semesta (PGGS) yang tidak dimanfaatkan sekitar 26 tahun dapat berproduksi saat ini. “Kita harus berterima kasih kepada Bapak Presiden karena melalui langkah-langkah dan kebijakan Bapak Presiden itulah yang menyebabkan kita bisa panen hari ini,” ujarnya.

Laiskodat menjelaskan, Presiden Jokowi memberikan perhatian serius terhadap pengembangan industri garam yang merupakan salah satu komoditi strategis nasional. Karena itu beberapa kementerian yang terkait ikut dalam pengembangan industri garam.

Pola yang akan digunakan, papar Laiskodat, adalah kerjasama antara perusahaan pengimpor garam dengan masyarakat sebagai petani garam. “Perusahaan yang membutuhkan garam ikut bekerjasama dengan rakyat untuk membangun industri garam dalam negeri agar makin hari kebutuhan impor semakin berkurang,” harapnya.

Kerjasama itu, lanjut Laiskodat, akan menjadi model kerja untuk mendorong agar seluruh pengusaha industri yang membutuhkan garam juga ikut terjun langsung untuk membangun industri garam dengan bekerjasama dengan rakyat di seluruh Indonesia. “Kerjasama itu harus dilakukan sehingga perusahaan atau industri yang membutuhkan garam tidak memenuhi kebutuhan garamnya dengan hanya mengimpor. Tidak boleh hanya impor saja tapi mereka juga berpartisipasi untuk membangun tambak garam dengan bekerjasama dengan petani garam. Kalau itu dilakukan maka produksi garam nasional akan meningkat dan impor garam makin menurun,” jelasnya.

Ia mengakui, harga impor garam lebih murah dibandingkan harga garam dalam negeri. Namun menurutnya, untuk membangun kemandirian dan kedaulatan pangan nasional maka pemerintah harus mengembangkan industri garam nasional untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor garam. “Kita harus mampu memenuhi kebutuhan garam kita karena kita punya potensi luar biasa yang belum dimanfaatkan. Ini menyangkut kedaulatan pangan nasional karena itu kita harus mampu ‘berdiri di atas kaki’ kita sendiri,” tandas Laiskodat.

Karena itu, Gubernur Laiskodat menghimbau kepada para pengusaha yang membutuhkan garam untuk industrinya untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pengembangan garam di dalam negeri. “Teman-teman pengusaha yang punya industri yang berhubungan langsung dengan garam, khususnya garam industri harus mampu menginvestasikan uangnya di daerah – daerah untuk bersama pengembangan garam dan bekerjasama petani garam. Dengan itu, akan membuka lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah dan mempecepat kemandirian produksi garam Indonesia,” paparnya. (kt/tim)

Comments
Loading...