Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

BPJN NTT Bertekad Tuntaskan Perbaikan 24 Titik Longsor di Jalan Sabuk Merah

0 52
KORANTIMOR.COM – ATAMBUA –

Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bertekad menuntaskan pengerjaan perbaikan 24 titik longsor di sepanjang Jalan Sabuk Merah Sektor Timur Perbatasan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) pada tahun 2021.

Demikian dikatakan Kepala BPJN NTT, Muktar Napitupulu melalui KTU PPK 2.5 sekaligus Tim Monitoring PPK 2.5, Ruslan Bata, yang ditemui wartawan media ini di Atambua pada pekan lalu.

KTU PPK 2.5 sekaligus Tim Monitoring PPK 2.5, Ruslan Bata

“Dari 24 titik longsor tersebut, saat ini baru diselesaikan perbaikan 3 titik longsor. Sementara sisanya akan dilanjutkan pada tahun anggaran 2021,” tandasnya.

Menurut Ruslan Bata, 24 titik longsor tersebut; mulai dari Motaain Kabuapten Belu hingga Motamasin Kabupaten Malaka seharusnya sudah selesai dikerjakan tahun 2020 ini. Namun dalam perjalanan, terjadi Pandemi Covid-19 sehingga sebagian anggaran ditarik kembali ke Pusat. Dua puluh empat titik longsor itu masuk dalam kategori rusak berat dan sedang serta ringan; mulai titik desa Sadi, desa Asu Manu, desa Haekesak, desa Fulur, desa Kesak, desa Nualain sampai ke desa Henes.

“Terjadinya longsor pada 24 titik atau di sepanjang 179,99 kilometer tersebut akibat curah hujan yang tinggi. Dan pada akhir tahun 2019, BPJN NTT telah mengajukan dana perbaikan ke Pemerintah Pusat (Pempus) melalui Kementerian PUPR,” ungkapnya.

Kementerian PUPR selanjutnya melalui BPJN NTT, lanjut Ruslan, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 34 Milyar. Dari dana tersebut, baru digunakan Rp 11,5 Milyar untuk perbaikan 3 titik lokasi longsor. Sedangkan sisanya akan dilanjut dikerjakan ditahun 2021. “Titik yang dikerjakan difokuskan pada titik longsor yang lebih parah. Sedangkan yang lainya akan dilanjutkan tahun depan (tahun 2021, red). Dan saat ini sedang dalam proses tender,” paparnya.

Dua puluh empat titik longsor tersebut, kata Ruslan, berada di ruas perbatasan NTT-Indonesia dan Timor Leste atau yang disebut Sabuk Merah Sektor Timur; mulai dari Kabupaten Belu hingga Kabupaten Malaka dengan panjang 179,99 Kilometer. Jalan tersebut merupakan program strategis Nasional untuk menghunbungkan wilayah pinggiran dan terdepan Indonesia. Di dalam lintasan Sabuk Merah tersebut, ada banyaknya potensi pariwisata. Misalnya bentangan sabana Fulan Fehan di Lamaknen-Kabupaten Belu yang unik dan eksotis.

“…Salah satu potensi ekonomi yang menonjol di ruas Sabuk Merah sektor Timur itu adalah sektor pariwisata, di mana terletak sebuah sabana Fulan Fehan di Lamaknen, Kabupaten Belu. Dengan adanya jalan Sabuk Merah, maka akan memudahkan wisatawan untuk berkunjung ke spot wisata yang unik dan eksotik ini,” tandasnya.

Sementara untuk pengaspalan (Hotmix, red) di sepanjang 164,57 Kilometer, sebelumnya ditargetkan selesai pada tahun 2020 dengan total anggaran sebesar Rp 128 Milyar. Namun karena situasi pandemi Covid-19 dan yang terpakai hanya Rp 28 Milyar. Sedangkan Rp 100 Milyar akan dianggarkan pada tahun 2021.

Pada tahun 2020 ini, tambah Ruslan, Pemerintah sudah menargetkan pengaspalan di sepanjang 164,57 Kilometer. Namun hanya 28 Milyar yang terpakai. Sisanya akan dituntaskan pada tahun 2021 mendatang. Lagi-lagi ini karena situasi Covid-19. “Untuk ruas jalan Sabuk Merah Sektor Timur yang belum beraspal di sepanjang 24,32 Kilometer. Tahun ini hanya Rp 28 Milyar dengan pengerjaan jalan sepanjang 4,3 kilometer dan sisanya Rp 100 Milyar untuk tahun 2021,” tandasnya.

Sebagaimana pantauan media ini, 3 titik longsor tersebut sudah dikerjakan. Sementara itu, ada beberapa titik longsor saat ini sangat membutuhkan penanganan segera sebelum turun hujan karena kondisinya memprihatinkan dan akan membahayakan warga yang melintas. Beberapa titik dimaksud seperti titik Sadi-Asumanu dan Nualain-Henes.(.kt/tim)

Comments
Loading...