Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

BPJN NTT Targetkan Pengerjaan Jalan Perbatasan RI-RDTL Sektor Timur Tuntas 2021

0 66
KORANTIMOR.COM – ATAMBUA –

Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menargetkan pengerjaan Jalan Perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni NTT dan Republik Demokratik Timor Leste atau Wilayah Sabuk Merah Sektor Timur sepanjang 179, 99 kilo meter (mulai dari titik Motain Kabupaten Belu hingga Motamasin Kabupaten Malaka, red) akan selesai dikerjakan pada tahun 2021.

Demikian dikatakan Kepala BPJN NTT, Muktar Napitupulu melalui Kepala Satuan Kerja (Kasatker) 2, Himler Mnurung kepada wartawan di Kupang, pada Senin (21/09/2020).

“Saat ini dari 179,99 kilometer tersebut, yang sudah dikerjakan (pengaspalan, red) yakni; pada tahun 2019 sepanjang 145,17 kilometer. Sedangkan ditahun 2020, pemerintah menargetkan pengaspalan menjadi 164,57 kilometer. Sisanya akan dituntaskan/dikerjakan pada tahun 2021 mendatang,” tandasnya.

Di sepanjang Jalan Sabuk Merah Sektor Timur tersebut, lanjut Himler, rencananya akan dibangun sebanyak 41 unit jembatan dengan panjang 1.599 meter. Hingga Tahun 2019 telah dibangun sebanyak 23 unit jembatan dengan panjang 1.039,5 meter. Selanjutnya pada tahun 2020, akan diselesaikan menjadi 33 unit jembatan. Dan sisanya akan dituntaskan pada tahun 2021. Semua jembatan yang dibangun tersebut terbuat dari rangka baja dengan bentang rata-rata 60 meter.

Himler mengungkapkan pula bahwa proses pengerjaan Jalan Nasional Perbatasan Sabuk Merah Sektor Timur tahun tersebut terbagi dalam beberapa paket yang dikerjakan oleh sejumlah Kontraktor Lokal dan Nasional. “Pembangunan jalan perbatasan ini merupakan salah satu pekerjaan yang terkena rekomposisi alokasi anggaran 2020 untuk penanganan Covid-19,” ujarnya.

Realokasi anggaran, lanjutnya, salah satunya dilakukan dengan mengubah paket-paket Single Years Contract (SYC) Tahun 2020 menjadi paket-paket Multi Years Contract (MYC). Contohnya seperti pada paket pembangunan Jalan Ruas Nualain-Henes yang berada di antara Motaain-Motamasin. Mulanya alokasi anggaran dengan paket SYC tahun 2020 sebesar Rp 53 Milyar, lalu diubah menjadi paket MYC tahun 2020 dengan nilai sebesar Rp 35 Milyar dan tahun 2021 sebesar Rp 18 Milyar.

“Sedangkan untuk Sabuk Merah di Sektor Barat, di Daerah Timor Tengah Utara (TTU) sepanjang 130,88 kilometer, akan dilakukan penanganan apabila Jalan Sabuk Merah di Sektor Timur telah seluruhnya tersambung,” ungkapnya.

Jalan Sabuk Merah Perbatasan Indonesia – Timor Leste ini, kata Himler, juga punya arti penting karena akan menjadi akses pendekat ke garis perbatasan sehingga bisa mempermudah pengawasan garis perbatasan di dua negara tersebut. “Jalur Sabuk Merah juga tidak hanya berfungsi untuk menghubungkan beberapa pos keamanan sepanjang PLBN Motaain dan PLBN Motamasin saja. Namun, pembangunan di pinggir Indonesia ini pun mendukung perekonomian masyarakat setempat. Salah satu potensi ekonomi yang bisa didorong adalah sektor pariwisata,” jelasnya. (.kt/tim)

Comments
Loading...