Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Penerapan Sistem Pertanian Terpadu di Lahan Sempit

0 50
Oleh: Yeremias M. Pell, ST., M.Eng
Dosen pada Program Studi Teknik Mesin Fakultas Sains dan Teknik Undana
Posted on April 21, 2020
KORANTIMOR.COM – KUPANG –
Berkebun atau bertani merupakan salah satu kegiatan menanam tanaman pada suatu lahan tertentu. Banyak orang berpikir bahwa kegiatan berkebun harus dilkukan pada lahan yang luas.
Cara berpikir demikian, akhirnya dapat menghambat orang untuk mulai berkebun, terlebih bagi mereka yang tinggal di perkotaan ataupun di areal pemukiman padat. Padahal luas tidaknya lahan bukan menjadi alasan orang untuk bertani atau berkebun.
Berkebun bisa dilakukan pada lahan yang luas, bisa juga pada lahan yang sempit, tergantung dari jenis tanaman yang ditanam. Bahkan bukan hanya berkebun, tetapi bisa juga disatupadukan dengan kegiatan lain yaitu memelihara ikan dan ternak atau hewan. Ini menjadi salah satu metode dalam pengembangan kebun terpadu berbasis tanaman-ikan-ternak khususnya pada lahan sempit di pekarangan rumah.
Dalam ilmu pertanian, metode ini dikenal dengan sistem pertanian terpadu. Sistem pertanian terpadu merupakan sebuah sistem pengelolaan tanaman, hewan dan ikan di lingkungan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sumber daya yaitu lahan, tanaman, hewan, ikan dan manusia sebagai pelaku dan sekaligus sasaran akhir dari sistem ini.
Dalam sistem keterpaduan terjadi proses daur ulang dengan memanfaatkan tanaman, ternak dan ikan sebagai mitra yang saling menguntungkan sehingga terciptanya suatu ekosistem yang menyerupai keadaan alamianya.
Pengertian daur ulang di sini adalah bahwa keterpaduan mitra (tanaman-ternak-ikan) tidak akan menghasilkan limbah (zero waste) dan menyerupai sebuah siklus energi yang tertutup.
Secara sederhana pengertian zero waste yaitu limbah yang dihasilkan oleh komponen mitra yang satu akan dimanfaatkan oleh mitra yang lainnya.
Inilah salah satu prinsip dalam keterpaduan sistempertanian terpadu, yaitu diperlukan keanekaragaman fungsional yang dapat dicapai denganmengkomnbinasikan spesies tanaman dan hewan yang memiliki sifat saling melengkapi dan berhubungan dalam interaksi sinergik, positif dan dapat diperbaiki termasuk juga produktivitas sistem pertanian dengan input yang lebih rendah.
Di sinilah letak kemandirian dalam sistem pertanian terpadu, yaitu dengan sistem LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture). Sistem akan mampu berjalan dengan baik tanpa ketergantungan dari luar sistem.
Seperti apakah itu? Hal mendasar yaitu penggunaan pupuk kimia dan pestisida pada tanaman. Dalam sistempertanian terpadu, kedua unsur ini dihilangkan atau setidak-tidaknya sangat dikurangi.
Dengan demikian pendekatannya adalah model pertanian organik. Inilah sinergisitasnya antara tanaman-ikan dan hewan.
Dalam interaksi para komponen dalam sistem pertanian terpadu, hal yang perlu diingat bahwa pelaku sekaligus sasaran akhir adalah manusia. Manusia sebagai mahluk hidup memerlukan energi sebagai motor kehidupannya.
Dengan integrasi Farming Sistem manusia tidak hanya mendapatkan keuntungan finansial tetapi juga pangan sebagai kebutuhan primer dan energi panas serta listrik.
Komponen kedua yaitu tanaman. Syarat tanaman yang dapat diusahakan adalah bernilai ekonomi dan dapat menyediakan pakan untuk peternakan.
Komponen ketiga yaitu hewan atau ternak. Ternak memainkan peran sebagai sumber energi dan penggerak ekonomi dalam Integrated Farming Sistem.
Sumber energi berasal dari daging, susu, telur serta organ tubuh lainnya, bahkan kotoran hewan. Sangkan fungsi penggerak ekonomi berasal dari hasil penjualan ternak, telur, susu dan hasil sampingan ternak (bulu dan kotoran).
Komponen keempat yaitu ikan. Ikan yang digunakan untuk Integrated Farming Sistem adalah ikan air tawar yang dapat beradaptasi dengan lingkungan air yang keruh, tidak membutuhkan perawatan ekstra, mampu memanfaatkan nutrisi yang ada dan memiliki nilai ekonomi.
Hal berikut yang juga menjadi perhatian dan pertimbangan untuk mengembangkan konsep ini yaitu tentang keadaan lingkungan. Seperti keadaan cuaca, apakah lingkungan berada di daerah panas atau di daerah dingin.
Artinya berkebun dengan cara ini juga harus mampu menjaga keseimbangan ekosistemnya sehingga aliran nutrisi dan energi berimbang. Keseimbangan tersebut akan menghasilkan produktivitas yang tinggi dan berkelanjutan secara efektif dan edisien.
Jika kita membaca tulisan di atas tentang sistem pertanian terpadu, maka barangkali kita juga akan berpikir bahwa ternyata model ini akan memerlukan lahan yang cukup luas. Dalam sistem pertanian terpadu, pilihan-pilihan itu terletak pada pelaku utamanya yaitu manusia. Mengawali tulisan di atas, luas lahan bukan menjadi alasan orang untuk tidak melakukan kegiatan ini. Bertani atau berkebun bisa juga dilakukan pada lahan yang sempit, bahkan dipekarangan rumah, tergantung dari jenis tanaman yang ditanam dan cara menanamnya.
Pertanyaannya bagaimana menerapkan model sistem pertanian terpadu ini pada lahanyang sempit itu? Salah satu modelnya yaitu pertanian terpadu berbasis tanaman dan ikan. Model ini sangat mudah dikembangkan pada lahan sempit.
Dengan memanfaatkan barang-barang bekas seperti kemasan minyak plastik isi ulang, botopl bekas, karung, kaleng-kaleng bekas dsb, juga menjadi pilihan media tanamnya. Ada beberapa cara sederhana yang bisa menjadi inspirasi cara menanam tanaman khususnya jenis tanaman umur pendek seperti sayur-sayuran yang dipadukan dengan ikan air tawar antara lain dengan sistem hidroponik. Hidroponik adalah suatu budidaya menanam dengan mamakai (memanfaatkan) air tanpa memakai tanah dan menekankan penumbuhan kebutuhan nutrisi untuk tanaman.
Kebutuhan air pada tanaman hidroponik lebih sedikit dibandingkan kebutuhan air pada budidaya dengan memakai media tanah. Hidroponik memakai air yang lebih efisien, jadi sangat cocok diterapkan pada daerah yang mempunyai pasokan air yang terbatas.
Dalam perkembangan sistem ini ada satu model sistem hidroponik yang sangat cocok dikembangkan di lahan sempit yaitu hidroponik sistem sumbu (wicks). Ini berkaitan dengan cara bercocok tanam yang memberikan asupan nutrisi melalui akar. Selanjutnya, nutrisi tersebut akan disalurkan melalui media dengan menggunakan sumbu. Dengan cara asupan air plus nutrisi seperti ini sehingga metode ini disebut sebagai self watering system.
Berikut cara sederhana membuat sistem ini. 1). Siapkan botol atau jergen bekas. 2). Potong menjadi 2 bagian, atas dan bawah. 3). Balik bagian atas dan pada tutup botol atau jergen dibuatkan lubang untuk dipasang sumbu kompor. 4).
Pasang sumbu kompor pada tutup botol atau jergen. 5). Mengisi tanah yang sudah dicampur dengan pupuk organik pada bagian atas. 6). Mengisi bagian bawah wadah dengan air, cukup setengahnya saja. 7). Tumpangkan bagian atas wadah yang berisi tanah di atas wadah bagian bawah yang berisiair. 8). Siram air untuk yang pertama kali pada wadah atas. 9).Menanam bibit sayur yang diinginkan disesuaikan dengan ukuran wadah. 10). Air akan terisap dengan sendirinya ke atas melalui sumbu tersebut. Jika sudah dilakukan seperti di atas, saatnya tinggal menunggu masa panenan tiba. Gambar di bawah ini merupakan sebuah ilustrasi dari model hidroponik simtem sumbu.
Selain model hidroponik di atas, dapat juga dikembangkan sistem akuaponik. Akuaponik adalah kombinasi antara akuakultur dengan hidroponik yang menghasilkan simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan. Akuakultur merupakan budidaya ikan, sedangkan hidroponik adalah budidaya tanaman tanpa tanah yang berarti budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilles. Akuaponik memanfaatkan secara terus menerus air dari pemeliharaan ikan ke tanaman ke kolam ikan.
Inti dasar dari sistem teknologi ini adalah penyediaan air yang optimum untuk masing-masing komoditas dengan memanfaatkan sistem re-sirkulasi.
Dengan sistem ini, air bernutrisi dari kolam ikan akan disuplai ke tanaman di atasnya dengan bantuan pompa , kemudian akar tanaman akan menjadi media penyaring dan mengembalikan air ke dalam kolam. Begitulah seterusnya.
Sistem teknologi akuaponik ini muncul sebagai jawaban atas adanya permasalahan semakin sulitnya mendapatkan sumber air yang sesuai untuk budidaya ikan, khususnya di lahan yang sempit. Akuaponik merupakan salah satu teknologi hemat lahan dan air yang dapat dikombinasikan dengan berbagai tanaman sayuran.
Inilah kedua model bertani atau berkebun yang dapat diterapkan di lahan yang sempit, seperti di pekarangan rumah. Semoga bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
1. ————- https://8villages.com/full/petani/article/id/5b88f751daf3eedf0574929e, 2018, Akuaponik, Alternatif Budi Daya Tanaman dan Ikan Bersamaan.
2. Arimbawa, P. W, 2015, Bahan Ajar Pertanian Terpadu, Jurusan Agroekoteknologi, Fak. Pertanian, Udayana Denpasar.
3. Harfi, Y., 2019, https://www.brilio.net/wow, Inspirasi berkebun di lahan sempit, bikin rumah makin asri.
4. Syabani S. T., 2019, https://www.99.co/blog/indonesia/teknik-hidroponik/, 6 Teknik Hidroponik yang serinng Digunakan.
5. Porat Antonius, 2020, You tobe, Mengisi Musim Corona dengan Inovasi Self Watering Agriculture. (kt)
Comments
Loading...