Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Cara Meningkatkan Kualitas Alat Potong Menggunakan Metode Austemper

0 42

Oleh: Wenseslaus Bunganaen, ST., MT
Dosen Teknik Mesin FST Undana

Article Posted on June 17, 2020
Wenseslaus Bunganaen, ST., MT

KORANTIMOR.COM – KUPANG – Kualitas Alat Potong Pertanian yang dihasilkan para Pengrajin besi dapat meningkatkan nilai jual dan bersaing dengan produk pabrik erah globalisasi. Asalkan diperhatikan faktor-faktor penting seperti; bahan baku, proses penempaan, penyepuhan, dan media pendingin.

Kulitas dari alat potong pertanian hasil pengrajin besi, ditentukan dari berbagai faktor, antara lain : bahan baku, proses penempaan, dan metode penyepuhan, media pendingin.

Bahan baku yang sering dipakai untuk pembuatan alat potong pertanian adalah ver atau per mobil bekas. Bahan ini adalah baja per (Spring steel) yang mengandung kadar karbon antara 0,50% – 1.00%. Untuk baja per mobil/truk biasanya memiliki kandungan karbon 0.5 % – 0.65 % (Baja AISI 1060, 1055, 9260, dan 5160).

Baja memilii sifat yang unik yakni bisa dibuat keras, dibuat ulet, dibuat rapuh (=mudah patah), tergantung pada proses perlakuan panas (Heat Treatment).

Perlakuan panas itu adalah proses pemanasan dan pendinginan baja dengan tujuan merubah sifat-sifat fisis dan mekanis dari baja tersebut.

Proses yang dilakukan oleh para pengarjin besi adalah proses perlakuan panas; mulai dari penempaan sampai penyepuhan atau finishing.

Batang baja per yang masih utuh dipotong, dan kemudian dibentuk melaui proses penempaan. Batang baja dipanaskan sampai suhu 8000C – 9500C. Kemudian ditempa pada landasan sesuai dengan bentuk yang diinginkan (=parang, pisau, tofa, atau cangkul).

Proses penyepuhan pada baja yang memiliki kandungan karbon sedang sampai kandungan karbon tinggi, sering disebut dengan hardening atau pengerasan dengan kecepatan tinggi saat didinginkan. Artinya, setelah dipanaskan sesuai waktu yang di tentukan, langsung didinginkan secara cepat ke dalam air, oli atau air garam.

Sedangkan penyepuhan dilakukan pengrajin besi dengan cara memanaskan baja per yang sudah dibentuk (misalnya bentuk parang atau pisau) pada dapur pemanas, dan didinginkan melalui media pendingin (Air atau Oli) secara bertahap.

Sementara proses hardening dilakukan melalui pencelupan cepat yang disebut quenching, dan akan diperoleh sifat yang sangat keras pada parang atau pisau tersebut dan sangat mudah patah.

Untuk menghilangkan sifat ini, parang atau pisau tersebut harus disepuh ulang dengan cara memanaskan kembali pada suhu sekitar 400 derajad celsius  sampai 600 derajat celsius dan didinginkan pada udara bebas. Dengan cara ini, parang atau pisau akan memiliki sifat yang keras tapi ulet sehingga tidak mudah patah dan memiliki sisi tajam yang baik.

Cara ini di sebut temper. Dalam kaitan dengan kualitas parang atau pisau sangat ditentukan oleh sisi tajam dan tanggu. Artinya harus tajam dan tidak mudah patah. Hal ini sangat ditentukan pada proses finishing yang tepat. Sifat ini sangat ditentukan saat dipanaskan dan saat didinginkan.

Salah melakukan ini bisa berakibat pada rendahnya kualitas dan diragukan ketajamannya. Kita bisa memperoleh parang yang tajam tapi cepat patah atau kita bisa memiliki parang yang tidak tajam tapi tidak mudah patah atau mudah bengkok (Sifat ulet).

Dengan cara temper, kita membutuhkan waktu yang agak lama sekalipun kualitas terjamin. Namun ada satu cara yang lebih praktis untuk dilakukan yakni dengan pencelupan tertundah atau Austemper.

Caranya yakni baja yang sudah ditempah dan dibentuk menjadi alat potong (=pisau atau parang) dipanaskan pada suhu Asutenisasi (8000C -9500C) ditahan dalam bebrapa waktu (bisa dikondisikan). Dan secara kasat mata, pisau atau parang tersebut berubah warna dari abu-abu menjadi warna merah.

Pada kondisi ini, alat potong tersebut dicelup pada bagian sisi tajam (sisi potong) saja sampai berubah warna ke abu-abu dan dilanjutkan dengan pendinginan diudara bebas. Dengan demikian, panas dari sisi yang lain dari parang/pisau ini akan kembali menyumbangkan panasnya pada bagian sisi tajam, sehingga parang/pisau ini memiliki sifat yang sangat baik, keras tidak, lembek, yang dalam bahasa teknik dikenal baja yang berstruktur bainit.

Waktu yang dibutuhkan relatif singkat, dan tidak perlu harus bolak balik untuk panaskan dan atau didinginkan. Cukup sekali dipanaskan dan sekali didinginkan KUALITAS OKE. (redaksi)

Comments
Loading...