Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Keluarga Besar Mutis Tuan Tegakan Aturan Adat Kunjungan ke CA Mutis

0 161

KORANTIMOR.COM – SOE – Keluarga Besar Mutis Tuan telah bersepakat menegakan aturan adat kunjungan ke Cagar Alam Gunung Mutis. Siapa saja yang ingin berkunjung ke Gunung Mutis harus melewati prosedur/aturan adat masyarakat (rumpun suku/marga yang bermukim di area kaki Gunung Mutis, red) guna menjaga dan meningkatkan kelestarian Cagar Alam Gunung Mutis.

Demikian dikatakan salah satu Tokoh Adat keluarga besar Mutis Tuan, Usif Yakob Obe Tusalak disela-sela pertemuan adat dan diskusi keluarga besar Mutis Tuan yang dilaksanakan pada Jumat (31/7/2020) di Sonaf Oepopo, desa Mutis-Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

“Kami tidak bermaksud menutup Mutis karena kepentingan kami, termasuk hidup kami, saudara saudari, leluhur, Batu Marga, tetapi karena Gunung mutis adalah salah satu pusaran hidup, pusat sejarah dan salah satu Kepercayaan hidup orang Timor, sehingga penting kalau pengunjung yang datang wajib mengikuti aturan-aturan adat sebelum masuk area Gunung Mutis,” tandasnya.

Menurut Yakob Obe Tusalak, Gunung Mutis merupakan salah satu nafas hidup Timor dan pusaran hidup orang Timor. “Aturan adalah urat nadi untuk menjaga harmoni antara Alam Mutis dan manusia. Gunung Mutis adalah nafas Timor sehingga penting untuk dijaga keberlangsunganya,” ujarnya.

Pencipta alam semesta, lanjut Yakob, telah memberi kepercayaan kepada orang tua dan Leluhur mereka untuk mengatur alam Gunung Mutis. Alam Mutis dan suku Mutis Tuan telah menyatu dan melebur dalah harmonisasi kehidupan sehingga ketika pemerintah dalam hal ini BBKSDA menangani Cagar Alam Gunung Mutis, pedoman dan aturan demi keberlangsungan ekositim alam gunung mutis selalu merujuk pada aturan adat dan istiadat setempat. “Kita tidak berharap lebih, cukup singgah di Sonaf Nenas, bakar lilin dan tanam anakan pohon di sekitar Sonaf,setelah itu silakan naik ke Gunung,” pintanya.

Sementara itu perwakilan BKSDA NTT, Karest Aries Banamtuan, kepada tim media ini menyatakan mendukung acara adat tersebut dengan segala keputusan yang telah disepakati. “Memang secara struktur, Gunung Mutis masuk wilayah CA. Namun secara Adat, ada yang berkuasa dan berhak. Jika ditutup demi menjaga dan melestarikan Adat Gunung Mutis, pasti kami mendukung. Kita akan sama-sama menjaga Gunung Mutis,” ujarnya.

Dengan adanya kesepakatan adat tersebut, maka setiap wisatawan maupun para ilmuwan/peneliti yang datang melakukan penelitian di Taman Wisata Alam Gunung Mutis diwajibkan mengikuti prosedur adat yang ditetapkan oleh rumpun/suku Mutis Tuan sebelum masuk wilayah itu.

Pertemuan adat tersebut dihadiri Amaf Noel, Tapatab, Tsun, Tunmuni yang dipandu oleh Samuel Tamelab. Acara adat itu diawali dengan penyemblian hewan kurban. Turut disaksikan oleh Usif Mutis Tuan, amaf-amaf, Meo- Meo serta perwakilan BBKSDA dan perwakilan Yayasan PIKUL serta warga masyakat Desa Mutis, desa Nenas dan desa Nuapin.

Keluarga Besar Mutis Tuan
Selain menegakan kembali aturan adat bagi pengunjung/wisatawan wisata alam Gunung Mutis, pertemuan tersebut juga merupakan sebuah momentum menyatukan kembali rumpun Keluarga Besar Suku-Suku di Mutis yang selama ini tidak sepaham menegakan aturan adat bagi pengunjung Wisata Alam Gunung Mutis.

Keluarga Besar Mutis Tuan adalah komunitas adat (suku) yang bertanggungjawab serta ‘tuan’ dari Wisata Alam Gunung Mutis saat ini. Ditangan komunitas adat inilah tanggungjawab moril keberlangsungan harmoni ekosistim dan kelestarian cagar Alam Gunung mutis ditentukan. [kt/tim]

Comments
Loading...