Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Pendekatan Filosofi “3 A” di Mutis Dalam Harmoni Dengan Budaya dan Alam

0 145

KORANTIMOR.COM – TTS – Pendekatan filosofi “3 A” (Ahimsa, Anekanta, Aparigraha) selalu diterapkan BBKSDA NTT selaku perwakilan pemerintah dalam mengelola kawasan konservasi Cagar Alam (CA) Gunung Mutis untuk menjaga harmoni antara masyarakat dan alam. Pendekatan tersebut sebuah cara damai untuk menghindari perilaku atau sikap kekerasan (violence). Sebaliknya mengutamakan perundingan (dialog, red) untuk kerukunan dan kesatuan. Lebih dari itu, kesadaran semua pihak untuk datang bermusyarawarah dengan hati yang murni dan bersih secara bersama-sama. 


Demikian saripati siaran pers Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT) pada Jumat (17/7/2020) dalam rangka Sosialisasi dan Musyawarah Dengan Para Tokoh Masyarakat di sekitar CA Mutis melalui pendekatan Aparigraha tanggal 17 hingga 18 Juli 2020, bertempat di daerah penyangga CA Mutis, Kabupaten Timor Tengah Selatan .

Latar belakang dari dilaksanakannya kegiatan ini antara lain karena perkembangan pengelolaan konservasi di Indonesia termasuk di NTT yang semakin dinamis; baik informasi, strategi, cara kelola, kondisi alam, maupun ekonomi dan social budaya masyarakat.  Pelibatan masyarakat sekitar dalam pengelolaan konservasi menjadi penting agar masyarakat diposisikan sebagai subjek dalam pengelolaan kawasan konservasi, demi terbangunnya rasa saling percaya mewujudkan harmoni alam dan masyarakat.

Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis terletak di daratan Pulau Timor. Secara administratif pemerintahan, Kawasan CA Gunung Mutis berada di wilayah Kecamatan Fatumnasi dan Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kecamatan Miomafo Barat Kabupaten Timor Tengah Utara.

Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis merupakan salah satu kawasan Suaka Alam yang ditunjuk melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan nomor : 423/Kpts-II/1999, tanggal 15 Juni 1999 dengan luas 17.211,95 hektar.

Walau demikian, tanpa dukungan seluruh komponen, khususnya masyarakat di sekitar, Balai Besar KSDA NTT tentu tidak akan mampu melakukan pelestarian kawasan tersebut.

Pada dasarnya masyarakat sekitar Gunung Mutis sangat menyadari betapa pentingnya keberadaan Gunung Mutis bagi kehidupan masyarakat setempat. Sebab sumber air Gunung Mutis dan manfaat lainnya telah menghidupi masyarakat setempat puluhan bahkan ratusan tahun hingga saat ini. Dengan demikian, harmoni masyarakat dan alam menjadi satu keniscayaan agar alam lestari dan masyarakat bahagia.

Ir. Timbul Batubara, M.Si. selaku Kepala Balai Besar KSDA NTT menyatakan, “BBKSDA NTT akan melaksanakan salah satu arahan Bapak Dirjen dalam 10 cara kelola baru untuk membangun kesadaran semua pihak untuk datang musyawarah sebagai seakan akan tidak punya rumah, tidak punya atribut, dengan kemurnian kalbu, secara bersama-sama merenungkan nilai-nilai universal yang membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat, mana yang halal dan mana yang haram,” ujarnya.

Lanjut Timbul Batubara, masyarakat sebagai subjek jadi masyarakat itu diposisikan sebagai subjek atau pelaku utama dalam berbagai model pengelolaan kawasan. Harus sering turun ke lapangan dan mendengarkan masyarakat. Kalau ada masalah, selesaikan bersama-sama, dan bahwa BBKSDA NTT selaku perwakilan pemerintah dalam mengelola kawasan konservasi, termasuk kawasan CA Mutis, tentunya tidak ingin terjadi disharmoni antara pemerintah dan masyarakat. Untuk itu, berbagai pendekatan terus dilakukan. Salah satunya yakni pendekatan dengan filosofi “3 A” (Ahimsa, Anekanta, Aparigraha).

Timbul Batubara menjelaskan pula bahwa makna filosofi dari masing-masing “3 A). Ahimsa adalah pendekatan dengan cara damai, menghentikan semua cara-cara kekerasan. Sedangkan Anekanta adalah melakukan perundingan, kerukunan dan persatuan. Aparigraha adalah kesadaran semua pihak untuk datang bermusyawarah dengan kemurnian kalbu secara bersama-sama. Memaknai filosofi tersebut bahwa duduk bersama bermusyawarah; membicarakan hal-hal baik untuk sebuah kebaikan dan kemaslahatan bangsa menjadi penting. Oleh karena itu, Balai Besar KSDA NTT selalu berusaha untuk menghadirkan suasana yang damai, mengajak para tokoh masyarakat untuk selalu berkomunikasi dan bermusyawarah.

Pengelolaan kawasan konservasi selalu berkembang, termasuk di CA Mutis. Baik itu karena alam maupun aktivitas manusia. Ir. Timbul Batubara, M.Si. menjelaskan, di CA Mutis kebakaran hutan dan lahan menjadi hal penting diantisipasi. Hal ini karena adanya bulan kering yang lebih panjang dan aktivitas perladangan masyarakat sekitar kawasan konservasi dan budaya bercocok tanam dengan cara tebas-bakar yang dapat menjadi ancaman bagi kelestarian kawasan CA Mutis.

Tercatat di NTT sejak tahun 2015-2019 terjadi kebakaran di 20 kawasan konservasi dan pada tahun 2019 kebakaran mencapai luas 340.152 ha, termasuk di CA Mutis 260,1 ha. Menghadapi kerawanan ini, perhatian serius dari pimpinan Kementerian LHK terus mengalir untuk meningkatkan kewaspadaan. Dirjen KSDAE pun mengingatkan semua pengelola hutan konservasi untuk waspada (melalui surat NomorS.295/KSDAE/KK/KSA.1/4/2020 tanggal 21 April 2020, perihal Peningkatan Kewaspadaan Dalam Rangka Antisipasi Kesiagaan Kebakaran Hutan Konservasi dan Pemutakhiran Data, red). Dari sebab itu Balai Besar KSDA NTT terus melakukan langkah antisipasi dengan cara sosialisasi dan bermusyawarah dengan para tokoh masyarakat di sekitar CA Mutis melalui pendekatan Aparigraha.

Ir. Timbul Batubara, M.Si. menegaskan bahwa semua kegiatan tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dalam tatanan normal baru (New Normal) di masa pandemi Covid-19. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan pada tanggal 17 – 18 Juli 2020, bertempat di daerah penyangga CA Mutis, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Kegiatan Aparigraha ini tidak hanya membicarakan masalah kerawanan kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga perkembangan pengelolaan CA Mutis. Salah satunya tentang perubahan sebagian fungsi kawasan tersebut sesuai usulan tim evaluasi kesesuaian fungsi. Kemudian arahan Dirjen KSDAE Kementerian LHK melalui surat S.714/KSDAE/PIKA/KSA.0/9/2019 tanggal 25 September 2019 tentang Tindak Lanjut Laporan Evaluasi Cagar Alam Mutis Timau.

Diharapkan kegiatan sosialisasi dengan pendekatan Aparigraha ini menyatukan niat baik kita semua untuk pengelolaan CA Mutis yang lebih baik, dapat menjadi salah satu best practice dan lesson learned  dalam pengelolaan kawasan bersama extended family CA Mutis. Khususnya harmonisasi antara keberadaan alam CA Mutis dan budaya yang sangat kuat dari Masyarakat Mutis.

Kegiatan sosialisasi ditutup dengan penyerahan 500 bibit  pohon mangga, pohon  salam dan pohon kemiri secara simbolis di tua adat Mateos Anin, dan sisanya sementara di Karest Fatumnasi. (kt/tim/BBKSDA NTT)

Comments
Loading...