Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Dicari Pesulap Sebagai Dirut Bank NTT! Bim Salabim! ….Laba Bersih Bank NTT Rp 500 M

0 239

(Ulasan Redaksi)

SEKITAR dua pekan lalu, tepatnya Rabu (6/5/20) media massa lokal dan nasional ramai memberitakan tentang RUPS Luar Biasa BPD NTT (Bank NTT, red) yang menon-aktifkan Direktur Utama Bank NTT, Izhak Eduard Rihi. Alasannya, karena Izhak Rihi tak mampu mewujudkan keinginan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat agar Bank NTT mencapai Laba Bersih hingga Rp 500 Milyar pada tahun 2010.

Seperti diberitakan media Suara Flobamora.Com, dalam jumpa persnya usai RUPS Luar Biasa, Gubernur NTT sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP) dengan lantang dan tegas mengumumkan keputusan mayoritas pemegang saham untuk menon-aktifkan Dirut Bank NTT. “Dia tak mampu mencapai target laba yang diberikan pemegang saham sebesar Rp500 miliar, sehingga para pemegang saham sepakat untuk menggantinya,” kata Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat.

Selain alasan tak tercapainya Laba Bersih Rp 500 M, kata Laiskodat, Bank NTT butuh tim kerja yang lebih ekstrim dan profesional untuk lebih maju ke depan. “Dalam kondisi normal saja target laba tidak terpenuhi. Apalagi dengan kondisi pandemik covid-19 yang saat ini terjadi,” tandas Laiskodat.

Dia berharap dengan penyegaran ini, direksi Bank NTT bisa bekerja lebih giat dan semangat untuk meningkatkan laba Bank NTT. “Dengan kondisi covid seperti ini, tentunya laba Bank NTT juga akan mengalami penurunan drastis. Karena itu dibutuhkan tim kerja yang lebih baik,” ungkap Laiskodat.

Apalagi, jelas Laiskodat, sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), modal Bank wajib setor mencapai Rp 3 triliun pada tahun 2024. Dengan demikian, Bank NTT masih kekurangan Rp 1,2 trilun.
Komisaris Bank NTT, Juvenile Djodjana mengakui adanya keinginan para pemegang saham agar Dirut saat ini Izak Eduard Rihi diganti. Para pemegang saham bersepakat untuk menunjuk Alex Riwu Kaho menjadi Pelaksana Tugas (PLT) Dirut Bank NTT yang akan merangkap sebagai Direktur Kredit. Sedangkan, Absalom Sine sebagai Direktur Kredit akan menjabat Direktur Dana. Sedangkan dua direktur lainnya masih menempati posisi yang sama.

Membaca berita pergantian Dirut Bank NTT itu, saya hanya tersenyum-senyum bahkan tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sekilas, alasan itu terdengar sangat rasional. Menjadi lumrah ketika seorang Gubernur NTT sebagai Pemegang Saham Pengendali/PSP ( bukan mayoritas, re) dan para pemegang saham menonaktifkan Dirut Bank NTT yang adalah Perusahaan Daerah milik Pemprov NTT.

Alasan penonaktifan itu dibuat seolah-oleh menjadi benar dan menjadi hal yang biasa, lumrah dan dapat diterima oleh semua pihak. Alasan itu terlampau sederhana, ‘Karena Dirut tidak dapat mencapai target laba Rp 500 M dari Gubernur Laiskodat sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP) maka dinon-aktifkan PSP dan para pemegang saham’.

Pertanyaannya, apakah Gubernur Laiskodat sebagai PSP dan para bupati/walikota paham tentang bagaimana merencanakan pertumbuhan/kinerja perbankan? Apakah PSP dan para pemegang saham Bank NTT mengerti dan memahami bahwa untuk mencapai target itu, ada skenario pertumbuhan ratio kinerja bank yang harus dihitung sesuai kemampuan bank? Karena penetapan laba bersih bank, tidak sesederhana yang kita bayangkan. Maaf, tak ada maksud saya untuk melecehkan PSP dan para pemegang saham.

Ketika Gubernur Laiskodat mengharuskan Bank NTT mencapai laba bersih Rp 500 Milyar di tahun 2019 pada tahun 20018 lalu (seperti diberitakan berbagai media, red), para praktisi perbankan, atau setidak-tidaknya seseorang yang sedikit saja memahami perbankan, sudah pasti akan menganggap target tersebut merupakan bualan/lelucon/joak/mimpi dari Gubernur Laiskodat sebagai PSP?

Saya sendiri merasa hal itu hanya sekedar bualan alias lelucon alias joak alias mimpi belaka dari sang Gubernur yang baru terpilih. Panas-panas tahi ayam, begitu kata orang Kupang.

Bagi saya, ada beberapa hal yang sangat janggal dan masih menjadi misteri dari pernyataan Gubernur Laiskodat sebagai PSP Bank NTT, sebagai berikut :
1. Laba Bersih Bank NTT tahun 2019 dipatok sebesar Rp 500 M.
Bagi saya patokan laba bersih oleh Gubernur NTT sebagai PSP Bank NTT adalah sangat naif karena tanpa didasari oleh perhitungan kinerja bank yang profesional. Yaah… bak punguk merindukan bulan. Karena siapa pun Dirutnya, tak mungkin mencapai Laba Bersih Rp 500 M. Kecuali seorang pesulap yang menjabat Dirutnya, sehingga hanya dengan sekali … Bim Salabim … Bank NTT akan mendapatkan Laba Bersih Rp 500 M.

Berbagai spekulasi dan pertanyaan pun muncul. Apakah memang benar pergantian Dirut Bank NTT karena target laba yang tidak tercapai? Ataukah ada hal lain dibalik itu?

Apakah pergantian itu terjadi karena orang yang disiapkan PSP sebagai Dirut Bank NTT tak lolos seleksi OJK? Atau itu sebagai strategi agar bisa dijadikan alasan pembungkus bagi Sang Big Bos untuk mengganti Dirut Definitif Bank NTT?
Apakah dengan mengganti Dirut akan membuka peluang bagi ‘Jagoan’ yang telah disiapkan Sang Big Bos sejak tahun lalu untuk menjadi Dirut Definitif? Tapi … bukankah masa jabatan seorang Dirut selama 4 tahun?

Hanya PSP dan para pemegang saham yang bisa menjawabnya secara jujur berdasarkan hati nurati yang tulus. Mudah-mudahan tak ada dusta diantara kita. Hmmmm …bagi saya, alasan pergantian tersebut hanya sekedar dicari-cari alias sebagai kedok untuk menon-aktifkan Dirut Bank NTT yang definitif, hasil seleksi OJK.

2. Kondisi Normal Tidak Tercapai
Dari pernyataan Gubernur Laiskodat dalam Jumpa Pers usai RUPS dan RUPS Luar biasa, jelas bahwa Gubernur mengatakan bahwa dalam kondisi normal saja (tidak dalam masa pandemi Covid-19) Bank NTT tidak dapat mencapai Laba Bersih Rp 500 M. Bagi saya pernyataan itu sedikiiit menyerempet kebenaran.

Memang benar bahwa untuk mencapai Laba Bersih Rp 500 M itu tidak bisa dilakukan dengan kondisi normal tapi dengan kondisi yang luar biasa. Karena untuk pencapaian target Laba Rp 500 M itu dibutuhkan skenario pertumbuhan kinerja tidak normal alias abnormal alias skenario ‘gila’.

Dan saya tahu benar bahwa skenario ‘gila’ tersebut telah dibuat oleh Komisaris, Direksi Bank NTT dan jajarannya pada tahun 2019. Namun skenario itu tanpa didukung oleh kemampuan Bank NTT yang sebenarnya. Besar target jauh melampaui kemampuan riil Bank NTT. Bukankah kita harus menggantung cita-cita setinggi langit tapi kaki kita harus tetap menginjak bumi?

Jika kita mempelajari sejarah kinerja Bank NTT sejak 20 tahun terakhir, sejak 1999 (saat perusahaan daerah itu dipimpin oleh Dirut Amos Corputy) , hingga saat ini tidak pernah ada lompatan kinerja yang sangat sifnifikan. Atau mencapai peningkatan Laba Bersih hingga lebih dari 100 % hanya dalam setahun.

Lagi pula, untuk mencapai laba bersih Rp 500 M bukan sekedar membalikkan telapak tangan. Bagaimana mungkin target laba itu bisa dicapai dalam waktu yang sangat singkat, yakni hanya setahun.

Bukankah untuk mencapai target laba Rp 500 M harus ada hitungan-hitungan kinerja bank yang rasional? Bukan hanya sekedar mimpi di siang bolong. Yang pasti untuk mendapatkan output yang besar, harus ada input yang besar.

Sadarkah Gubernur Laiskodat (sebagai PSP, red) bahwa dengan menetapkan target Laba Bersih Rp 500 M itu, PSP sedang memaksakan pertumbuhan kinerja Bank NTT jauh melampaui perkembangan/pertumbuhan kinerja perbankan secara nasional. Bak kata pepatah, ‘Maksud hati memeluk gunung, apalah daya tangan tak sampai.’

Saya masih ingat betul keluhan yang disampaikan salah satu kepala divisi Bank NTT (tak perlu saya sebutkan namanya, red) dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPRD NTT pada, Jumat (8/3/19) lalu. Dalam tersebut, Ketua Komisi III DPRD NTT, Hugo Kalembu meminta penjelasan Bank NTT tentang rencana kerja Bank NTT tahun 2019 sesuai penetapan target laba bersih sebesar Rp 500 milyar oleh Gubernur Laiskodat.

Menjawab permintaan Hugo Kalembu, Kepala Divisi tersebut menjelaskan bahwa target tersebut terlampau tinggi bahkan jauh melebihi pertumbuhan Bank NTT dan perbankan secara nasional. “Pertumbuhan kredit Bank NTT y-o-y (year on year/perbandingan dari tahun ke tahun, red) dalam 5 tahun terakhir hanya sekitar 6-7 % per tahun. DPK-nya hanya sekitar 8-9% per tahun,” jelasnya.

Menurutnya, jika target laba bersih yang ditetapkan sebesar Rp 500 M maka pertumbuhan kredit Bank NTT harus sebesar 26 % dan DPK harus sebesar 18 %. Karena masih banyak ratio-ratio perbankan yang harus diperhitungkan untuk mencapai target tersebut.

Bank NTT telah menyampaikan rencana anggaran tahun 2019 sesuai permintaan Gubernur Laiskodat tersebut kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTT. “Rencana anggaran tahun 2019 telah disampaikan ke OJK. Posisi sementara, OJK sudah terima tapi dengan banyak catatan,” ungkapnya.

Banyaknya catatan dari OJK, katanya, karena target Laba Bersih Rp 500 M tersebut jauh melampaui pertumbuhan perbankan secara nasional. “Karena pertumbuhan kredit secara nasional hanya sekitar sekitar 7% – 8% per tahun, dan DPK hanya sekitar 8-9 % per tahun,” jelasnya.

Menurutnya, rencana kerja dengan target laba sebesar Rp 500 M tersebut bakal direvisi OJK NTT dalam semester pertama tahun 2019. Kalau OJK sudah melakukan revisi dengan menurunkan target laba bersih itu, mengapa masih juga dijadikan alasan penggantian Dirut?

Saya mengikuti langsung rapat Komisi III DPRD NTT tentang pemaparan kinerja Bank NTT pada tahun 2019 itu. Apa yang dijelaskan sang Kepala Divisi tersebut merupakan hitung-hitungan pertumbuhan/kinerja bank yang rasional, bukan asal joak alias mulut besar. Itulah fakta sebenarnya yang ditutup-tutupi selama ini hanya untuk sekedar memuaskan PSP dan para pemegang saham.

3. Tim Kerja Ekstrim dan Profesional
Jika kita ‘tengok’ iklim kerja di internal Bank NTT, kita akan dengan mudah melihat adanya kelompok-kelompok kepentingan yang sudah lama ada di bank tersebut. Kelompok-kelompok ini saling bersaing untuk menjadi kelompok ‘penguasa’. Setidak-tidaknya untuk mendapatkan posisi yang paling nyaman. Kalau boleh meminjam pepatah pendahulu kita, Gubernur Piet Tallo, ’Ada kios di dalam toko’.

Pertanyaannya, apakah hanya dengan tim kerja yang lebih ekstrim dan profesional, laba bersih Rp 500 M itu akan tercapai? Saya kira, hanya dengan berbekal tim kerja yang ekstrim dan profesional saja, tak mungkin mencapai target itu.
Itu akan menjadi sia-sia jika tak ada input modal dalam jumlah sangat besar alias ekstrim sebagai dasar skenario (rencana kerja, red). Karena untuk bisa mencapai target itu, ada hitung-hitungan ratio kinerja bank yang tak mungkin dicapai tanpa adanya suntikan modal dalam jumlah besar.

Kalau alasan tim kerja tidak ekstrim dan profesional, lau mengapa hanya Dirut Bank NTT yang diganti? Bukankan dalam tim kerja itu ada jajaran direksi dan jajaran Komisaris. Bukankah skenario rencana pertumbuhan kinerja Bank NTT untuk mencapai laba bersih Rp 500 M itu disusun oleh jajaran direksi dan komisaris? Mengapa Komisarisnya tidak diganti?

4. Setoran Modal Pemegang Saham
Saya masih ingat betul penjelasan seorang Dosen (saya tak ingat lagi namanya, red) yang membawakan Mata Kuliah Manajemen Proyek saat masih duduk di bangku kuliah sekitar 20-an tahun lalu. Menurut sang dosen, untuk mencapai target proyek yang diinginkan/ditetapkan, seorang perencana harus menghitung kebutuhan dana, alat, dan tenaga kerja.

Yang harus dihitung secara akurat dan sitematis, apakah dana/modal, alat dan tenaga kerja yang dimiliki cukup memadai untuk mencapai target yang diinginkan/ditetapkan? Dalam konteks pencapaian target Laba Bersih Rp 500 M oleh Bank NTT, mestinya PSP dan para pemegang saham lainnya menyadari bahwa modal yang disetor masih terlampau kecil dibandingkan dengan target labat yang sangat tinggi.

Bukankah harus ada modal (sebagai input, red) yang sangat besar untuk mencapai tingkat laba bersih (sebagai output, red) yang sangat tinggi pula? Apakah para pemegang saham, khususnya Gubernur NTT sebagai PSP tahu bahwa untuk mencapai itu para pemegang saham harus menyetor modal hingga triliyunan rupiah? Karena untuk mencapai laba bersih Rp 500 M dibutuhkan skenario pertumbuhan laba bersih dengan modal kerja sekitar Rp 20-25 M. Dengan modal itulah manajemen Bank NTT dapat menyusun skenario pertumbuhan/kinerja Bank NTT untuk mencapai target laba bersih Rp 500 M.

Kalau kita mengandaikan PSP dan para pemegang saham lainnya tidak/kurang memahami hal ini, seharusnya hal disampaikan secara gamblang kepada para pemegang saham. Namun, adakah orang Bank NTT yang mampu menjelaskan ini secara baik tanpa rasa takut akan ditendang dari jabatannya karena dianggap membantah para pemegang saham? Saya kira ini butuh seorang ‘ksatria gagah berani’ dari Bank NTT untuk itu.

Bagi saya, para pemegang saham boleh menuntut para direksi untuk meningkatkan laba seberapa pun besarnya, tapi harus diingat! Ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pemegang saham dengan menyetor modal sekitar Rp 20 Triliun. Tanpa itu, sebaiknya PSP dan para pemegang saham lainnya mencari seorang Pesulap sebagai Direktur Utama. Mungkin dengan kemampuan sulapnya, hanya dengan sekali “Sim Salabim!” Target laba bersih Rp 500 M itu akan tercapai.

Pertanyaannya, mampukah para pemegang saham melakukan itu? Kalau modal sekitar Rp 20 Triliun itu telah disetor, maka sudah sepantasnya para pemegang saham untuk menuntut direksi Bank NTT, khususnya Dirut untuk mempertanggungjawabkan kinerjanya.

Namun pada kenyataannya, alih-alih menyetor Rp 20-25 Triliun, tambahan modal sekitar Rp 1,2 Triliun yang diwajibkan OJK bagi para pemegang saham (agar Bank NTT tidak dimerger, red), belum disetor hingga saat ini.

Pahahal, aturan OJK itu mewajibkan PSP dan Para Pemegang Saham menyetor modal Rp 3 Triliun hingga tahun 2024, jika tidak Bank milik pemerintah daerah itu akan dimerger (digabungkan, red) dengan Bank lain. Lalu mengapa soal tanggung jawab setoran modal itu dijadikan sebagai alasan pergantian Dirut Bank NTT. Hmmm …. Lempar batu sembunyi tangan, itulah yang sedang dilakukan para pemegang saham saat ini.

Mari kita lihat sekilas pertumbuhan kinerja Bank NTT dalam 4 tahun terakhir sebagai berikut:
Tabel. 1

Tabel 1.

Tabel 3

Dengan mencermati perkembangan Bank NTT sejak tahun 2015 s/d 2018 di atas (tak perlu saya jelaskan secara teknis, red), maka saya dapat berkesimpulan bahwa sangatlah prematur, bahkan sangat naif jika kita terburu-buru menyalahkan Dirut atas tidak tercapainya Laba Bersih Rp 500 M pada tahun 2019.

Yang pasti dengan kondisi saat ini, terutama modal kerja yang tak bertambah secara siginifikan dan produk yang ditawarkan biasa-biasa saja, target itu tak mungkin tercapai. Bagi saya target Rp 500 M itu hanya bisa dicapai oleh Direktur Utama Bank NTT yang punya kemampuan sulap. Sehingga hanya dengan sekali “Bim Salabim!” maka target laba bersih Rp 500 M itu akan tercapai.

Saya membayangkan kisah ini seperti kisah raja-raja dalam cerita dongeng dan kartun yang dengan tangan besi dan sewenang-wenang alias seenaknya saja berupaya mewujudkan keinginan dan ambisinya tanpa mau tahu tentang keadaan yang sebenarnya terjadi sesuai kemampuan para pembantu/pelayanannya.

Tapi apakah ada calon Dirut Bank NTT yang punya kemampuan sulap? Atau calon Direktur yang bisa menggandakan/memperbanyak uang dalam sekejab untuk bisa mewujudkan keinginan dan ambisi PSP dan para pemegang saham? Bagi saya, jika target laba bersih Rp 500 M dalam setahun itu tetap menjadi patokan untuk mencari Dirut Bank NTT, maka saya pastikan tidak akan ada yang mampu memenuhi kualifikasi itu.

Jika target itu tetap menjadi argumen untuk memilih dan mengangkat Dirut Bank NTT tanpa adanya suntikan modal yang cukup, maka target itu tak akan mungkin dapat dicapai sekalipun dipimpin seorang Dirut ‘Super Hero’.

Untuk mencapai target yang tidak rasional itu, saya sarankan agar Para Pemegang Saham, baik Gubernur NTT maupun para bupati/walikota mengumumkan kepada publik, “Dicari, Tukang Sulap Sebagai Dirut Bank NTT!”.

Karena target itu hanya dapat dicapai jika Dirut Bank NTT seorang Pesulap. Sehingga hanya dengan sekali, “Bim Salabim!” maka laba bersih Rp 500 M akan tercapai.

Tulisan ini saya buat dengan tak ada maksud untuk menyudutkan apalagi ‘menembak’ pihak manapun. Ataupun membela pihak manapun. Tulisan ini saya buat karena keprihatinan terhadap perkembangan Bank NTT. Bahwa Bank NTT mesti diselamatkan dari cara-cara kerja dan mekanisme yang tidak profesional serta intervensi berlebihan dari pihak manapun, sekalipun para pemegang saham.

Bukankah untuk pergantian direksi, sudah ada mekanisme yang baku? Para pemegang saham punya hak prerogatif untuk mengganti Dirut, tapi hak itu dibatasi oleh aturan perbankan. Jangan sampai karena kepentingan kelompok atau segelintir orang, namun harus mengorbankan bank yang sudah dibangun dengan ‘susah payah’ oleh para pendahulu kita.

Semua kita pasti sependapat bahwa iklim kerja di bank Plat Merah itu harus harmonis, kompetitif dan profesional. Bank NTT harus dibebaskan dari dominasi kelompok-kelompok tertentu yang selama ini saling ‘sikut-menyikut’ dan bersaing secara tidak sehat. Karena situasi itu sudah pasti akan berdampak pada tim kerja yang tak solid dan saling ‘menjual’ antar kelompok.

Tentunya, saya, anda dan masyarakat NTT selalu berharap bahwa Bank NTT akan tumbuh menjadi bank kepercayaan dan kebanggan masyarakat NTT. Untuk itu diperlukan kerjasama ekstrim dari semua stake holder, khususnya para pemegang saham. Bukan saling tuding saling tuding, ‘cuci tangan’ dan mencari ‘kambing hitam’. Semoga. (Kosmas Olla/Tim Kowappem NTT)

Comments
Loading...