Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

FMB Bagikan Sembako Kepada Guru Honorer di Malaka Dimoment HARDIKNAS

0 326

KORANTIMOR.COM – MALAKA – Merayakan Hari Pendidikan Nasional, relawan Forum Malaka Bangkit (FMB) menyisir para guru honorer di Kabupaten Malaka dan membagikan 100 kantong sembako beruba beras dan mie instant.

Kegiatan ini dilakukan sebagai wujud solidaritas terhadap para guru hononer yang juga terdampak virus corona atau covid 19. Sudah dua bulan terkahir para guru honorer di Malaka libur akibat upaya pemerintah memutus matarantai penyebaran Covid-19 yang mana turut berdampak pada hilangnya penghasilan mereka untuk sementara waktu.

Relawan Forum Malaka Bangkit (FMB) sedang membangikan sembako kepada keluarga dari salah satu guru hononer di Malaka (3/4/2020)

Sebelumnya, para relawan yang terdiri dari anak – anak muda Malaka ini sudah mendata identitas para guru honorer yang hidupnya masih jauh dari kata sejahtera. Dari antara mereka, ada yang sudah belasan tahun lamanya mengabdi menjadi guru dengan upah yang tidak pasti.

Kondisi miris para pahlawan tanpa tanda jasa di Malaka ini menggugah hati para relawan FMB untuk melakukan aksi minggu ini solider dengan guru – guru honorer.

Terkait aksi sosial tersebut, Emanuel Bria sebagai motor penggerak FMB kepada KORANTIMOR.COM mengungkapkan bahwa majunya suatu daerah dilihat dari tingkat Sumber Daya Manusianya. Menurutnya, hal itu harus dibekali dengan ilmu pengetahuan yang cukup. Tapi untuk mewujudkan itu, pendidikan harus diutamakan pemerintah dalam programnya.

“Bukan hanya gedung saja yang dibangun megah, tapi isi dalamnya juga harus dibangun. Para siswa harus dibekali ilmu dan disiplin yang baik sejak diusia sekolah. Tetapi, ada hal yang paling penting yang sering terlupakan yakni kesejahteraan guru honorernya. Mereka ini, tanpa kenal lelah mengajari anak – anak kita menjadi pintar,” ujar Emanuel Bria adalah putra daerah Malaka yang juga seorang tokoh berprestasi dibidang pendidikan.

Banyak guru honorer yang hidupnya masih jauh dari sejahtera. Hidup mereka tidak pasti arahnya. Upah yang harusnya menjadi tumpuan hidup mereka, jauh dari harapan. Menurut pengakuan mereka, upah mereka tergantung pencairan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang juga tak menentu pencairannya. Untungnya, hampir semua dari mereka memiliki kebun jagung untuk bisa bertahan hidup bersama keluarga.

Di kecamatan Weliman, ada guru SDN Beistaek bernama Ernalinda Yosefa Ade Bria. Dia mengaku sudah mengajar dan masih honor di SDN Beistaek ini sejak tahun 2011 hingga sekarang. Kepada tim media, Ernalinda menyampaikan bahwa dia dan beberapa temannya sudah tidak menerima upah sejak tahun 2018.
” Kepala sekolah sudah tidak adakan rapat bersama guru. Saya dan beberapa teman lainnya sudah 2 tahun tidak terima gaji. Kami pasrah saja, karena pada prinsipnya, semua demi anak – anak didik kita. Tapi kami mohon, setidaknya Pemda Malaka memperhatikan nasib kami,” ujar Ernalinda setelah menerima Sembako dari FMB.

Terpisah, di Desa Rabasa Hain, Kecamatan Malaka Barat, ada Yani Yovita Seran. Guru honorer yang mengajar di SDK Rabasa Hain dari tahun 2006 hingga sekarang ini juga nasibnya tidak jauh beda dengan Ernalinda Yosefa Adi Bria. Dia juga mengaku menerima upah yang sangat minim dan tidak bisa dijadikan sandaran hidup yang pasti. Harapannya ada pada pencairan dana BOS yang menurutnya kadang tidak tepat waktu.
” Biasanya per 3 bulan. Tapi kadang bisa lebih, bahkan sampai 6 bulan macetnya. Artinya selama itu, kami setengah mati hidupnya,” ungkapnya saat ditemui pada Minggu (03/05/2020). Ernalinda juga penerima sembako dari relawan FMB.

Di Desa RabasaBiris, Silvester Seran, guru SMA 17 Agustus Woee itu sudah belasan tahun menjadi guru honorer sekolah. Silvester Seran yang nampak sudah tua dengan rambutnya yang beruban ini sudah dari tahun 2005 menjadi guru honorer di SMA 17 Agustus Weoe.Ia mengalami keadaan yang tidak jauh beda dengan guru honorer di Kabupaten Malaka. Silvester Seran mengaku sudah pasrah. “Sudah dari tahun 2005 saya mengajar di sana. Nasib menjadi guru honorer ya seperti itu. Tapi karena cinta akan profesi ini, saya tetap semangat mengajar,” katanya dalam nada tenang.

Para guru honorer ini mengaku simpati dengan aksi FMB besutan bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati, Emanuel Bria dan Roy Tei Seran. Kata mereka, FMB datang memberi harapan hidup yang baru. Sedikit bingkisan di Hari Pendidikan Nasional ini menurut mereka adalah bukti kepedulian yang luar biasa dari tokoh muda yang peduli dengan kesejahteraan hidup para guru honorer. [kt/tim]

Comments
Loading...