Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Covid-19 dan Imunitas Diri Menuju NTT Bangkit NTT Sejahtera

0 325

KORANTIMOR.COM – KUPANG – Pandemi virus corona atau covid-19 sejak awal munculnya (yang disinyalir bermula  dari Wuhan-Cina, red) hingga saat ini telah membunuh ratusan ribu jiwa penduduk dunia. Diperkirakan dari 209 negara terpapar covid-19, ada 2.340.539 kasus positif covid-19 dimana dari jumlah ini ada 160.896 jiwa meninggal dunia dan 600.703 orang dinyatakan sembuh. Sementara pasien yang dirawat dan diisolasi saat ini berjumlah kurang lebih 1.579.940 orang dan 55.270 pasien diantaranya dinyatakan dalam kondisi kritis. Di Indonesia sendiri tercatat ada 6.575 kasus positif corona, yang meninggal 582 orang dimana DKI Jakarta masih menempati urutan pertama dengan jumlah 3.032 kasus positif corona, 234 orang sembuh dan 287 orang meninggal (tirto.id, 24/3/2020).

Provinsi Nusa Tenggara Timur Hingga Sabtu (25/4/2020) jumlah OTG 227 orang; OTG saat ini sebanyak 199 orang; OTG selesai dipantau 28 orang. Jumlah ODP, PDP dan konfirmasi sebanyak 1.645 orang. ODP sebanyak 1.591 orang; selesai masa pemantauan 981 orang; yang dirawat 14 orang. Karantina mandiri sebanyak  549 orang, karantina terpusat 46 orang, kondisi saat ini 609 orang. PDP sebanyak 12 orang. Sampel yang dikirim sebanyak 75; 1 sembuh;  51 sampel negatif dan 23 sampel belum ada hasil. (sumber: satuan gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Provinsi NTT, 25/4/2020).

Gugus Tugas Percepatan Covid-19

Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 NTT sejak terbentuknya telah menunjukkan kerja cerdas dengan menginstruksikan masyarakat tinggal di rumah (stay home), dilarang berkumpul (social distancing) atau menciptakan kerumunan, wajib menjaga jarak (physical distancing) dan menggunakan masker ketika keluar rumah atau berada di tempat publik, menempatkan washtafel di setiap rumah dan di tempat-tempat umum, dan mencuci tangan sesering mungkin, penyemprotan disinfektan, dsb.

Dari kiri: Juru Bicara satuan gugus tugas percepatan penanganan covid-19 NTT, Dr.  Jelamu Ardu Marius, M.Si, Kadis Kesehatan Provinsi NTT, Dr. drg. Domi Minggu Mere, M.Kes, Kadis Perhubungan NTT, Isyak Nuka.

Selain itu, untuk mencegah dampak (baik sosial maupun ekonomi) dari berbagai kebijakan tersebut, elemen Satuan Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 telah merumuskan berbagai kebijakan strategis, beberapa diantaranya seperti; alokasi anggaran daerah untuk fokus penanganan covid-19. Pemerintah pusat juga mengeluarkan kebijakan alokasi dana desa untuk membantu masyarakat yang terdampak covid-19. Semua kebijakan dan ketentuan tersebut bertujuan menjaga dan melindungi masyarakat dari penyebaran virus covid-19 dan dampaknya.

Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanangan Covid-19 telah konsisten menerapkan dan mengontrol kebijakan protokol kesehatan terhadap masyarakatnya. Hasilnya juga signifikan yakni hingga saat ini NTT masih dinyatakan kembali zona hijau  atau bebas covid-19 setelah pasien 01 positif corona dinyatakan sembuh pasca hasil pemeriksaan Swab II. Ini tentu prestasi yang menggembirakan dan membanggakan bagi kita masyarakat NTT.

Terhadap prestasi  ini masyarakat perlu memberi apresiasi dan dukungan kepada Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 NTT yang sudah bekerja maksimal dan ekstra serta masif dan sistematis menjaga masyarakat NTT dari penularan covid-19.

Pertama, Masyarakat NTT perlu mengapresiasi kinerja Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 NTT karena pengorbanan mereka untuk bekerja overtime di luar rumah demi menjaga masyarakat terhindar dari covid-19 ketika semua orang mengamankan diri di rumah menghindari covid-19.

Masyarakat juga perlu mendukung kerja Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 karena mereka (misalnya tenaga medis) bertaruh nyawa di ‘medan pertempuran’ (rumah sakit dan area publik lain) untuk merawat yang sakit maupun menjaga masyarakat tetap terhindar dari covid-19.

Kedua, bentuk lain dari dukungan terhadap kerja pemerintah, masyarakat perlu taat mengikuti  semua anjuran pemerintah (satuan gugus tugas, red) yakni stay home, jaga jarak, dilarang berkumpul dan menciptakan kerumunan, pakai masker, rajin cuci tangan. Lebih dari itu masyarakat  perlu dengan iklas hati megikuti semua kebijakan tersebut demi kebaikan bersama (bonum communae).

Ketiga, semua anjuran pemerintah terkait social distancing, physical distancing, kewajiban menggunakan masker, mencuci tangan, penyemprotan disinfektan, dsb merupakan wujud upaya pencegahan masuknya covid-19 ke dalam tubuh. Lebih dari itu masyarakat (=individu) perlu menolong pemerintah dan diri sendiri serta orang lain dengan mencegah virus itu dari dalam diri yakni dengan membangun sistem imunitas diri.

Sistem Imunitas Diri

Fakta membuktikan bahwa rata-rata pasien meninggal akibat Covid-19 berada di rentang usia 45 hingga 65 tahun ke atas (cnn.com/24/3/2020). Sebabnya antara lain menurunnya sistem imunitas tubuh karena faktor lanjut usia dan berkurangnya proses regenerasi sel. Selain itu pasien covid-19 juga memiliki riwayat sakit kronis sebelumnya. Artinya siapa saja orang itu; entah tua atau muda berpotensi menjadi victim covid-19 jika memiliki riwayat sakit kronis dan memiliki sistem imun tubuh yang lemah.

Dengan demikian jelas bahwa sistem imun tubuh seseorang turut menentukan cepat lambatnya orang itu terpapar virus Corona dan hal ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Pertanyaannya ialah apakah imunitas tubuh saja cukup bagi seseorang untuk terhindar dari covid-19? Tentu tidak! Manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dari itu yakni Sistem Imunitas Diri.

The LPTK’s Healthy Behaviour Relationship Theory  (Wutun et.al, 2015) menawarkan sebuah solusi unik yakni membangun sistem imunitas diri. Sistem Imunitas Diri yang dimaksud mencakup imunitas tubuh dan imunitas jiwa. Imunitas tubuh sebagaimana pemahaman konfensional fokus treatmennya hanya pada tubuh dengan dasar pandangan bahwa tubuh manusia memiliki sejumlah komposit zat dalam jumlah dan takaran tertentu (karbohidrad, protein, gula, dan sebagainya). Kekurangan atau kelebihan komposit tersebut disinyalir dapat melemahkan imunitas tubuh seseorang dan menyebabkan orang itu sakit. Sementara bagi the LPTK’s Healthy Behaviour Relationship Theory, manusia itu lebih dari sekadar takaran kompositum zat material biologis. Manusia memiliki jiwa yang menentukan  existensi tubuh dan manusia juga memiliki imunitas  jiwa. Baik imunitas tubuh maupun imunitas jiwa terikat dalam beneficiary relation; baik vertikal (diri dengan Yang Ilahi) maupun horisontal (diri dengan orang lain/sesama, alam semesta, dan diri sendiri).

Sistem Imunitas Diri seorang individu dibentuk dari kualitas relasinya dengan semua elemen yang menggitarinya; dengan orang lain/sesama, alam semesta, diri sendiri dan diri dengan  Yang Ilahi. Relasi dengan alam semesta berkaitan dengan sumber dari mana makanan/minuman manusia berasal. Misalnya seperti jenis-jenis pangan lokal sesuai kondisi alam dimana orang NTT itu hidup (nasi, jagung, kacang-kacangan, ubi-ubian, marungga/kelor, pepaya baik daun, bunga maupun buah, dan jenis pangan lokal lainnya, red). Relasi dengan diri sendiri berkaitan dengan sikap dan tindakan bijak terhadap diri sendiri, terutama pilihan makanan/minuman sesuai kebutuhan tubuh atau sesuai kondisi genetik tubuh. Relasi dengan orang lain/sesama berkaitan dengan sikap dan tindakan diri terhadap orang lain/sesama yakni mengasihi dan menghormati orang selain serta memberi dengan tulus iklas. Sedangkan relasi dengan Yang Ilahi  berkaitan dengan sikap seseorang dengan Allah sebagai sumber segala kehidupan dan darimana jiwa itu berasal.

Dalam konteks relasi dimaksud, jiwa merupakan terminal relasi. Dengan demikian, sehat tidaknya seseorang (invidu) tergantung pada relasi dirinya dengan alam semesta, diri sendiri, orang lain/sesama, dan dengan Yang Ilahi. Semua terangkum dalam satu semangat yakni you are what you eat and what you do (anda adalah apa yang ada makan/minum dan apa yang dilakukan). Singkatnya sehat tidaknya seseorang ditentukan oleh apa yang dimakan/diminum dan apa yang dilakukan.

Jiwa memungkinkan individu dapat selektif terhadap makanan/minuman sesuai kebutuhan atau keunikan tubuh. Ini terbaca melalui reaksi tubuh terhadap makanan/minuman yang dimakan/diminum. Jika kesehatan tubuh tidak terganggu, itu indikasi makanan/minuman yang dikonsumsi aman untuk tubuh. Sebaliknya jika kesehatan tubuh terganggu, maka itu indikasi makanan/minuman yang dikonsumsi tidak cocok dengan kebutuhan tubuh. Sehat juga lahir dari semangat kebajikan, misalnya melalui sukacita dan ketulusan hati memberi bahkan bila perlu dengan senyum dan tawa serta tidak suka marah-marah dan irih hati atau dendam.

What we eat berhubungan dengan asupan makanan dan minùman yang berfungsi menguatkan dan meningkatkan nutrisi tubuh pada satu sisi. Pada sisi yang lain, what we do berkaitan dengan tindakan, sikap atau perbuatan yakni kebaikan hidup sebagai nutrisi jiwa. Nutrisi tubuh datang dari luar diri masuk ke dalam diri. Sementara nutrisi jiwa yakni  kebaikan atau tindakan kebaikan datang dari dalam diri ke luar diri.

Singkatnya imunitas diri dibentuk dari nutrisi tubuh dan nutrisi jiwa. Dengan demikian, supaya sehat, seseorang dianjurkan makan dan minum sesuai kebutuhan tubuh dan banyak melakukan kebajikan atau kebaikan. Termasuk didalamnya taat mengikuti hal-hal baik dan positif yang dianjurkan satuan gugus tugas percepatan penanganan covid-19 agar terhindar dari covid-19.

Ketika masyarakat memiliki sistem imunitas diri yang baik, individu atau masyarakat tidak mudah sakit atau terpapar virus. Masyarakat hidup aman dan nyaman serta bersukacita dan beraktifitas secara baik bahkan lebih menikmati hidup dengan sebaik-baiknya.

Menuju NTT Bangkit NTT Sejahtera

Masyarakat NTT harus terus bangkit dan sejahtera sesuai visi cita-cita besar Pembangunan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang sedang dikerjakan Viktori-Joss yakni “NTT Bangkit, NTT Sejahtera” sekalipun secara global dan nasional serta daerah  kita sedang dilanda wabah pandemi Covid-19. Karena sesuai poin keempat misi NTT Bangkit NTT Sejahtera yakni Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan masyarakat NTT seutuhnya. Oleh karena itu penguatan imunitas diri masyarakat NTT menjadi suatu keharusan bersama; baik pemerintah maupun masyarakat.

Konsep Imunitas Diri dimaksud juga relevan dengan program pemerintah bahkan menunjang dan mendorong Pemerintah Daerah Provinsi NTT mengimplementasikan dan mewujudkan Visi NTT Bangkit NTT Sejahtera, khususnya misi membangun pendidikan dan kesehatan masyarakat NTT.

Pertama, dari aspek fisiologis/biologis, karena konsep imunitas diri berkaitan dengan makanan/minuman asli pembentuk kondisi genetik seorang individu (= dasar imunitas tubuh). Disadari atau tidak, konsep imunitas diri membantu Pemerintah NTT mengajak masyarakatnya kembali ke pangan aslinya yakni pangan lokal darimana individu itu dibesarkan. Misalnya jagung, kacang-kacangan, kelor, pepaya (baik daun, bunga maupun buah), gula air, moke/sopi, dsb. Poin ini relevan dengan program Pemerintahan VBL-JN hari ini tentang budidaya jagung, kelor, sophia, garam, yang tentunya ini juga turut menunjang sektor parawisata.

Gubernur NTT, Viktor Laiskodat Saat Panen Raya Jagung di Kecamatan Amabi Oefeto (2/4/2020),

Kedua, dari aspek sosiologis,  karena imunitas diri juga berkaitan dengan relasi sosial yakni sikap dan tindakan seseorang terhadap orang lain atau sesama, maka kerjasama dan solidaritas atau kepedulian atas dasar kebaikan menjadi kata kunci membangun derajat kesehatan masyarakat menuju NTT Bangkit NTT Sejahtera. Khususnya dalam situasi pandemi covid-19 untuk mencegah masyarakat dari penyebaran covid-19.

Ketiga, dari aspek psikologis, imunitas diri turut dibentuk oleh kondisi psikis/kejiwaan seorang individu yakni sukacita, kegembiraan, percaya diri, kebanggaan, maka hal ini sesungguhnya membantu masyarakat NTT untuk terus memupuk rasa percaya diri, sukacita dan kegembiraan serta kebanggaan sebagai orang NTT dan berpartisipasi dalam membangun daerah ini menuju NTT Bangkit NTT Sejahtera.

Keempat, dari aspek spiritual, karena imunitas diri juga berkaitan dengan kualitas relasi individu dengan Yang Ilahi, maka kerjasama pemerintah dan agama-agama serta toleransi antar agama di NTT menjadi kekayaan NTT untuk bersama-sama menjaga masyarakat aman dari penyebaran covid-19 dan membangun NTT menuju NTT Bangkit NTT Sejahtera.

Tanggungjawab Bersama

Perang melawan covid-19 bukan semata-mata tugas sektoral Pemerintah; baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, bukan juga semata-mata tugas Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, melainkan tugas bersama semua elemen masyarakat, termasuk pihak agama dan pers/media.

Pertama, para pemimpin agama dalam situasi darurat kesehatan akibat covid-19 ini, perlu secara terus-menerus melayani kebutuhan spiritual jemaat/umat (dengan mendayagunakan medsos dan media daring) melalui khotbah dan nasehat yang menciptakan sukacita atau kegembiraan dan menguatkan iman serta semangat hidup jemaat/umat. Peranan pemimpin agama dalam situasi ini akan turut meredam rasa takut dan cemas serta rasa panik di masyarakat terkait covid-19.

Kedua, penguatan sektor pertanian, khususnya pertanian organik terpadu sebagai basis suply pangan masyarakat di tengah situasi pandemi covid-19 yang berdampak sosial dan ekonomi. Masyarakat perlu didukung dengan bibit tanaman pangan (=horti sayur dan buah serta tanaman karbohidrad seperti jagung, ubi-ubian dan pisang) dan pendamping lapangan agar membimbing masyarakat pada produksi pangan yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, petugas lapangan bidang pertanian perlu tinggal di desa dan mendampingi langsung petani, mulai dari pengolahan lahan hingga penanaman dan perawatan serta panen dan pasca panen. Dengan demikian kebutuhan masyarakat akan pangan atau sembako tetap terjawab dan imun tubuh tetap terjaga.

Ketiga, dunia medis tetap fokus pada tugas dan tanggungjawab penanganan medis dengan tetap terbuka pada kontribusi disiplin ilmu lain seperti psikologi dan dukungan ahli spiritual berkompeten mengingat manusia lebih dari sekedar komposit fisik biolgis yakni makluk berjiwa dan berKetuhanan Yang Maha Esa. Lebih dari itu urusan kesehatan manusia bukan semata-mata tugas sektoral pihak medis.

Keempat, pers atau media perlu memainkan peranan penting memperkuat imunitas diri masyarakat ditengah situasi pandemi covid-19 dengan menyuguhkan pemberitaan-pemberitaan yang membangun optimisme masyarakat. Dengan demikian pers turut memperkuat imunitas diri masyarakat sehingga tidak mudah panik atau terprofokasi dalam situasi darurat covid-19.

Kelima, pemerintah telah mengalokasikan Dana Pusat (APBN) dan Daerah (APBD) untuk pencegahan covid-19 dan membantu masyarakat terdampak covid-19; baik itu melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT), pangan atau sembako. Bahkan Lembaga Sosial dan atau Lembaga Non Pemerintahan pun ikut mulai turun tangan melakukan aksi peduli terhadap masyarakat terdampak covid-19.

Keenam, semua orang dipanggil untuk berkontribusi atau berbagi dengan mereka yang dalam situasi membutuhkan ketika persoalan covid-19 sedang mendampaki  ribuan bahkan jutaan penduduk NTT hari ini. Alter ego amicus est (Emanuel Levinas), yang lain adalah bagian dari diriku. Dalam situasi dimana masyarakat terdampak covid-19 hari ini, semua masyarakat NTT (khususnya yang berkelebihan,red) disaat yang sama digugah untuk solider dengan yang lain sebagai saudara sebumi. Terutama dengan saling berbagi dengan mereka yang terbatas atau yang berkekurangan dalam bentuk dan ukuran apapun. Dengan demikian mimpi kita bersama menuju NTT Bangkit NTT Sejahtera tetap dapat dikerjakan dan diwujudkan. (Advertorial Kerjasama Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT dengan KORANTIMOR.COM)

Comments
Loading...