Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Nahas Menimpa PT. Agogo: di PHK Karena Tak Mampu Selesaikan 2 Proyek Rp 33 M

0 110

KORANTIMOR.COM – ENDE – PT. Agogo Golden Group (AGG) bernasip nahas (naas) alias sial. Perusahaan Kontraktor di daratan Flores itu di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional X Kupang, Satker Pelaksanaan Jalan Nasional IV NTT karena tidak mampu menyelesaikan 2 proyek Peningkatan Jalan Nasional Trans Flores dengan total nilai sekitar Rp 33 Milyar.

Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Pelaksana Jalan Nasional Wilayah IV Provinsi NTT, Achmad Trunajaya

Demikian dikatakan Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Pelaksana Jalan Nasional Wilayah IV Provinsi NTT, Achmad Trunajaya yang dikonfirmasi media ini pekan lalu di Ende. Menurut Trunajaya, pihaknya telah melakukan PHK terhadap PT. Agogo Golden Group karena tak mampu menyelesaikan pekerjaan Peningkatan Jalan Nasional, ruas Ende-Detusoko, Detusoko-Wologai Rp 15 Milyar dan ruas Gako-Aegela Rp 18 Milyar hingga batas akhir pemberian kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan selama 90 hari kalender.

“PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) telah melakukan PHK terhadap PT. Agogo pada akhir masa pemberian kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan selama 90 hari sesuai PMK 243 2015, yakni pada tanggal 30 Maret 2020. Perusahaan itu di PHK pada kedua proyek, baik ruas Ende-Detusoko, Detusoko-Wologai dan ruas Gako-Aegela,” ujar Trunajaya.

Ia menjelaskan, dari 9 (sembilan) proyek yang ditangani Satker Pelaksana Jalan Nasional Wilayah IV pada tahun 2019, sebanyak 7 proyek dapat diselesaikan oleh kontraktor pelaksana. “Hanya 2 proyek yang dikerjakan PT. Agogo yang tidak selesai makanya dilakukan PHK,” tandas Trunajaya.

Karena telah di PHK, jelas Trunajaya, pihaknya sedang melakukan pemeriksaan dan perhitungan volume pekerjaan terhadap 2 proyek tersebut. “Kami sedang melakukan pemeriksaan dan perhitungan terhadap volume dan kualitas fisik proyek yang telah dikerjakan oleh kontraktor,” ungkapnya.

PHK terhadap PT. Agogo Golden Group tersebut, papar Trunajaya, sesuai dengan arahan Direktur Pengembangan Jaringan Jalan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR, Rachman Arief, Dienaputra, M. Eng Nomor PR.0201-BP/0411, tertanggal 20 Maret 2020, Perihal : Penyelesaian Lanjutan Sisa Pekerjaan Kontrak Tahunan Proyek SBSN TA. 2019 kepada Kepala Balai Besar/Balai Pelaksanaan Jalan Nasional I s/d XXII.

“Pada butir e dikatakan, apabila terdapat lanjutan sisa pekerjaan kontrak tahunan proyek SBSN yang tidak selesai sampai dengan berakhirnya batas waktu sebagaimana dimaksud pada butir a (paling lambat 90 hari kalender), maka pelaksanaan pekerjaan dihentikan dan tidak dapat dilanjutkan lagi, serta pembayarannya hanya dapat dilakukan sesuai dengan prestasi pekerjaan sampai dengan batas waktu tersebut,” kata Trunajaya.

Pembayaran yang dilakukan, lanjutnya, harus sudah memperhitungkan pengenaan sanksi denda keterlambatan kepada penyedia dan seluruh kewajiban lainnya yang harus dipenuhi. “Selain itu, kepada penyedia juga harus dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundangan di bidang pengadaan barang/jasa pemerintah,” tegas Trunajaya.

Seperti diberitakan sebelumnya, PT. Agogo Golden Group tak mampu menyelesaikan proyek Peningkatan Jalan Nasional, ruas Ende-Detusoko, Detusoko-Wologai Rp 15 Milyar dan ruas Gako-Aegela Rp 18 Milyar hingga batas akhir pemberian kesempatan penyelesaian pekerjaan selama 90 hari kalender pada tanggal 30 Maret 2020.

Pantauan Tim Media ini pada pertengahan Maret 2020, realisasi fisik ruas Ende-Detusoko, Detusoko-Wologai hanya sekitar 20 persen. Diduga urukan pilihan yang digunakan PT. Agogo Golden Group berupa batu gunung pada ruas jalan tersebut berasal dari tambang ilegal karena Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT. Agogo Golden Group di Nangapanda, Ende berupa kerikil kali. Hal ini bertentangan dengan arahan Dirjen Bina Marga yang mengharuskan material untuk pekerjaan jalan berasal dari tambang yang memiliki IUP.

Sementara itu di ruas Gako-Aegela, diduga PT. Agogo Golden Group melaksanakan pekerjaan tidak sesuai spesifikasi teknis (spek) karena menggunakan kerikil kali Nangapanda (Urpil berupa kerikil bulat dengan besaran tak beraturan, bercampur pasir dan lumpur, red) sebagai lapisan penyanggah badan jalan. Padahal sesuai spek, harus menggunakan agregat B dan A pada ruas jalan nasional tersebut.

Selain itu, pekerjaan hotmix pada ruas jalan Gako-Aegela juga diduga tidak sesuai Spek karena kontraktor tidak menggunakan lapisan aspal base (AC-BC). Seperti disaksikan Tim Media ini, kontraktor menimbun kerikil kali/bulat bercampur pasir dan lumpur (pada badan jalan yang dilebarkan, red) hingga setinggi badan jalan utama. Kemudian kontraktor menyiram air dengan selang dan menggilasnya dengan vibrator sehingga lumpur bercampur air dari urukan material yang tak sesuai Spek tersebut menggenangi badan jalan.

Setelah kering, kontraktor langsung menyiram aspal perekat dan melakukan pekerjaan hotmix berupa lapisan AC-WC (tanpa lapisan AC-BC, red). Akibat penggunaan material yang tak sesuai Spek dan pekerjaan hotmix yang tak menggunakan lapisan AC-BC tersebut, sehari setelah dikerjakan banyak titik di sepanjang ruas jalan tersebut yang pecah, amblas dan hancur. Kerusakan tersebut terus terjadi seiring bertambahnya waktu hingga saat ini. (kt/tim)

Comments
Loading...