Edukatif, Investigatif, Faktual, Berimbang

Atasi ‘WC Terbang’, LSM CIRMA Beri Bantuan WC Sehat Bagi Warga Desa Tanah Merah

0 74

KORANTIMOR.COMKUPANGLSM CIRMA [Centrum Masyarakat Mandiri] mitra Celavip-Cili luncurkan program “Healthy Latrine Project” bagi 98 KK Warga Indonesia ex Provinsi Timor-Timur [=sekarang Negara Republik Demokratik Timor Leste] di Lokasi Resetlemen Dusun IV Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah-Kabupaten Kupang pada Selasa [4/2/2020]. Masyarakat gembira sebab setelah 14 tahun sejak tahun 2006 mereka hidup di Resetlemen tanpa WC+Kamar Mandi Sehat, hari ini mereka  mendapat ‘Healthy Latrine Project’ dari CIRMA sekaligus menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan WC+Kamar Mandi Sehat bagi setiap keluarga.

Peletakan batu pertama pembangunan WC Kamar Mandi Warga Dusun IV Desa Tanah Merah oleh Sekcam Kupang Tengah Didampingi Direktur Cirma Indonesia, John Ladjar

Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Cirma Indonesia, John Ladjar dan sejumlah staf Cirma. Selain itu juga hadir Sekcam Kecamatan Kupang Tengah, Mantan Kades Tanah Merah, Kaur Pembangunan Desa Tanah Merah, Satpol PP dan pers.

Sebelumnya, CIRMA mencatat ada 98 KK tidak memiliki WC+Kamar Mandi sehat dan 78 KK diantaranya menggunakan WC Kamar Mandi darurat yang terbuat dari bahan lokal [dinding dari pelepah gewang dan beratap daun gewang] dengan kondisi yang sudah tidak layak pakai dan jauh dari standar kesehatan. Sementara 20 KK diantaranya sama sekali tidak memiliki WC+Kamar mandi.

Tim media yang menghadiri langsung kegiatan tersebut di lokasi resetlemen menemukan fakta sebagaimana penjelasan Direktur CIRMA. Diantaranya seperti; sebagian besar WC Kamar mandi warga resetlemen dalam kondisi rusak parah; dinding WC+Kamar Mandi dari bebak mulai runtuh terurai dengan lubang mengaga lebar, tanpa atap atas, closed alakadarnya bahkan pecah-pecah, sebagian lagi hanya ditutupi sehelai kain dimana ternak seperti babi dan anjing serta ayam bisa keluar masuk.

Kondisi WC Kamar Mandi Warga Resetlemen Dusun IV Desa Tanah Merah

Visenti Pinto, salah satu warga masyarakat dusun IV yang juga salah satu penerima benefit program tersebut ketika ditanyai dimana mereka buang air besar selama ini?, menjawab ‘di hutan.’
“Selama ini kami buang air besar di hutan saja pak.” Ujar Vicenti dengan wajah memerah.

Ada juga warga yang menjawab ‘selama ini buang air besar di plastik lalu buang.’ Di komplek tersebut, kebiasaan ini dikenal dengan istilah ‘WC terbang’. ‘WC terbang’ istilah buang air besar di kantong plastik, lalu dibuang/dilemparkan ke sembarang tempat, termasuk ke jalan raya ketika ada kendaraan lewat. Diungkapkan warga bahwa sering tindakan itu merupakan bentuk protes warga terhadap pemerintah yang kurang memperhatikan kondisi mereka.

“Namun hari ini kami senang dan berterima kasih karena hadirnya Lembaga CIRMA dengan program Healthy Latrine Project di desa kami yang menjawab salah satu kebutuhan kami di lingkungan ini.” Ujar seorang Ibu yang menolak namanya disebutkan, yang juga peserta kegiatan tersebut.

Mewakili Pemerintah Kecamatan Kupang Tengah, Sekcam Kupang Tengah, menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Lembaga Cirma yang dengan visinya yang sederhana ‘small initiatif big impact,’ melakukan hal-hal kecil dan sederhana tetapi berdampak besar bagi masyarakat.

“Pemerintah Daerah juga punya program relevan dengan Healthy Latrine Project yakni seperti Sanitasi Total Berbasis Masyarakat [STBM]. Termasuk di dalamnya program WC Sehat. WC sehat penting untuk mendukung lingkugan yang sehat dan kesehatan keluarga.” Tandas Sekcam.

Buang Air Besar [BAB] di sembarang tempat, lanjut Sekcam, juga salah satu faktor penyebab stunting karena lalat dari kotoran yang dibuang sembarang hinggap dimakanan. Lalu makanan yang dihinggapi lalat lanjut dikonsumsi anak-anak, dampaknya anak bisa kurang sehat bahkan hingga bisa stunting.

Sekcam yang biasa disapa ibu Yenny itu juga berharap mudah-mudahan kedepan ada program air bersih bagi masyarakat di Tanah Merah oleh Lembaga Cirma.

Sementara itu Direktur Cirma Indonesia, John Ladjar, pada kesempatan bicaranya sebelum peletakan batu pertama menjelaskan bahwa Cirma merupakan lembaga sosial yang baru lahir ditahun 2018. Tetapi Cirma melalui karya-karyanya yang kecil dan sederhana mengharapkan dampak besar dan jangka panjang sesuai spirit SDGs khususnya SDGs ke-6 yakni memastikan ketersediaan dan keberlanjutan ketersediaan air dan sanitasi bagi semua.

“Program ‘Healthy Latrine Project’ hari ini sudah masuk dalam poin SDGs ke-6 untuk 98 KK di dusun Resetlemen IV Desa Tanah Merah.” Ungkapnya sambil tersenyum lebar.

Direktur Cirma itu menjelaskan bahwa WC masuk dalam ukuran menentukan seseorang sehat atau tidak. Cirma hanya merupakan jembatan bagi sesama untuk membantu mereka mengakses hidup yang lebih baik. Oleh karena itu kedepan Cirma masih tetap menjadi jembatan bagi masyarakat.

Lebih lanjut John Ladjar mengungkapkan bahwa Cirma saat ini sedang membangun jaringan kemitraan dengan AUSAID untuk program air bersih bagi masyarakat Tanah Merah. “Mohon dukungan bapak ibu semua.” Pintahnya.

Baginya, Cirma butuh mitra dan Cirma tidak bisa bekerja sendiri. Untuk program ini [Healthy Latrine Project], Cirma bermitra dengan sebuah LSM Internasional yang berpusat di Cili Amerika Latin bernama Celavip yang membiayai berbagai program kemanusiaan di dunia.Termasuk program Healthy Latrine atau bantuan WC Sehat bagi Warga Resetlemen Dusun IV Desa Tanah Merah.

Mengakhiri pembicaraannya, John Ladjar mengharapkan masyarakat dusun IV desa Tanah Merah menyelesaikan kerja pembangunan WC+Kamar Mandi mereka tepat waktu hingga batas tanggal 31 Agustus 2020. Untuk itu Ia juga mengharuskan strategi kerja gotong royong atau kerja bersama untuk ketepatan waktu penyelesaian program dan keberhasilan program.

Selain WC dan Kamar Mandi, masyarakat penerima manfaat program dusun IV desa Tanah Merah berharap kedepan ada program rumah sehat bagi warga lokasi resetlemen karena ditemukan ada 3 hingga 4 KK tinggal serumah di rumah berukuran 4x6m dengan kondisi hampir roboh.

Selain itu diharapkan adanya program sumur bor kedepan di lingkungan resetlemen sehingga memudahkan akses air bersih bagi masyarakat. Sebab selama ini dan sebelumnya masyarakat mengambil air jauh hingga Noelbaki dan Tarus.

“Kami juga warga Indonesia dan tinggal di desa sebagaimana desa lain. Tetapi kenapa kami jarang disentuh dana desa yang disebut-sebut besarnya sampai Rp 1,4 M itu? Tanya seorang warga setempat bernama Alexander Mau Kali.

Menanggapi kritikan tersebut, Sekcam Ranny mengajak warga resetlemen untuk aktif hadir di setiap musyawara-musyawara setempat dan menuangkan semua aspirasi mereka. Misalnya melalui musyawara dusun [Musdus] dan Musyawara Rencana Pembangunan Desa atau Musrembangdes. Semua aspirasi mereka akan dikawal sehingga Pemda bisa melihat dan petakan usulan mana bisa diakomodir; baik dari APBD II dan APBD I maupun dari APBN. [kt/tim]

Comments
Loading...